Indramayu –
Di sebuah rumah duka sederhana di Blok Bedug, Desa Segeran Kidul, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, cerita tentang Watirih perlahan terkuak. Di balik kabar tragis kematiannya di Arab Saudi, tersimpan pesan yang justru ingin mencegah orang lain mengalami nasib serupa.
Maghfuroh (29), adik almarhumah, mengenang percakapan kakaknya dengan seorang teman beberapa bulan lalu. Saat itu, sang teman berniat menyusul bekerja ke Arab Saudi dan mencari cara tercepat untuk berangkat.
“Jadi, temannya itu sempat nanya ke almarhumah kan lewat WA, nanya kalau mau ke Arab Saudi lewat apa yang cepat? Tapi kata kakak saya itu kalau mau ke luar negeri jangan lewat ilegal, yang resmi-resmi saja. Jangan kayak saya, cukup saya saja,” kata Maghfuroh menirukan percakapan Watirih dengan temannya, Minggu (8/3/2026).
Percakapan itu terjadi sekitar lima bulan sebelum kabar duka datang. Dalam obrolan tersebut, Watirih disebut sempat memperingatkan bahwa risiko kekerasan terhadap pekerja migran di Arab Saudi cukup tinggi.
Ia khawatir temannya akan menghadapi bahaya yang sama, terlebih jika berangkat melalui jalur tidak resmi, yang membuat perlindungan hukum menjadi minim.
Menurut Maghfuroh, kakaknya bahkan mengucapkan kalimat yang kini terasa seperti firasat.
“Sebelum berangkat, dia bilang ini terakhir terus sudah nggak balik lagi. Nah, balik lagi, tuh, maksudnya bagaimana, apakah memang nggak balik lagi ke rumah, atau nggak kerja ke Arab lagi setelah itu,” tutur Maghfuroh dengan nada sedih.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Pesan Watirih kepada temannya baru terungkap setelah keluarga berusaha menelusuri keberadaan Watirih yang sempat hilang kontak selama dua tahun ketika bekerja di Arab Saudi. Sayangnya, bukti percakapan yang sempat disampaikan temannya itu kini sudah tidak tersedia, lantaran fitur chat sementara yang ada di aplikasi pesan WhatsApp (WA) secara otomatis menghapusnya.
“Temannya itu masih orang Segeran juga. Cuma pas saya minta boleh nggak percakapannya di-screenshoot, kata dianya sudah hilang soalnya WA-nya ada timer pesan yang 24 jam terus hilang,” ucap Maghfuroh.
Kabar duka akhirnya datang pada 15 Februari 2026. Watirih diketahui tewas pada 9 Februari 2026 di tangan majikan perempuannya. Berdasarkan konfirmasi keluarga kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Arab Saudi di Riyadh melalui petugas pemandi jenazah, tubuh Watirih ditemukan dengan luka tusuk dan sayatan benda tajam di bagian wajah.
Kondisinya disebut sangat mengenaskan. Wajah korban bahkan sulit dikenali karena rusak parah yang diduga akibat penganiayaan. Keluarga semakin terpukul ketika mengetahui bahwa jasad Watirih sempat dibuang di samping tong sampah, di depan apartemen tempat ia bekerja.
“Kami keluarga cuma minta keadilan, berharap pelaku dihukum qisas, nyawa dibayar nyawa,” tegas Maghfuroh.
Di sisi lain, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Indramayu, Asep Kurniawan, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait kasus yang menimpa Watirih. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberangkatan ke luar negeri secara non-prosedural membawa risiko besar bagi pekerja migran.
Menurutnya, pekerja yang berangkat secara ilegal biasanya tidak melalui pelatihan, tidak memiliki perlindungan kerja yang memadai, dan identitasnya tidak tercatat secara resmi oleh negara.
“Karena ini pengiriman ke Timur Tengah, otomatis almarhumah dikirimkan secara non-prosedural. PMI berstatus ilegal ini perlindungannya terbatas. Dia hanya mendapat perlindungan sebagai warna negara Indonesia, bukan PMI,” kata Asep.
Ia pun kembali mengingatkan masyarakat agar mengikuti prosedur resmi jika ingin bekerja di luar negeri. Dengan jalur yang sah, negara dapat memberikan perlindungan apabila pekerja migran menghadapi masalah di negara tujuan.
“Sekali lagi kami mengimbau agar calon PMI untuk menempuh jalur resmi. Sehingga negara juga bisa langsung hadir apabila PMI mendapat permasalahan di luar negeri,” tutup Asep.
Kisah Watirih kini menjadi pengingat pahit bagi keluarganya, sekaligus pesan yang dulu pernah ia sampaikan: jangan sampai ada lagi yang harus mengalami nasib seperti dirinya.







