Perjuangan Agus Menghidupi 4 Anak dari Jasa Sepuh Emas

Posted on

Bandung

Di sebuah sudut Jalan Pasar Baru Selatan, Bandung, kepulan asap tipis membumbung dari meja kerja sederhana milik Agus (49). Pria asli Bandung ini bukan sedang mengejar kekayaan melimpah, melainkan sedang merajut harapan untuk keempat buah hatinya.

Di tengah kondisi pasar yang tak lagi seramai dulu, setiap perhiasan yang ia sepuh adalah penyambung napas biaya pendidikan anak-anaknya.

Agus bukanlah sosok baru di kawasan Pasar Baru. Ia telah menggeluti dunia sepuh emas sejak tahun 1990, mewarisi keahlian turun-temurun dari orang tuanya. Sejak usia sekolah, ia sudah ikut membantu dan belajar hingga akhirnya mampu berdiri sendiri di lokasi yang sama hingga saat ini.

“Saya mah dari kecil, dari tahun 90-an di sini, sampai sekarang sudah punya anak istri,” tuturnya saat ditemui, Selasa (10/3/2026).

Keahliannya mencakup berbagai layanan, mulai dari sepuh emas, perak, patri emas dan perak, perbaikan gelang, hingga aksesori pengantin seperti kembang goyang.

Motivasi terbesar Agus untuk tetap membuka lapaknya setiap hari dari pukul 09.00 hingga 16.00 adalah keluarga yang menantinya di Jalan Jamika. Di atas meja kerja kecilnya, ia memikul harapan besar untuk keempat anaknya yang seluruhnya masih menempuh pendidikan.

Anak pertamanya kini duduk di kelas 1 SMP, diikuti anak kedua di kelas 2 SD, anak ketiga di kelas 1 SD, dan si bungsu yang bersiap masuk sekolah pada bulan Juli mendatang.

“Anak saya ada empat… masih pada sekolah. Perlu biaya semua”. Meski beban biaya sekolah kian menghimpit, ia tetap bersyukur atas aliran rezeki yang ada, sembari menambahkan,”Alhamdulillah ada lah rezekinya. Apalagi pelanggan sudah pada tahu,” tambah pria asli Bandung tersebut.

Keteguhan hati Agus kini diuji oleh kondisi ekonomi yang menurutnya sedang berada dalam fase krisis. Jika pada masa jayanya di tahun 2001 hingga 2018 ia sering kebanjiran pesanan dari luar kota, kini jumlah pelanggan yang datang menurun drastis hingga hanya tersisa sekitar enam orang per hari.

Penurunan ini sangat terasa terutama menjelang Lebaran. Jika dulu peningkatan omzet mencapai 70%, kini ia hanya merasakan kenaikan sebesar 25% saja.

“Dulu mah sampai 70%. Lumayan. Sekarang mah kurang. Semuanya ngeluh begitu, gak tahu kenapa” ungkap Agus membandingkan kondisinya saat ini.

Ia pun mengungkapkan kerinduannya pada masa-masa sibuk di masa lalu, “Kalau pengen mah ya kayak seperti dulu lagi banyak langgan. Masuk-masuk lagi. Keluar masuk kerjaan teh gitu. Kalau sekarang mah enggak ada”.

Meskipun menghadapi tantangan berupa lesunya daya beli masyarakat, Agus tetap setia menunggu pelanggan di samping Pasar Baru. Baginya, pengerjaan satu barang selama satu jam bukan hanya soal mengembalikan kilau logam, tetapi tentang memastikan masa depan keempat anaknya tetap cemerlang.

Halaman 2 dari 2