Sukabumi –
Penanganan medis terhadap NS (12) di RSUD Jampangkulon mengungkap fakta bahwa kegawatdaruratan utama yang dialami korban saat tiba di rumah sakit bukanlah luka fisik, melainkan gangguan pernapasan yang berat.
Dokter spesialis anak yang menangani korban, Sulaiman Arigayota menjelaskan saat pertama kali datang, fokus tim medis langsung tertuju pada upaya penyelamatan nyawa melalui penanganan pernapasan intensif.
“Ya, jadi pasien itu datang memang dibawa oleh keluarganya ke IGD. Saat pertama sekali di IGD, kita itu ada prinsipnya penilaian secara triase (sistem seleksi pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan). Jadi dinilai oleh dokter triase untuk menilai tingkat kegawatdaruratannya,” kata Sulaiman mengawali penjelasan mengenai prosedur awal penanganan korban kepada awak media, Minggu (22/6/2026) malam.
“Setelah dari dokter triase, kemudian dialihkan ke dokter IGD. Dari dokter IGD melakukan pemeriksaan anamnesa (wawancara medis), pemeriksaan fisik, dan tanda-tanda vital pasien,” ujar Sulaiman menambahkan.
Berdasarkan laporan keluarga dan pemeriksaan fisik awal, tim medis menemukan adanya sebaran luka di berbagai bagian tubuh korban. “Keluhan yang kami dapatkan dari keluarga itu adalah terdapatnya beberapa luka di bagian tubuh pasien. Kemudian dari pertanyaan yang kami ajukan atau anamnesa yang kami lakukan terhadap pasien, ibu, dan bapak pasien saat itu, memang mengeluh adanya luka di beberapa tempat. Mulai dari wajah, ada di leher, di badan, di tangan, dan di kaki,” katanya.
“Kemudian kami melakukan pemeriksaan dan benar kami menemukan ada beberapa luka. Dan lukanya ini ada beberapa bentuk, mulai dari yang luka lecet, luka lebam, ada luka yang sudah sedikit mengering. Kemudian ada luka yang terkesan melepuh seperti luka bakar. Tapi ini tidak bisa saya simpulkan bahwa ini benar sebagai luka bakar atau karena suatu proses perjalanan penyakit secara medis yang dialami oleh pasien sebelumnya,” ucap Sulaiman menambahkan.
Di tengah kondisi luka tersebut, Sulaiman menemukan masalah yang lebih mengancam nyawa. “Saat itu kami tidak terfokus untuk menggali secara rinci penyebab luka-lukanya ini apa, kami lebih terfokus kepada penanganan secara emergensi (darurat). Karena pada saat pertama sekali saya melihat pasien ini, kegawatdaruratannya justru bukan luka-lukanya, tetapi masalah di pernapasan. Terlihat pasien ini sulit sekali untuk bernapas, jadi saya langsung mengarahkan dokter IGD untuk pasien ini dirawat di ICU seperti itu,” tambahnya.
Mengenai usia luka, Sulaiman mencatat adanya variasi waktu. “Ya, karena lukanya seperti yang saya sampaikan tadi itu ada beberapa tipe dan ada beberapa bentuk luka. Terkesan ada yang sedikit sudah lama dan ada yang terkesan baru seperti itu. Tapi ya tidak bisa disimpulkan secara rinci ini apakah benar suatu luka akibat benda tumpul, ataukah ini luka bakar, atau memang ini adalah suatu proses penyakit yang dapat menyebabkan kondisi luka seperti ini,” tuturnya.
Ia merinci terdapat sekitar empat titik luka yang terkesan luka bakar, tiga titik luka mengering seperti terbentuk keropeng, serta luka lebam yang jumlahnya sedikit lebih banyak.
Terkait temuan di area wajah, dr. Sulaiman mengklarifikasi kondisi di area hidung dan mulut.
“Kalau luka bakar yang terkesan yang seperti luka bakar ada sekitar 4 titik kemudian ada luka yang sudah terkesan mengering seperti terbentuk keropeng ada 3 titik seperti itu kemudian ada luka lebam jumlahnya sedikit lebih banyak,” ungkapnya.
Selama perawatan di ruang PICU (ICU khusus anak), tim medis mendapati kondisi paru-paru korban yang tidak lagi berfungsi normal.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Nah, kalau dari ICU, saya di ruang PICU ya, ICU-nya anak seperti itu, saya menemukan pola napas anak yang tidak adekuat (tidak mencukupi kebutuhan oksigen tubuh). Mengalami kesan napas yang cepat, jadi terkesan seperti sesak napas. Dan saya melakukan pemeriksaan, terdapat gangguan pola napas ini sehingga membutuhkan alat bantu napas yang lebih intensif seperti itu,” kata Sulaiman.
Meski telah dilakukan tindakan maksimal selama lebih kurang enam jam empat jam di IGD dan dua jam di ICU kondisi NS terus memburuk.
“Sebenarnya sesak napasnya ini saat datang ke rumah sakit juga sudah terlihat sesak napas. Kemudian seiring waktu pemeriksaan dan tindak lanjut yang kami lakukan, penanganan emergensi awal yang sudah kami lakukan sampai ke ICU, terkesan kondisi pasien memberat walaupun tata laksana apa yang harus kami lakukan sudah kami berikan, termasuk alat-alat dan obat-obatan emergensi dan obat lanjutan untuk pasien ini,” jelasnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti kematian NS masih memerlukan pembuktian melalui autopsi. Kemudian seperti di lihat di video yang beredar, korban terlihat seperti ada luka berdarah yang baru di hidung. Apa jawaban pihak medis terkait ini?
“Bukan luka yang berdarah ya, tetapi kalau yang di hidung itu terkesan luka yang sudah mengering. Ada terkesan luka yang sudah ada keropengnya seperti itu atau krusta (cairan tubuh yang mengering) bahasanya,” jelasnya.
Terkait kesimpulan, Sulaiman mengaku belum bisa menyimpulkan hal itu dan perlu pemeriksaan secara forensik lebih lanjut.
“Kalau langsung kita simpulkan tidak bisa, kita harus melakukan pemeriksaan tingkat lanjut apakah itu dampak dari traumatik benda tumpul, benda panas ataupun ini proses perjalanan penyakit yang dialami pasien sejak beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Lalu soal apakah soal pernafasan menjadi penyebab kematian, Sulaiman menyebut hal itu belum bisa disimpulkan.
“Kalau menjadi penyebab kematian secara pasti belum tentu, kita curigai gangguan pola napas itu. Sekarang kenapa dia nafasnya bermasalah, nah ini yang kita cari tahu. Tidak bisa kita simpulkan apakah pola nafas atau ada penyakit lain,” pungkasnya.







