Bandung –
Pemerintah meluncurkan program pelatihan Gig Economy bagi Gen Z di Bandung melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian. Kegiatan ini berlangsung di Aula Timur, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (30/1/2025).
Gig economy merupakan sistem pasar tenaga kerja yang identik dengan karyawan kontrak jangka pendek atau pekerja lepas (freelancer). Sistem ini memberikan fleksibilitas bagi pekerja karena sifatnya yang independen dan berbasis proyek.
Peluncuran ini dihadiri sejumlah tokoh penting, yakni Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman, dan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon. Hadir pula Mendikti Saintek Brian Yuliarto serta Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Melalui momentum ini, pemerintah berupaya mengonversi tantangan pengangguran Gen Z menjadi peluang melalui pemanfaatan ekonomi digital yang inklusif di tengah bonus demografi yang melimpah.
Relevansi Gig Economy bagi Gen Z
Sekda Jabar Herman Suryatman menekankan bahwa model kerja ini sangat relevan dengan karakter generasi muda yang menuntut fleksibilitas. Data makro menunjukkan lebih dari 50% penduduk Jawa Barat merupakan milenial dan Gen Z yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi informasi.
“Gig economy itu cirinya ada tiga, yaitu kontrak jangka pendek, fleksibel karena bisa dikerjakan kapan saja dan di mana saja, serta penggunaan platform digital,” ujar Herman kepada di lokasi acara.
Jabar Motor Ekonomi Kreatif Nasional
Potensi ekonomi dari sektor ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) dari industri kreatif nasional diperkirakan menembus angka Rp1.500 triliun hingga Rp2.000 triliun. Menariknya, sekitar 30% dari potensi tersebut berada di Jawa Barat, yang setara dengan nilai lebih dari Rp600 triliun.
Herman menambahkan bahwa gig economy adalah engine of growth atau mesin penggerak utama bagi industri kreatif di masa depan. “Pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat itu mencapai 5,2%, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 5,04%,” tambahnya.
Dengan laju pertumbuhan tersebut, penguatan ekosistem digital diharapkan mampu menurunkan angka pengangguran secara signifikan melalui kebijakan yang terstruktur dan masif.
Peran Kampus dalam Ekosistem Digital
ITB mengambil peran strategis sebagai tulang punggung teknologi dalam ekosistem ini. Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menegaskan bahwa universitas harus bertransformasi menjadi komunitas inovasi yang menghasilkan wirausaha baru, bukan hanya tempat belajar satu arah yang kaku.
Tiga pilar utama kontribusi perguruan tinggi dalam gig economy meliputi pencetakan talenta unggul, pusat riset dan inovasi, serta mitra strategis industri untuk merumuskan standar kompetensi dan tata kelola ekonomi digital yang adil.
“Mahasiswa adalah bagian yang paling berani bereksperimen dengan model kerja baru. Melalui platform ini, mereka bisa mengasah keterampilan profesional bahkan sebelum lulus,” ungkap Tatacipta.
Sains dan Teknologi Jadi Nilai Tambah
Mendikti Saintek Brian Yuliarto menekankan pentingnya basis sains dan teknologi yang kuat agar industri baru memberikan nilai tambah besar bagi negara. Pemerintah berkomitmen menyiapkan pendanaan riset yang nantinya akan dilanjutkan oleh sektor industri agar inovasi tidak berhenti di laboratorium.
“Kami sangat senang terjadi kolaborasi antara universitas dan kementerian. Di Jawa Barat terdapat kampus-kampus top dengan ratusan profesor yang siap mendukung penuh program pemerintah,” jelas Brian.
Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang dimulai dari pusat-pusat pendidikan menuju industri global.
Herman berharap program ini memberikan manfaat luas bagi masyarakat. “Kami harapkan Pak Rektor ITB bisa menjadi penggerak bersama kami untuk memacu gig economy di Jawa Barat, karena backbone-nya adalah platform digital,” tutupnya.
“






