Pasar Mambo Riwayatmu Kini

Posted on

Geliat perekonomian tidak lagi terlihat di Pasar Mambo, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Lemahabang, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu.

Pasalnya, pusat bahan pokok dan kuliner itu mulai ditinggalkan masyarakat atas pelbagai persoalan, yaitu mulai dari perpindahan aktivitas ekonomi ke sistem daring (online), hingga relokasi pasar.

Saiful (37), salah satu pedagang yang masih bertahan, mengungkapkan banyak alasan mengapa Pasar Mambo kini sepi.

“Pernah ada pemberlakuan sistem satu arah di Jalan Ahmad Yani, ternyata itu berpengaruh pada pendapatan. Namun sekarang sudah dua arah lagi,” ungkap Saiful saat ditemui infoJabar, Rabu (7/1/2026).

“Pernah terjadi kebakaran, dan muncul COVID-19 juga. Yang kebakaran itu akhirnya pasar dipindah ke depan Polres,” sambungnya.

Relokasi pasar akibat kebakaran yang melanda tempat tersebut, kata Saiful, adalah awal meredupnya pusat keramaian ini. Selanjutnya, kedatangan pandemi COVID-19 setahun berselang membuka jalan bagi digitalisasi untuk berkembang dengan pesat.

“Dulu ramai, padat dari pagi sampai sore,” ujar Saiful, mengenang masa kejayaan Pasar Mambo di akhir tahun 1990-an hingga tahun 2000-an awal.

Pasar tersebut terdiri atas dua blok. Pertama untuk kuliner dan jajanan, lalu satu blok lainnya untuk bahan pokok.

Saiful, seorang penjual pisang, mulai berjualan meneruskan orang tuanya sejak tahun 2000-an awal. Ia memilih bertahan karena sudah berjualan puluhan tahun dan memiliki pelanggan tetap.

“Sudah banyak yang kenal, oleh karena itu memilih bertahan,” katanya.

Sementara itu, Sugiono (68), penjual jajanan khas Indramayu, masih optimistis lapaknya di Pasar Mambo tidak pernah benar-benar ditinggalkan pembeli.

“Ada undal-andil, klepon, geblog, kolek gula Jawa, dan lauk di sini,” ujar Sugiono memperkenalkan produk yang dijajakannya, Rabu, 7 Januari 2026.

“Saat ini sudah jarang yang berjualan seperti ini. Justru, pengunjung dari jauh datang karena ingin mencoba. Wisatawan dari Bandung atau Cirebon yang sedang berkunjung ke Indramayu mencari jajanan khas Indramayu dan akhirnya datang ke sini,” ungkapnya.

Sementara itu, suasana Pasar Mambo tampak begitu sepi, banyak bangunan yang dibiarkan kosong. “Ada beberapa yang dijadikan gudang,” ucap Saiful.

Hanya terlihat aktivitas di beberapa warung kopi, lapak pisang milik Saiful, dan lapak jajan milik Sugiono saat siang hari.

Kata Saiful, pedagang kaki lima mulai menjajakan dagangannya saat sore hari. Tempat ini hidup lagi sejak sore hingga malam, namun kehilangan identitasnya sebagai pasar,” ujarnya.