Pikul Cobek-Susuri Jalanan, Perjuangan Acis Cari Nafkah di Bandung baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

Bagi banyak orang, berjalan kaki sejauh 10 kilometer adalah olahraga. Namun, bagi seorang penjual cobek asongan, itu adalah risiko pekerjaan. Beban berat yang dipikul setiap hari tak ayal memaksa Acis untuk berhenti sejenak di tengah berjualan.

Terlihat dari jauh, seorang pedagang memanggul dagangannya sembari berjalan perlahan. Acis namanya. Ia membawa cobek batu berbagai ukuran untuk ditawarkan kepada orang-orang yang dilewatinya.

Acis membawa cobek yang berasal dari kampung halamannya, Padalarang. Ia berkeliling menawarkan alat penumbuk bumbu itu di sekitar Kota Bandung. Ia menggunakan kereta ekonomi Bandung Raya sebagai alat transportasi murah untuk mengantarkannya sampai ke tujuan setiap hari.

“Naik kereta dari Padalarang Rp5000, terus naik angkutan lagi sampai ke sini” ujar Acis saat ditemui baru-baru ini.

Rute yang biasanya dilewati Acis meliputi daerah sekitar Cicadas dengan berjalan kaki hingga Stasiun Kiaracondong. Bukan tanpa alasan ia memilih stasiun sebagai tujuan akhir, yakni guna kembali ke rumahnya menggunakan kereta.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Saat menjajakan dagangannya, pria berusia 48 tahun itu lebih memilih berjalan melewati gang-gang perkampungan warga dibandingkan memasuki kompleks perumahan. “Seringnya mah masuk ke kampung-kampung, ke gang. Kalau ke kompleks mah jarang yang beli, nggak ada orangnya” celetuk Acis.

Menilik kilas hidupnya, Acis telah berjualan cobek sejak keluar dari bangku sekolah dasar. Ia mengikuti temannya ke Jakarta membawa truk bermuatan cobek untuk dijual selama satu bulan penuh di sana. “20 tahunan lah kurang lebih jualan di Jakarta, terus pulang lagi ke Bandung, sampai sekarang jualan keliling kayak gini” ungkapnya.

Setiap harinya, Acis membawa sekitar 14 cobek berukuran kecil, sedang, dan besar. Selisih harga antar-ukuran dipatok Rp10.000, mulai dari Rp30.000 untuk ukuran kecil hingga Rp50.000 untuk ukuran besar.

Penjualan cobek tak menentu. Terkadang Acis berhasil menjual 5-6 buah cobek dalam sehari. “Sehari kadang 5 kadang 6, nggak tentu kadang pernah diborong pas ada yang beli di pasar” ujarnya.

Acis berjualan mulai dari pukul 08.00 WIB sampai waktu Maghrib pukul 18.00 WIB. Di tengah bulan Ramadan, ia selalu ingin untuk tetap berpuasa, namun beban berat serta panas terik matahari selalu menjadi tantangan sulit baginya.

“Awalnya mah puasa, tapi pas keliling sambil bawa berat-berat gini kadang suka kehausan. Niatnya mah pengen puasa, tapi nggak lulus” ceritanya.