Seorang pria asal Taiwan berusia 50-an tahun yang selama ini dikenal bugar dan aktif mendadak jatuh sakit parah. Ia didiagnosis mengidap penyakit ginjal stadium akhir, meski tidak memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, maupun asam urat.
Kasus ini dibagikan oleh Dr Hung Yung-hsiang, seorang ahli nefrologi di salah satu rumah sakit di Taipei, melalui unggahan di halaman Facebook pribadinya pada 4 Januari 2026.
Menurut Dr Hung, pasien dilarikan ke rumah sakit setelah tiba-tiba pingsan saat jogging pagi. Hasil pemeriksaan menunjukkan laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR) pasien turun di bawah angka 10. Kondisi tersebut menandakan gagal ginjal berat dan memerlukan penanganan segera.
Penelusuran medis kemudian mengungkap penyebab yang tidak disangka. Pria tersebut memiliki kebiasaan mengonsumsi kopi dari biji kopi berjamur dan busuk selama bertahun-tahun. Ia kerap membeli biji kopi dalam jumlah besar dengan harga diskon, lalu menyimpannya dalam waktu lama di lemari dapur.
Meski warna biji kopi telah berubah dan ditumbuhi jamur, pasien tetap menggiling dan menyeduhnya. Ia meyakini air mendidih bersuhu 100 derajat Celsius cukup untuk membunuh bakteri dan jamur berbahaya.
Dr Hung menegaskan anggapan tersebut keliru. Air mendidih tidak mampu menghancurkan okratoksin, racun jamur yang tahan panas dan baru terurai pada suhu di atas 280 derajat Celsius.
Dikutip dari VNExpress, konsumsi kopi yang terkontaminasi jamur dalam jangka panjang menyebabkan akumulasi toksin di dalam tubuh pasien. Racun tersebut secara perlahan merusak fungsi ginjal hingga mencapai tahap gagal ginjal terminal.
Sebelum kolaps, pasien sebenarnya telah mengalami sejumlah gejala. Ia mendapati urine berbusa secara terus-menerus dan pembengkakan pada pergelangan kaki. Namun, ia mengaitkan keluhan tersebut dengan aktivitas olahraga intensif yang rutin dijalaninya.
Dr Hung menyebut okratoksin sebagai ‘bom waktu’ bagi kesehatan. Berbeda dengan racun yang memicu keracunan makanan akut dan dapat dikeluarkan tubuh dalam beberapa hari, okratoksin mampu bertahan di dalam tubuh selama 35 hingga 50 hari.
Toksin ini merusak ginjal dengan memicu peradangan dan kematian sel, mengganggu metabolisme tubulus, serta menyebabkan fibrosis kronis pada jaringan ginjal. Dr Hung menggambarkan paparan okratoksin seperti menuangkan semen ke dalam sistem penyaringan air, yang dapat menyumbat dan merusak membran penyaring ginjal secara permanen.
Berkaca dari kasus tersebut, Dr Hung mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang menunjukkan tanda-tanda berjamur. Risiko ini semakin tinggi di lingkungan dengan suhu di atas 25 derajat Celsius dan tingkat kelembapan lebih dari 18,5 persen, kondisi yang ideal bagi pertumbuhan jamur.
Artikel ini telah tayang di .
