Bandung –
Hewan peliharaan memberikan dampak psikologis positif bagi manusia. Sambutan hangat hewan peliharaan saat kita pulang bekerja mampu membangkitkan semangat yang luntur. Kehadiran mereka menjadi media relaksasi, apalagi bagi mereka yang banyak beraktivitas di rumah. Rasa bosan pun sirna saat bernyanyi bersama burung atau mengelus anabul. Sayangnya, di Bandung masih jarang ditemui sentra fauna yang lengkap.
Pasar Sukahaji adalah salah satu titik di Bandung yang menawarkan beragam hewan peliharaan. Suasana pasar ini selalu riuh oleh kicauan burung dan suara hewan lainnya. Sebagai pusat jual beli hewan yang terjangkau, Pasar Sukahaji kerap menjadi destinasi favorit orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk melihat satwa lucu seperti tupai dan kelinci.
Berlokasi di Jalan Peta, pasar ini selalu dipadati pengunjung yang mencari peliharaan baru, mulai dari burung, hamster, hingga kucing. Meski koleksinya beragam, pasar ini memang tidak menyediakan komoditas ikan. Fokus utamanya adalah hewan darat yang sering dikonteskan, seperti burung kenari.
Tak hanya hewan, pengunjung juga berburu pakan dan perlengkapan. Tersedia pakan kering untuk anjing dan kucing, hingga biji-bijian untuk burung. Kebutuhan pelengkap bagi pencinta hewan tersedia melimpah di sini, terutama kandang yang menjadi produk paling laris.
Epi (35), salah satu pedagang, mengaku telah berjualan di Pasar Sukahaji selama 10 tahun. Ia mengamati bahwa sebagian besar pengunjung yang datang dari jauh adalah pencinta hewan yang mencari pakan murah. Banyak pula ayah yang mengajak anaknya melihat hewan menggemaskan, seperti anak ayam warna-warni.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Biasanya orang luar kota yang mencari pakan. Yang paling laku itu pakan ayam atau burung. Kalau saya sendiri menjual kandang dan burung juga,” ujar Epi saat ditemui baru-baru ini.
Para pedagang biasanya mulai beroperasi pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Untuk stok dagangan, Epi bekerja sama dengan pengrajin kandang burung alih-alih memproduksinya sendiri. “Kandang ini dari pengrajin, saya jual lagi di sini. Biasanya dalam sehari ada sekitar 20 pembeli yang datang, meski kadang ada juga yang cuma lihat-lihat,” tuturnya.
Suasana dalam dari Pasar Sukahaji, Kota Bandung. Foto: Adi Mukti/ |
Berbeda dengan Epi, banyak penjual lain di Pasar Sukahaji yang memproduksi kandang atau pakan secara mandiri. Salah satunya Engkus, yang sering membuat kandang berdasarkan pesanan pelanggan. Ia merangkai kandang burung dengan corak dan bentuk sesuai permintaan.
“Iya, saya buat sendiri karena kebanyakan pesanan. Ini semua sudah dipesan. Kandang yang dipajang itu cuma sedikit. Saya sudah punya langganan dari teman-teman komunitas kontes burung,” kata Engkus.
Pasar Sukahaji memang tersohor sebagai sentra burung legal, seperti kutilang, murai batu, kenari, dan jalak kebo. Pantauan di lokasi menunjukkan kepadatan aktivitas yang meluber hingga ke bahu jalan. Meski luas pasarnya tergolong kecil, Sukahaji tetap memiliki daya tarik kuat.
Namun, di balik hiruk-pikuk itu, terdapat sudut-sudut sepi dengan lapak yang tutup. Epi menyebut beberapa pedagang terpaksa gulung tikar atau beralih profesi. “Akhir-akhir ini memang banyak yang berhenti berjualan. Ada yang pindah kerja atau jadi pedagang keliling. Pedagang yang bertahan kadang memakai dua lapak sekaligus karena tempat di sebelahnya sudah kosong,” ungkap Epi.
Sebagai sentra hewan peliharaan, Pasar Sukahaji memerlukan perhatian lebih dari Pemerintah Kota Bandung. Dengan keunikannya, pasar ini berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Peningkatan fasilitas dan dukungan bagi pedagang menjadi solusi agar pasar legendaris ini tetap eksis di tengah gempuran zaman.








