Indramayu –
Panas maupun hujan tidak menyurutkan semangat Tokid (63) mengumpulkan uang receh di perlintasan kereta api Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu.
Saat hujan ia memakai payung atau jas hujan. Kala terik, ia mengenakan pakaian gebod khas petani Indramayu, atau pakaian tertutup untuk menghindari sengatan matahari.
Jalan yang membelah jalur kereta api di wilayah tersebut hanya dipalang bambu sepanjang 4 meter oleh Tokid dan kawan-kawan demi memastikan keselamatan pengendara yang melintas.
Setiap hari sejak pukul 06.00 WIB, Tokid berjaga bersama rekannya, Jahidin (48), hingga pukul 12.00 WIB, sebelum akhirnya digantikan oleh warga yang lain.
Rutinitas itu ia lakukan tanpa mengenal hari libur, mengais pundi-pundi Rupiah untuk bertahan hidup. Ia pun menyebut aktivitasnya ini sebagai “misi penyelamatan.”
“Menyelamatkan orang lewat. Senang rasanya membantu sesama,” kata Tokid saat ditemui di lokasi, Jumat (13/2/2026) pagi.
Meski pendapatannya tidak pasti, ia memastikan pulang ke rumah membawa nafkah untuk makan istri dan dua anaknya.
“Pokoknya pulang bawa duit, sebenarnya, sih, nggak tentu tapi dapat Rp50 ribu saja sudah bersyukur sekali, dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang dapat segitu lumayan untuk makan siang dan ngirit-ngirit sampai pagi lagi,” ungkap Tokid.
“50 ribu sudah dibagi sama teman dapatnya kisaran segitu. Tapi kadang-kadang lebih, kadang-kadang kurang dari itu,” sambungnya.
Peran Tokid sebagai penjaga pintu lintasan kereta api sangat penting, meski sering diabaikan. Keberadaannya setidaknya memberikan sedikit rasa aman bagi para pengendara.
Meski sering diabaikan, Tokid masih mendapat perhatian dari beberapa pengendara. Uang receh pecahan Rp1.000, Rp2.000, hingga Rp5.000 sering ia terima. Namun ternyata tidak sedikit yang memberinya makanan.
“Ada yang ngasih gorengan, panganan apa bae akeh, sering, kue-kuean gitu. Setidaknya dari situ saya tidak perlu membeli untuk makan,” kata dia.
Sepanjang pengabdiannya sebagai penjaga palang pintu kereta api, ia tidak pernah melihat atau mendengar kabar kecelakaan lalu lintas di jalur tersebut. Ia memulai profesi ini sejak 2018. Padahal, sebelum diberi palang pintu dari bambu oleh Tokid dan kawan-kawan, jalur itu sering memakan korban jiwa.
“Tidak ada (kecelakaan). Dulu banyak, ada motor, mobil, orang juga ada (yang tertemper kereta api),” ucap Tokid ketika ditanya terkait adanya kecelakaan di jalur tersebut.
“Sebelumnya tidak ada yang jaga, akhirnya saya dan teman-teman berinisiatif menjaga, ada yang tua seperti saya, ada yang masih muda-muda,” katanya.
Tokid mengungkapkan, sistem penjagaan dibagi menjadi empat sif. Masing-masing tim terdiri dari dua orang yang mendapat jatah menjaga selama 6 jam.
Saat ditanya apakah hidupnya merasa terbantu dengan profesi ini, Tokid hanya bisa tersenyum getir dan berkata dengan nada lirih.
“Alhamdulillah disyukuri saja, mas. Semoga terbantu. Yang paling penting saat ini adalah perut saya bisa kenyang, istri dan anak-anak saya kenyang semua,” ucapnya.
Hal paling menyedihkan sering kali datang saat pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan untuk sekadar makan saja tidak cukup sampai sore hari.
“Kalau sudah seperti itu, terpaksa utang ke saudara. Sedapatnya saja, kadang minjam beras sekati rong kati mah lumayan, tapi baka sekati rong kati mah aja utang maning, jeh, jaluka bae. tapi seringnya minjam uang,” ungkapnya.
Misi penyelamatan perut dari kosongnya asupan, hingga penyelamatan nyawa manusia dilakukan Tokid dan warga lainnya dengan penuh sukarela, sambil sedikit berharap ada yang memberikan imbalan. Namun, satu harapan pasti: dua misi itu berhasil setiap harinya.
“
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.







