Sukabumi –
Pemandangan memilukan terlihat di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Deretan rumah permanen yang dulunya kokoh kini rata dengan tanah, hancur berkeping-keping akibat pergerakan tanah yang kian masif.
Atap beton roboh, dinding tembok terbelah, hingga bangunan Pondok Pesantren Ariyadul Fallah yang miring dan nyaris roboh menjadi saksi bisu kedahsyatan bencana di tengah bulan suci Ramadan ini.
Hingga Kamis (5/3/2026), garis polisi tampak membentang di antara puing-puing bangunan yang ambles ke perut bumi. Berdasarkan data terbaru per 4 Maret 2026, sebanyak 112 KK atau 367 jiwa terdampak bencana ini, termasuk puluhan balita dan lansia yang kini harus mengungsi.
Rumah hingga pesantren hancur akibat bencana alam pergerakan tanah di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/). |
Salah seorang penyintas menceritakan momen mengerikan saat bangunan di sekitarnya ambruk. Peristiwa itu terjadi secara mendadak tepat di waktu warga bersiap berbuka puasa.
“Kejadiannya itu suaranya kayak bom saja begitu lah. Bledag! Gitu,” ungkap Yusuf salah seorang warga saat ditemui di lokasi, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, robohnya bangunan tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB atau saat waktu Magrib. Ia mengaku sangat kaget karena bangunan yang hancur, termasuk pesantren, tergolong masih baru.
“Kagetnya itu kan bangunannya masih baru-baru gitu, pesantrennya gitu. Ya begini, hancur. Sudah pada kosong, sudah pada pindah gitulah,” tuturnya.
Meski dilingkupi rasa takut, Yusuf mengaku terpaksa mendatangi lokasi untuk melihat kondisi terkini.
“Oh, bukannya takut lagi, Pak. Takut! Makanya ke sini itu paksa-paksain saja pengen melihat,” pungkasnya.
Penyintas lainnya, Luki, yang tinggal bersama istri dan seorang anaknya, mengisahkan bagaimana pergerakan tanah terus menghantui setiap malam. Ancaman ini diperparah dengan hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.
“Waktu pertamanya retak-retak dulu gitu. Waktu itu hujan terus-terusan ya. Terus kemungkinan makin-makin besar gitu, jadi setiap malam tuh ada pergerakan gitu. Kayak semakin besar kalau dilihat mah, getar-getar,” kata Luki.
Ia juga membenarkan adanya suara-suara ‘kretek-kretek’ dari arah bangunan yang retak. “Bunyi gitu ya, kretek-kretek,” tambahnya.
Lantaran rumah kerabatnya sudah penuh sesak oleh pengungsi lain, Luki berencana mencari kontrakan demi keamanan keluarganya. “Paling saya mau pindah ngontrak. Saudara ada, cuma pada penuh saudaranya ya,” ucapnya.
Data Kerusakan dan Evakuasi
Bencana pergerakan tanah ini telah merusak total 101 unit rumah di wilayah tersebut. Rinciannya terdiri dari 36 rumah rusak berat, 18 rusak sedang, 20 rusak ringan, dan 27 rumah lainnya dalam status terancam.
Untuk sebaran pengungsian, sebanyak 63 KK kini menempati Hunian Sementara (Huntara), 48 KK mengungsi secara mandiri ke rumah saudara, dan 1 KK memilih untuk mengontrak.
Rumah hingga pesantren hancur akibat bencana alam pergerakan tanah di Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/). |
Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Bantargadung, Uus Amrullah, mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah sudah mulai terjadi sejak awal puasa dan terus mengalami eskalasi.
Pihak desa telah memastikan seluruh warga yang berada di zona bahaya telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman guna menghindari jatuhnya korban jiwa.
“









