Di sepanjang trotoar Jalan Astana Anyar, aktivitas pasar terasa kuat. Ratusan lapak sederhana berjejer, memamerkan berbagai barang unik yang tersembunyi di balik tumpukan, seperti: kamera analog tanpa rol film, jam tangan, hingga komponen elektronik usang.
Inilah Pasar Loak Astana Anyar, sebuah tempat di mana barang-barang yang dibuang justru menemukan napas keduanya.
Namun, siapa sangka, kemeriahan transaksi ini berdiri di atas fakta sejarah yang sunyi.
Nama Astana Anyar sendiri sejatinya menyimpan jejak masa lalu. Dalam buku legendaris Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), penulis Haryoto Kunto mencatat bahwa Astana Anyar berarti kuburan baru.
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Hindia Belanda membuka kawasan ini sebagai lahan pemakaman umum baru untuk menertibkan kebiasaan warga memakamkan jenazah di pekarangan rumah.
Namun, kawasan ini berevolusi menjadi pusat niaga, alih-alih difungsikan sebagai tempat peristirahatan terakhir. Haryoto Kunto juga mencatat bahwa area sekitarnya memang memiliki riwayat perdagangan yang kuat; pernah menjadi titik kumpul pedagang pasar lama Bandung yang hangus terbakar, cikal bakal lahirnya Pasar Baru (Nieuwe Markt).
Kini, semangat itu bermetamorfosis. Bukan lagi pasar tradisional kolonial, melainkan pasar loak yang menjadi tumpuan hidup ratusan pedagang. “Pusat loak memang di sini,” ungkap Yanto (66), salah satu pedagang barang loak saat ditemui infoJabar.
Satu dekade lalu, pengunjung pasar ini mungkin didominasi bapak-bapak pencari suku cadang mesin. Hari ini, wajah Astana Anyar berubah drastis. Lorong-lorong sempit di antara lapak kini dipadati anak muda dengan gaya nyentrik, berburu barang vintage untuk konten media sosial.
Salsabila (22), seorang pengunjung, mengaku datang karena tertarik oleh fenomena viral di media sosial.
“Di media sosial banyak yang bikin konten di sini, jadi tertarik. Sebenarnya nyari barang-barang vintage,” ujarnya saat ditemui sedang memilah tumpukan barang.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
(Pengunjung saat memilah barang di Pasar Loak Astana Anyar. Foto: Shifa Lupiah Ajijah/infoJabar)
Fenomena ini menjadi angin segar bagi pedagang lama seperti Umar (49). Pria yang sudah berjualan elektronik selama enam tahun ini merasakan langsung dampak tren tersebut.
“Sekarang kamera sedang *booming* kembali buat anak muda,” kata Umar, merujuk pada tren fotografi analog yang bangkit kembali.
Bagi generasi ini, barang bekas di Astana Anyar bukan rongsokan, melainkan bagian dari tren gaya hidup estetis.
Pak Yanto, yang lapaknya dipenuhi batu akik dan barang seni, memiliki filosofi menarik soal harga. Menurutnya, harga barang loak itu “gelap” dan tidak bisa dihitung dengan kalkulasi pasti.
“Kalau menurut Bapak yang mahal itu yang ada lebihnya. Relatif, enggak tentu barang ini mahal,” tuturnya. Sebuah barang bisa bernilai ratusan ribu rupiah di mata kolektor, namun hanya dihargai ribuan rupiah di mata orang awam.
Bagi pembeli pemula, Salsabila membagikan strategi negosiasi yang efektif.
“Tawar, lalu pergi saja kalau tidak dikasih. Nanti biasanya juga dipanggil lagi,” sarannya sambil tertawa.
Namun, di sisi lain, ada realitas ekonomi yang keras. Pak Umar mengakui, terkadang idealisme harga harus kalah dengan kebutuhan perut.
“Kalau sudah lama enggak kejual, ya terpaksa jual modal, bahkan kadang jual rugi,” akunya.
Agar tidak pulang dengan tangan hampa atau barang rusak, ada aturan main yang perlu dipahami pengunjung:
• Waktu Terbaik: Datang sekitar pukul 06.00-09.00 WIB, agar barang yang dicari tidak kehabisan.
• Jeli memilih: Barang didapat dari berbagai sumber, mulai dari gudang rongsok hingga rumah tangga, sehingga kondisinya sangat beragam.
• Uang Tunai: Transaksi di sini masih konvensional; uang tunai recehan akan sangat membantu proses tawar-menawar.
• Jam Operasional: Senin hingga Minggu (Tutup setiap Jumat), pukul 06.00- 15.00 (Jam operasional bisa bervariasi antar pedagang).
Astana Anyar menunjukkan bahwa nilai dan fungsi barang dapat bertransformasi total. Di kawasan yang dulunya disiapkan sebagai “Kuburan Baru”, barang-barang mati justru dibangkitkan kembali.
Bagi Yanto, berjualan di sini adalah cara membunuh sepi di masa tua. Bagi Umar, ini adalah penyambung hidup setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya.
Sejarah Pasar Astana Anyar
Transformasi Pasar: Gen Z dan Tren Vintage
Seni Negosiasi di Trotoar
Tips Berburu Harta Karun di Pasar Loak Astana Anyar

Pak Yanto, yang lapaknya dipenuhi batu akik dan barang seni, memiliki filosofi menarik soal harga. Menurutnya, harga barang loak itu “gelap” dan tidak bisa dihitung dengan kalkulasi pasti.
“Kalau menurut Bapak yang mahal itu yang ada lebihnya. Relatif, enggak tentu barang ini mahal,” tuturnya. Sebuah barang bisa bernilai ratusan ribu rupiah di mata kolektor, namun hanya dihargai ribuan rupiah di mata orang awam.
Bagi pembeli pemula, Salsabila membagikan strategi negosiasi yang efektif.
“Tawar, lalu pergi saja kalau tidak dikasih. Nanti biasanya juga dipanggil lagi,” sarannya sambil tertawa.
Namun, di sisi lain, ada realitas ekonomi yang keras. Pak Umar mengakui, terkadang idealisme harga harus kalah dengan kebutuhan perut.
“Kalau sudah lama enggak kejual, ya terpaksa jual modal, bahkan kadang jual rugi,” akunya.
Agar tidak pulang dengan tangan hampa atau barang rusak, ada aturan main yang perlu dipahami pengunjung:
• Waktu Terbaik: Datang sekitar pukul 06.00-09.00 WIB, agar barang yang dicari tidak kehabisan.
• Jeli memilih: Barang didapat dari berbagai sumber, mulai dari gudang rongsok hingga rumah tangga, sehingga kondisinya sangat beragam.
• Uang Tunai: Transaksi di sini masih konvensional; uang tunai recehan akan sangat membantu proses tawar-menawar.
• Jam Operasional: Senin hingga Minggu (Tutup setiap Jumat), pukul 06.00- 15.00 (Jam operasional bisa bervariasi antar pedagang).
Astana Anyar menunjukkan bahwa nilai dan fungsi barang dapat bertransformasi total. Di kawasan yang dulunya disiapkan sebagai “Kuburan Baru”, barang-barang mati justru dibangkitkan kembali.
Bagi Yanto, berjualan di sini adalah cara membunuh sepi di masa tua. Bagi Umar, ini adalah penyambung hidup setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya.







