Bandung –
Siswa kelas XI SMAN 5 Bandung, Fahdly Arjasubrata (17), telah pergi untuk selamanya. Namun kenangannya akan terus membekas dalam ingatan sang ayah, Firdan Ardjasubrata, setelah almarhum dimakamkan di TPU Sirnaraga, Kota Bandung.
Fadhly meninggal dunia usai menjadi korban dugaan bentrokan antarpelajar di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Jumat (13/3) malam. Jasadnya saat itu ditemukan tergeletak di pinggir jalan dan kasus tersebut masih didalami kepolisian.
Firdan pun mengaku sudah mengikhlaskan kepergian sang anak. Meski muncul sejumlah kabar tentang penyebab kematian Fahdly, ia sudah menerima keadaan yang menjadi takdir Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam perbincangannya bersama, Firdan pun ikut mengenang momen terakhir komunikasi dengan Fahdly. Firdan nampak tegar saat mencerikan momen tersebut, meski kenangan bersama sang anak itu akan terus melekat dalam kehidupannya.
“Kami menemani Fahdly saat remaja, saat dia pergi sekolah, Fahdly nyiapin sepatunya, saya bantuin manasin motornya,” kata Firdan dalam perbincangannya bersama, Minggu (15/3/2026).
Sebelum mendapat kabar duka, Firdan terakhir berkomunikasi dengan Fahdly soal urusan pembuatan m-banking atau layanan perbankan untuk transaksi keuangan secara digital. Kebetulan, Fahdly baru menginjak usia 17 tahun pada Januari lalu, dan mendapat KTP pertamanya pada Februari 2026.
Pembuatan m-banking pun dilakukan sang anak karena selama ini Firdan kerap mengandalkan layanan dompet digital seperti Gopay. Setelah Fahdly menginjak usia 17 tahun, sang anak lalu membuat m-banking untuk keperluan keuangannya sehari-hari.
Sore sebelum kejadian, Fahdly pun izin pamit ke Firdan untuk ikut acara buka puasa bersama (Bukber) bersama teman-temannya. Namun ternyata, takdir berkata lain, dan akhirnya Fahdly meninggal dunia setelah menjadi korban dugaan bentrokan antarpelajar.
“Kebetulan saya terakhir ketemu anak saya sedang mengurus m-banking, karena di Januari itu usianya baru 17. Februari bikin KTP, selanjutnya bikin m-banking sendiri. Kenapa bikin m-banking? Karena selama ini kalau ada keperluan itu lewat Gopay terus, ‘yah, Gopay, yah’. Tapi ternyata, justru bahasa itu yang akan terus saya rindukan,” kenang Firdan.
“Karena sebelum kejadian, Fahdly ikut bikin m-banking Rp 100 ribu dan ternyata ada sisa. Dia terus bilang, ‘Yah, aku ada ada acara bukber, mau pamit,’. Yaudah saya bilang, kamu hati-hati saja, itu saja yang terakhir. Itu tuh sore,” tambahnya.
Fahdly sendiri merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Setelah jasadnya dimakamkan di TPU Sirnaraga, Firdan mengaku sudah mengikhlaskan kepergian sang anak seraya berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.
“Dan setelah saya tahu ceritanya seperti apa, ternyata SMA 5 itu ada clash sama SMA 2. Ini saya tahu dari teman-teman atau saudaranya Fadhli, ternyata SMA Favorit itu ada pertikaian. Nah ini yang bagi saya harus diselesaikan supaya ke depan tidak terulang lagi,” pungkasnya.
