Pasar Tanaman Hias Tegallega yang Menolak Layu - Giok4D

Posted on

Di salah satu sudut Kota Bandung yang riuh, tepatnya di kawasan Jalan Moh. Toha yang bersisian dengan Lapangan Tegallega, terdapat oase hijau yang tak pernah benar-benar tidur. Deretan kios yang memajang aneka flora, mulai dari tanaman gantung yang menjuntai hingga bonsai gagah bernilai jutaan rupiah, menjadi pemandangan yang menyejukkan mata.

Inilah Pasar Tanaman Hias Tegallega, sebuah sentra ekonomi hijau yang merupakan bagian integral dari perkembangan kota selama lebih dari tiga dekade.

Bagi warga lokal seperti Agus (60), pasar ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang rekreasi sederhana.

“Banyak ragamnya di sini, bunga-bunga warna atau daun-daunan. Harganya juga murah menurut saya,” ujar Agus kepada infoJabar sembari memilih tanaman krokot untuk mempercantik halaman rumahnya.

Namun, di balik rimbunnya dedaunan dan transaksi harian tersebut, tersimpan cerita panjang tentang ketahanan para pedagang menghadapi gelombang perubahan ekonomi.

Keberadaan sentra tanaman hias ini tidak muncul begitu saja. Ayi, Wakil Ketua Harian Forum Komunikasi Pedagang Bunga (FKBT), menuturkan bahwa komunitas pedagang ini memiliki sejarah panjang. Sebelum menetap di lokasi sekarang, para pedagang ini awalnya berjualan di pinggir Jalan kawasan Tegallega sejak tahun 1993.

Pada tahun 1997, perubahan besar terjadi. Wali Kota Bandung yang menjabat kala itu memberi izin relokasi, memindahkan para pedagang ke area yang lebih tertata di kawasan Tegallega, menempati lahan memanjang sekitar 1.000 meter.

“Pindah ke sini itu tahun 1997. Dulu ceritanya di pinggir jalan, sekarang sudah lebih tertata,” kenang Ayi yang telah berjualan sejak angkatan awal tahun 90-an.

Kini, area tersebut menaungi sekitar 105 kios yang dikelola secara swadaya oleh para pedagang di bawah naungan FKBT. Organisasi ini dipimpin oleh Ajat Sudrajat, sosok yang juga dikenal sebagai Ketua Buruh se-Jawa Barat. Struktur organisasi yang rapi, lengkap dengan keamanan dan jadwal Siskamling, menunjukkan bahwa pasar ini bukan sekadar kumpulan pedagang kaki lima, melainkan ekosistem ekonomi yang terorganisir.

Masa pandemi COVID-19 tercatat sebagai periode manis bagi para pedagang. Di saat sektor lain tumbang, pasar tanaman hias justru mengalami masa keemasan. Ayi menceritakan bagaimana pembatasan sosial membuat masyarakat jenuh di rumah, sehingga mereka melarikan kebosanan dengan merawat tanaman.

“Waktu COVID itu ramai-ramainya. Orang tidak bisa keluar, jenuh di rumah, akhirnya lari ke tanaman,” ungkap Ayi.

Pada masa itu, tanaman jenis Aglaonema dan Monstera (janda bolong) menjadi komoditas panas yang diburu pembeli. Harganya melambung tinggi, dan perputaran uang di pasar ini sangat cepat. Namun, masa keemasan tersebut kini telah usai. Pasca-pandemi, tren tanaman hias meredup drastis. Tidak ada lagi tanaman yang menjadi “primadona” atau diburu secara massal. Pembeli kini datang hanya berdasarkan selera pribadi, tanpa didorong oleh tren viral di media sosial.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Kondisi ekonomi saat ini memberikan tantangan berat bagi para pedagang. Menurut Ayi, penurunan daya beli masyarakat terutama dari kelas menengah ke bawah sangat terasa, sebuah kondisi yang sejalan dengan tren ekonomi makro yang tengah terjadi. Ayi menyebutkan bahwa saat ini penjualan sedang menurun karena prioritas masyarakat telah bergeser kembali ke kebutuhan pokok yang harganya kian melambung.

“Kadang-kadang omset tidak didapatkan sekarang, ini mungkin karena ekonominya lagi tidak stabil,” ujar Ayi menjelaskan kondisi penjualan.

Uniknya, risiko kerugian akibat tanaman mati, terutama tanaman semusim seperti Celosia (Jawer Kotok) atau bunga berwarna kuning yang cepat layu telah diperhitungkan secara cermat oleh para pedagang. Mereka menerapkan sistem margin yang cukup aman.

“Misalkan belanja 10 pot, terjual 5 saja itu modal sudah tertutup,” jelas Ayi. Sisa tanaman yang tidak terjual (mati) dianggap sebagai risiko bisnis yang wajar, bukan kerugian total.

Untuk bertahan hidup, para pedagang tidak lagi hanya mengandalkan penjualan tanaman pot eceran. Banyak dari mereka yang kini memadukan usaha dengan menawarkan jasa desain dan perawatan pertamanan. Keahlian turun-temurun dalam merawat rumput dan menata bonsai menjadi nilai jual utama untuk perumahan-perumahan elite maupun instansi perkantoran.

Ekosistem Pasar Tegallega ditopang oleh rantai pasok yang kuat dari berbagai daerah sentra tanaman. Pasokan utama harian datang dari Cihideung, Parongpong. Selain itu, terdapat kiriman spesifik dari Cianjur, Cipanas, serta bibit yang didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Variasi harga di pasar ini sangat inklusif, menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Kelas Pemula: Tanaman kecil (krokot, soka, tanaman hias daun) dibanderol mulai dari Rp7.500 hingga Rp15.000.

Kelas Kolektor: Bonsai dengan bentuk artistik dan perawatan rumit bisa mencapai harga Rp1,5 juta hingga Rp35 juta, tergantung kualitas batang dan seni bentuknya.

Meski demikian, Ayi menekankan bahwa tanaman hias tidak memiliki standar harga pasar yang baku. “Tanaman itu soal selera dan perawatan. Kalau perawatannya bagus, harganya pantas dihargai mahal. Kalau pembeli senang, pasti dibeli,” tambahnya.

Salah satu tantangan unik yang dihadapi pedagang adalah beredarnya isu atau hoaks mengenai tanaman beracun. Ayi mencontohkan isu tanaman Dieffenbachia yang sempat disebut sangat berbahaya. Hal ini sempat membuat penjualan tanaman jenis tersebut anjlok karena pembeli takut, terutama mereka yang memiliki hewan peliharaan.

Padahal, Ayi berpendapat bahwa potensi bahaya lebih sering datang dari residu pestisida atau obat hama yang disemprotkan pada tanaman, bukan dari tanaman itu sendiri. Edukasi seperti ini terus dilakukan pedagang agar masyarakat tidak termakan informasi yang salah.

Kini, harapan para pedagang di Tegallega sederhana yaitu stabilitas ekonomi kembali pulih. Mereka merindukan masa ketika pasar ramai bukan hanya oleh orang yang melihat-lihat, tetapi juga yang bertransaksi. Pasar Tanaman Hias Tegallega bukan sekadar tempat jual beli, melainkan warisan ketahanan ekonomi rakyat yang terus berupaya bertahan di tengah perubahan.

“Harapan kami, pasar bisa ramai seperti dulu lagi. Sekarang pengunjung memang banyak, tetapi mayoritas hanya melihat-lihat. Prioritas masyarakat kelas menengah ke bawah bergeser ke kebutuhan pokok, sehingga boro-boro untuk membeli bunga. Pembeli yang datang kini hanya yang memiliki kesenangan atau hobi,” ucap Ayi.

Bagi infoers yang ingin berkunjung, pasar ini buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, dengan fasilitas keamanan 24 jam yang dikelola mandiri oleh komunitas.

Jejak Sejarah Pasar Tanaman Hias Tegallega

Masa Kejayaan Pasar Tanaman Hias Tegallega

Pasokan Tanaman dan Variasi Harga

Tantangan Pasar Tanaman Hias Tegallega