Perjalanan 333 KM Sariyah demi Jualan Takjil di Benhil

Posted on

Jakarta

Aroma gorengan yang baru diangkat dari minyak panas bercampur dengan deretan kue basah warna-warni menjadi pemandangan khas di kawasan Bazar Takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat, setiap Ramadan. Di antara ratusan pedagang, ada sosok Bu Sariyah yang menempuh perjalanan ratusan kilometer demi berjualan di tempat ini.

Perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah itu rela menempuh perjalanan sekitar 333 kilometer menuju Jakarta setiap tahun, hanya untuk menjajakan kue basah dan aneka gorengan bagi para pemburu takjil di Benhil.

Padahal, di hari-hari biasa Sariyah bukanlah pedagang kue. Di kampung halamannya, ia berjualan sembako dan sayur-mayur.

“(Sehari-hari) nggak (dagang kue basah dan gorengan). Kami di kampung dagang sembako, sayur. (Dagang kue di Jakarta) cuma pas puasa Ramadan,” ujar Sariyah saat ditemui di lapaknya di Benhil, Jakarta Pusat.

Keputusan menempuh perjalanan jauh ke ibu kota bukan tanpa alasan. Sariyah mengaku memiliki kecintaan terhadap dunia kuliner, terutama membuat kue, yang sudah ia tekuni sejak masih gadis.

“Memang dari gadis sudah berkecimpung di dunia kue. Memang hobi dagang kue, apa pun kuenya,” katanya.

Selama berada di Jakarta, Sariyah tinggal sementara di sebuah rumah di Bekasi bersama anaknya. Dari tempat itulah seluruh proses produksi kue dan gorengan dilakukan setiap hari.

Rutinitasnya pun terbilang melelahkan. Bersama putrinya dan seorang karyawan, ia mulai menyiapkan adonan dan bahan sejak setelah waktu berbuka puasa.

“Ya dari malam, dari habis buka sudah mulai disiapkan. Terus tidur mulai jam 11 atau 12 malam. Lanjut lagi jam 3 sahur, dilanjut lagi. Kita nggak bikin sendiri, tapi ramai-ramai,” tuturnya.

Sementara itu, anaknya bertugas mengantar sebagian dagangan lebih dulu ke lokasi lapak di Benhil agar bisa langsung digelar saat bazar mulai ramai.

Sariyah sendiri sudah berjualan di kawasan Benhil sejak tahun 2011. Selama lebih dari satu dekade, ia telah mencoba berbagai titik berjualan, mulai dari sekitar Pasar Benhil hingga kini di area Bazar Takjil Ramadan.

Meski harus menempuh perjalanan ratusan kilometer dan menjalani proses produksi yang panjang setiap hari, Sariyah mengaku tetap senang karena dari hasil berdagang itu ia bisa membawa pulang rezeki ke kampung halaman.

“Insyaallah biasanya sih ketutup, buat ongkos pulang juga,” katanya.

Namun, Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi Sariyah. Ia mengaku penjualan takjilnya mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau tahun ini merosot. Enggak tahu kenapa, mungkin pengunjungnya sedikit,” ujarnya.

Menurutnya, omzet yang diperoleh tahun ini turun hingga sekitar 40 persen. Dampaknya, jumlah karyawan yang membantu berjualan pun terpaksa dikurangi.

“Penurunannya sekitar 40 persen. Kami tadinya ada tiga karyawan, sekarang cuma satu yang masarin,” kata dia.

Meski demikian, Sariyah tetap bertahan. Baginya, perjalanan 333 kilometer dari Pemalang ke Benhil bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga mempertahankan tradisi yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun setiap Ramadan.