Pemprov Serius Jadikan Cirebon Etalase Utama Wisata Budaya, Ini 4 Langkahnya baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Pemerintah Provinsi Jawa Barat kian memantapkan langkah menjadikan Cirebon sebagai salah satu etalase utama wisata budaya. Memasuki tahun 2026, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat menyiapkan serangkaian program strategis untuk mengembangkan potensi budaya yang tersebar di Kota dan Kabupaten Cirebon.

Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan menyebut penguatan destinasi budaya menjadi fokus utama. Salah satu langkah awal yang disiapkan adalah pembenahan kawasan keraton, yang selama ini menjadi denyut sejarah dan identitas budaya Cirebon.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

“Programnya kita membangun atau memperbaiki destinasi yang ada. Tahun depan kita akan coba benahi Keraton Kasepuhan, nanti mungkin setelah itu bertahap di empat keraton lainnya,” ujar Iendra, Sabtu (3/1/2026).

Keraton Kasepuhan diproyeksikan menjadi pintu masuk revitalisasi budaya keraton Cirebon secara menyeluruh. Pembenahan ini tidak hanya menyasar fisik bangunan, tetapi juga penguatan narasi sejarah dan pengalaman wisata berbasis budaya.

Tak berhenti di destinasi, Disparbud Jabar juga mendorong aktivasi budaya melalui berbagai kegiatan. Salah satunya dengan menghadirkan ruang perjumpaan budaya dari seluruh Jawa Barat di Cirebon.

“Beberapa aktivitas juga kita lakukan di sana, kemarin (2025) pekan kebudayaan daerah 27 kabupaten/kota hadir di Cirebon,” kata Iendra.

Menurutnya, Cirebon dinilai strategis sebagai titik temu budaya Jawa Barat karena memiliki karakter khas yang kuat, hasil pertemuan budaya Sunda, Jawa, dan pesisir.

Selain keraton, kawasan Trusmi juga menjadi prioritas penataan. Sentra batik yang sudah dikenal luas itu akan dipoles agar lebih tertata, nyaman, dan memiliki daya tarik wisata yang lebih kuat.

“Ketiga, Trusmi kita siapkan untuk ditata dan lebih diprioritaskan,” ujarnya.

Disparbud Jabar juga mengaitkan pengembangan wisata budaya Cirebon dengan program Rebana Metropolitan, terutama dengan semakin aktifnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

“Keempat, program di Cirebon adalah mengkaitkan dengan program Rebana, ada Bandara Kertajati yang kabarnya bulan Februari ada penambahan rute ke Malaysia dan beberapa tujuan lain,” jelas Iendra.

Konektivitas udara tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Karena itu, Cirebon perlu dipersiapkan dengan konsep destinasi yang kuat dan berkarakter.

“Ini harus disiapkan karena destinasi yang bisa diangkat lebih menarik itu budaya di Cirebon,” tegasnya.

Sementara untuk wisata religi Makam Sunan Gunung Jati, Disparbud Jabar menilai kawasan tersebut sudah berjalan dengan baik. Namun, penataan tetap akan dilakukan secara bertahap agar lebih tertib dan berkelanjutan.

“Gunung Jati itu saya kira sudah berjalan dan nanti bertahap kita tata,” ucap Iendra.

Terkait kajian pusaka dan cagar budaya di Cirebon, Iendra menyebut pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan di bawah Kementerian Kebudayaan. Meski demikian, fokus kajian tahun 2026 masih belum diarahkan ke Cirebon.

“Kita bekerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan, untuk 2026 belum diskusi karena baru fokus 2025 untuk Gunung Padang Cianjur dan Batu Tulis Bogor,” pungkasnya.

Menunjang Aktivitas BIJB Kertajati