Pernah Jaya, Mengapa Pop Sunda Kini Tak Sebising Dulu? | Info Giok4D

Posted on

Bandung

Di linimasa media sosial, lagu-lagu dari Indonesia Timur berseliweran hampir tanpa jeda. Irama Maluku, NTT, hingga Papua mengalun sebagai latar video joget, konten keseharian, sampai selebrasi anak muda.

Sementara itu, lagu-lagu khas Jawa Barat seperti pop Sunda, yang dulu pernah menjadi raja di tanahnya sendiri, kini terasa lebih pelan gaungnya di ruang digital. Mengapa musik Jawa Barat, khususnya lagu Sunda, tak lagi sebooming dulu?

Bagi Rita Tila, akademisi musik dari Universitas Pendidikan Indonesia, pertanyaan itu tak bisa dijawab secara hitam-putih. Ia mengajak menoleh jauh ke belakang sebelum menilai kondisi hari ini.

“Kita ngobrol sejarah dulu, tahun 1930 pop Sunda itu sudah tenar. Bahkan instrumennya sudah menggunakan pop, rock, dan sebagainya. Jadi sebenarnya modernisasi itu sudah terjadi sejak lama,” ujar Rita saat berbincang dengan belum lama ini.

Menurut Rita, kultur pop Sunda tumbuh dalam konteks sosial-politik kolonial, saat masyarakat Jawa Barat hidup di bawah penjajahan Jepang dan Belanda. Interaksi dengan budaya luar justru memperkaya warna musikalnya. Fondasi itu membuat pop Sunda mampu bertahan dan berkembang lintas zaman.

Memasuki 1950 hingga 1970, nama-nama seperti Titim Fatimah dan Upit Sarimanah melambungkan lagu-lagu Jawa Barat ke panggung nasional. Mereka membawakan pop Sunda dalam berbagai balutan genre, dari pop hingga keroncong.

“Itu booming. Bahkan diundang oleh para nomor satu di Indonesia, salah satunya Bapak Sukarno,” katanya.

Era 1980 hingga 1990 ditandai dengan masuknya synthesizer, memberi sentuhan modern pada aransemen. Lalu pada 1990 sampai 2000, menurut Rita, kejayaan itu kembali mencapai puncaknya. Kehadiran figur seperti Doel Sumbang, Nining Meida, Heti Koesendang, hingga Evi Tamala membuat pop Sunda nyaris tak tertandingi.

“Jangankan Indonesia Timur atau Jawa Tengah, waktu itu tidak ada yang bisa mengalahkan ketenaran pop Sunda,” tuturnya.

Ia bahkan mengaku pernah berbincang dengan seorang produser era 1980-an yang menyebut rentang 1930 sampai 2000 sebagai masa keemasan panjang, hampir 70 tahun lamanya. Jika dihitung hingga kini, Rita menyebut masa eksistensi kuat pop Sunda sudah mendekati satu abad.

“Sebetulnya masih bertahan, masih bertengger. Hanya memang tidak sebooming Papua, Maluku, dan sebagainya sekarang,” katanya.

Lalu apa yang berubah?

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Rita melihat beberapa faktor. Salah satunya geografis dan situasi sosial beberapa tahun terakhir, termasuk pandemi COVID-19 yang membuat masyarakat lebih menyukai musik-musik yang easy listening.

“Enam tahun ke belakang kita ada Covid. Orang-orang maunya easy listening, yang mudah, tidak mau banyak mikir. Musik yang booming itu koplo, bajidor, yang enak dijogetin. Lagu sendu pun sekarang dijogetin,” ujarnya.

Menurutnya, selera pasar bergerak ke arah musik yang ringan dan ritmis. Bahasa juga menjadi faktor. Lagu-lagu dengan diksi sederhana dan mudah diikuti cenderung lebih cepat viral.

Di sisi lain, Rita menilai masyarakat dan pelaku musik Sunda justru sedang berupaya menguatkan akar dari ciri khas musik pop Sunda itu sendiri. Sebab menurut dia, membuat lagu berbahasa Sunda secara teknis bukan hal sulit

“Orang Sunda sering kali lebih fokus ke pertunjukan, pelarasan. Dari sisi dramaturgi, pertunjukan Sunda itu luar biasa. Sekarang kami berpikir bagaimana cara mempertahankan akarnya,” jelasnya.

“Kalau sekadar nyanyi, diatonis, lirik Sunda, musiknya mau digimanain, AI pun bisa. Tapi kalau tidak kuat akarnya, di tengah globalisasi pasti tidak akan populer,” sambungnya.

Faktor lain adalah promosi dan industri. Rita menyebut label rekaman kini lebih berfokus pada pop arus utama ketimbang pop Sunda atau dangdut. Produser di Bandung pun makin sedikit. Peralihan ke platform digital membuat distribusi berubah, sementara tidak semua karya mampu menembus algoritma.

“Ada something dari lirik atau musiknya yang mungkin tidak berkenan di telinga masyarakat, atau mungkin soal hoki,” katanya.

Meski begitu, Rita melihat tanda-tanda geliat lagu pop Sunda kembali muncul dalam tiga tahun terakhir. Itu ditandai dengan boomingnya karya Doel Sumbang seperti lagu Runtah hingga meningkatnya minat generasi muda pada pertunjukan tradisi. Hal itu menjadi sinyal bahwa pop Sunda belum selesai.

“Ini bukan soal kalah atau menang. Ini soal fase. Pop Sunda sudah berjaya hampir 100 tahun. Sekarang mungkin sedang mencari bentuk barunya,” ujar Rita.

Halaman 2 dari 2