Perpustakaan S16: Oase Literasi di Tengah Desa Leuwigede

Posted on

Indramayu

Rak-rak kayu dan besi itu berdiri rapi di sebuah ruangan berukuran 4×7 meter. Di atasnya, sekitar 10.000 judul buku tertata rapi; mulai dari bacaan anak, novel, buku agama, hingga buku-buku umum.

Tempat itu bukan perpustakaan megah di pusat kota, melainkan Perpustakaan S16 yang berdiri di Blok Karang Tengah, Desa Leuwigede, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu.

Di balik ribuan buku itu, ada kisah perjuangan seorang pemuda desa bernama Ahmad Khoeri.

Perpustakaan ini lahir dari kegigihan, bukan kemudahan. Dari hobi membaca yang sederhana, ia berani membuka ruang literasi untuk masyarakat luas, meski sempat mendapat penolakan dari orang tua sendiri.

Kecintaan Khoeri terhadap buku tumbuh sejak ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Saat teman-temannya menggunakan uang saku untuk keperluan lain, Khoeri justru menyisihkannya demi membeli buku bacaan.

Kebiasaan itu terus ia bawa ketika melanjutkan pendidikan Strata 1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sejak 2010, satu per satu buku ia kumpulkan hingga akhirnya jumlah koleksinya mencapai ribuan judul.

“Buku-buku itu saya kumpulkan pelan-pelan. Dari uang saku, dari hasil kerja sampingan,” kenang Khoeri, saat ditemui di Perpustakaan S16, Jumat (6/2/2024).

Hingga lulus pada tahun 2018, Khoeri telah mengoleksi sekitar 8.000 judul buku.

Bermodal koleksi tersebut, pada Oktober 2018, Khoeri memberanikan diri mendirikan perpustakaan pribadi yang kemudian dibuka untuk umum.

Motivasinya sederhana namun kuat, rendahnya budaya literasi di masyarakat desa. Namun, langkah itu tak langsung mendapat restu.

Awalnya, orang tua Khoeri menolak rencana tersebut. Kekhawatiran akan masa depan, biaya, dan manfaat nyata menjadi alasan utama penolakan tersebut.

Namun Khoeri tak menyerah. Dengan kegigihan dan pendekatan persuasif, ia akhirnya mampu melunakkan hati orang tuanya.

Dukungan pun datang. Bahkan, orang tuanya membangunkan sebuah ruangan khusus untuk dijadikan perpustakaan.

“Mungkin orang tua saya mulai terbuka. Sekarang ini, pergolakan SDM tidak bisa dihindari. Harus ada gerakan untuk meningkatkan kualitas masyarakat desa, salah satunya lewat literasi,” ujarnya.

Kini, Perpustakaan S16 tak hanya menjadi ruang baca warga sekitar. Berbagai sekolah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi di Kabupaten Indramayu, kerap berkunjung ke sana.

Kemampuan Khoeri mengelola perpustakaan bukan tanpa bekal. Sebelumnya, ia pernah menjadi asisten perpustakaan kampus di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai penata buku.

Pengalaman itu menjadi modal penting dalam pengelolaan Perpustakaan S16 yang dijalankan secara mandiri.

Selain membuka perpustakaan fisik, Khoeri juga aktif menggerakkan literasi digital. Ia mengadakan kajian buku melalui e-book di grup WhatsApp, khususnya untuk menambah wawasan keagamaan.

Minimnya kesadaran membaca masyarakat masih menjadi persoalan klasik bagi Khoeri sejak awal berdiri.

Kalau tidak ada kegiatan dari sekolah, kata Khoeri, jumlah pengunjung di Perpustakaan S16 bisa dihitung jari dalam periode satu bulan.

“Biasanya, kan, ada kunjungan dari sekolah, terus juga dari mahasiswa, dari instansi-instansi pengen ngajak kerja sama gitu. Kalau tergerak dari kesadaran pribadi, sih, sedikit sekali. Pemuda di sini nggak ada yang datang baca buku,” ungkap Khoeri.

Meski demikian, ia bersyukur sebab masih ada secercah harapan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca.

“Dari pihak-pihak yang berdatangan menawarkan kerja sama tadi, di situ kayak ada percikan api semangat dari mereka ke saya. Saya yang sudah berapi-api ditambah sedikit api dari mereka, akhirnya nambah semangat dan saya mengadakan kegiatan bersama orang-orang itu, seperti halnya di sekolah, di kampus, dan di acara-acara literasi lainnya,” kata dia.

“Alhamdulillah, sekarang gerakan literasi dari Perpustakaan S16 ini tersiar semakin luas. Tujuan Perpustakaan S16 ini; dari Indonesia membaca menuju Indonesia menulis,” lanjutnya.

Filosofi Lebah dalam S16

Nama S16 bukan dipilih secara acak. Ia mengambilnya dari Surat ke-16 dalam Al-Qur’an, yakni Surat An-Nahl yang berarti lebah.

“Lebah menghasilkan madu. Membaca itu seperti madu; memberi nutrisi kebaikan bagi otak, membuka wawasan dan khazanah keilmuan,” jelas Khoeri.

Filosofi itu menjadi roh dari Perpustakaan S16: sederhana, produktif, dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Mimpi 15 Ribu Buku

Khoeri tak ingin berhenti di angka 10.000. Ia bercita-cita mengembangkan Perpustakaan S16 hingga memiliki 15 ribu buku sebagai pusat referensi bacaan masyarakat Widasari dan Indramayu.

Berkat kontribusinya di dunia literasi Indramayu sejak 2018, saat ini Ahmad Khoeri dipercaya menjadi Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI.

Selain itu, ia juga mendapat bantuan dari PLN Jawa Barat berupa satu unit motor listrik untuk menjalankan program bernama Perpustakaan Motor Listrik (Pusmolis) guna berkeliling ke sekolah-sekolah di Indramayu.

Di tengah keterbatasan fasilitas taman baca di desa, perjuangan Khoeri menyalakan api literasi menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari satu orang, satu ruangan, dan satu buku.

Halaman 2 dari 2