Perjuangan Arkom Menggadaikan Segalanya demi Anak Selamat

Posted on

Suasana haru menyelimuti kepulangan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kabupaten Tasikmalaya. Namun, di balik pelukan hangat pertemuan keluarga tersebut, kecemasan mendalam masih tersisa. Dari tujuh warga yang terjebak di Kamboja, baru tiga orang yang berhasil tiba di tanah air. Sementara itu, empat lainnya masih tertahan di luar negeri.

Kepala DPMPTSP dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya, Faisal Soeparianto, mengonfirmasi situasi tersebut. Pemerintah daerah dan provinsi kini tengah berpacu dengan waktu untuk mengurus administrasi kepulangan korban yang tersisa.

“Benar, tiga warga Kabupaten Tasikmalaya sudah pulang kemarin. Tersisa empat orang lagi yang masih dalam proses pemulangan,” kata Faisal kepada infoJabar, Jumat (9/1/2026).

Mereka yang masih menanti kepulangan adalah Jamal, Indra, Dodi, dan Taopik. Kabar baiknya, jadwal kepulangan mereka telah ditetapkan oleh otoritas terkait. “Empat orang tersebut rencananya akan dipulangkan pada Selasa, 12 Januari 2026,” ujar Faisal.

Namun bagi keluarga yang menanti, setiap info terasa menyiksa. Arkom (60), ayah dari Jamal, tak kuasa membendung air matanya. Rasa waswas menghantuinya siang dan malam. Demi memeluk kembali sang buah hati, ia rela melakukan apa saja, termasuk berutang hingga menjual satu-satunya harta benda miliknya.

“Saya meminta bantuan pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi, agar anak saya bisa pulang. Saya berusaha mengumpulkan uang dengan meminjam dari tetangga, bahkan menjual ternak. Uang itu rencananya akan saya kirim untuk biaya pengurusan di sana,” tutur Arkom.

Kondisi berbeda dirasakan Agam, salah satu korban yang telah berhasil pulang. Disambut isak tangis bahagia keluarga di Desa Cikupa, Agam menceritakan pahitnya janji manis agen penyalur kerja yang ternyata palsu. Berniat bekerja di Thailand, ia justru “dibuang” ke Kamboja dengan kondisi kerja yang tak manusiawi.

“Saya bersyukur bisa berkumpul lagi dengan orang tua. Kami dibohongi di sana. Ada pengurangan upah setiap sepuluh hari,” ungkap Agam mengenang penderitaannya.

Kini, meski sudah aman di kampung halaman, hati Agam belum sepenuhnya tenang karena memikirkan nasib rekan-rekannya yang masih tertinggal. “Mudah-mudahan kawan saya yang masih di sana segera pulang,” harapnya.