Indramayu –
Anggota Komisi V DPR RI Daniel Mutaqien Syafiuddin memastikan penanganan persoalan banjir rob di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, bisa terealisasi. Daniel mendorong agar Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bisa dikucurkan untuk pembangunan breakwater di Eretan Wetan dan Eretan Kulon.
Anggaran Rp39 miliar untuk pembangunan breakwater di Eretan Kulon dan Eretan Wetan pun telah disiapkan. Namun, Daniel tak menampik proyek yang didanai APBN itu sempat menemui kendala lantaran adanya sebagian warga meminta kompensasi. Situasi ini membuat tim teknis dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum belum bergerak. Sebab, lanjut Daniel, BBWS tak memiliki anggaran untuk membayar kompensasi atau uang kerohiman.
“Ada laporan dari tim teknis BBWS dari kementerian PU (Pekerjaan Umum), bahwa ada masyarakat yang meminta kompensasi. Ini imbas dari yang dilakukan Pak Gubernur (Gubernur Jabar) yang pada waktu lalu membagikan uang sekitar Rp10 juta (untuk kompensasi),” kata Daniel saat dihubungi, Rabu (18/2/2026)
Sekadar diketahui, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi membuat keputusan untuk memberikan kompensasi kepada warga di sekitaran Sungai Cilalanang yang melintasi Eretan Kulon dan Wetan. Nominalnya Rp 10 juta per Kepala Keluarga (KK) pada akhir tahun lalu.
Warga yang merasa tidak kebagian kompensasi itu kini menagih pada BBWS Citarum yang hendak melaksanakan proyek pembangunan breakwater. Daniel pun berinisiatif mempertemukan warga dengan BBWS Citarum agar proyek penanganan banjir rob ini bisa direalisasikan tanpa kesalahpahaman. Pertemuan digelar pada Senin (16/2/2026).
“Itu (kompensasi) tidak semuanya kebagian dan tidak by data, ini menurut sepemahaman warga yang disampaikan saat itu. Akhirnya mereka menuntut juga hal yang sama keterkaitan kompensasi Rp10 juta itu. Karena tuntutan itu, BBWS tidak bisa menjalankan proses. Padahal anggarannya sudah ada tuh, awalnya itu sekitar Rp50 miliar. Ada penghitungan ulang ada sekitar Rp39 miliar, ini yang sudah dianggarkan oleh Kemen PU untuk penanganan Eretan. Cuma tidak bisa dilaksanakan karena warga menuntut kompensasi itu,” ucap Daniel.
Daniel mengatakan warga Eretan Wetan akhirnya memahami setelah dipertemukan dengan BBWS Citarum. Daniel menjelaskan warga Eretan Wetan sepakat agar proyek breakwater itu dilanjutkan. Proyek breakwater ini akan melanjutkan pengerjaan sebelumnya yang ada di Eretan Kulon, rencananya 600 meter. Kemudian, di Eretan Wetan sekitar satu kilometer lebih.
“Jangan sampai, persoalan tuntutan kompensasi atau apapun namanya ini yang disampaikan beberapa warga membuat anggaran yang sudah disiapkan tidak terserap. Saya memberikan pengertian ke semuanya, karena soal kompensasi yang diberikan oleh Gubernur Jabar itu kan ya di luar kewenangan kita. BBWS kebingungan karena tidak memiliki anggaran untuk kerohiman atau apapun namanya,” tutur Daniel.
“Akhirnya masyarakat bisa memahami. Mereka mengerti, daripada Rp39 miliar ini tidak terserap. Karena target saya, ketika Rp39 miliar ini sudah dikucurkan, terus kemudian untuk tahun 2027 upayakan lagi yang lebih besar agar lebih tuntas penanganan banjir rob ini,” kata Daniel menambahkan.







