Bunyi bip KWH meter yang menagih token listrik memantul di lorong sempit Blok B Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, Kamis (15/1/2026) siang. Suaranya bersahutan meramaikan lorong yang sebenarnya sunyi.
Sebagian besar kios di sekitarnya gelap dan terkunci. Lampu padam, rolling door berdebu, dan papan nama yang memudar menjadi lanskap baru pasar induk Priangan Timur itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 1.000 kios pedagang tutup, paling banyak di Blok B dan area kebutuhan sandang. Perputaran uang tersendat, denyut ekonomi melemah. Seribuan pedagang gulung tikar menjadi alarm keras bahwa pasar sedang sakit. Ironisnya sejauh ini belum ada upaya nyata dari pemerintah untuk menanggulangi masalah ini.
Di tengah kelesuan itu, pedagang yang tersisa masih bertahan. “Ibaratnya kita sedang mode bertahan hidup. Hidup segan, mati tak sudi,” ujar Ai dan Budi, pedagang pakaian Blok B2.
Kedua pedagang yang kiosnya berhadapan ini masih bertahan, karena kios mereka berada di posisi yang masih dianggap punya potensi, tak jauh dari jalan utama Blok B.
“Kalau yang belakang sudah banyak yang tutup, kita saja yang agak depan sepi. Nah sekarang sudah mau tengah hari, saya belum dapat penglaris,” kata Ai.
Ai dan Budi menyebut salah satu penyebab kebangkrutan banyak pedagang sandang di Pasar Cikurubuk disebabkan oleh kehadiran toko grosir yang melayani penjualan eceran. Lokasi toko itu berada tak jauh dari Pasar Cikurubuk.
“Sejak toko grosir itu menjual eceran semua pedagang di pasar kolaps. Jadi hitungannya toko itu berubah seperti toserba atau mall. Jelas kami yang jadi korban,” kata Ai.
Padahal jika konsepnya toko modern atau mall, menurut Ai, lokasinya harus mengikuti regulasi. “Kan aturannya kalau toko modern, toserba atau mall harus jauh dari pasar tradisional. Harus sekian kilometer dari pasar tradisional,” kata Ai.
Dia berharap pemerintah bisa mengatur kembali situasi ini, agar tidak ada pihak yang dirugikan. “Bukan kami iri ke bisnis orang lain, tapi kan ada aturannya. Kalau grosir ya grosir, jangan melayani eceran,” kata Ai.
Selain soal keberadaan toko besar yang melayani eceran, kondisi fasilitas pasar yang turut memperparah keadaan. Belum lagi tren belanja online yang kian menggerus omzet penjualan mereka.
“Banyak masalahnya, tolonglah pemerintah bantu kami,” kata Budi.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hippatas) Ahmad Jahid membenarkan banyaknya pedagang yang gulung tikar.
“Iya banyak yang tutup karena jualannya sepi, dari pada dagang sepi, dan ada biaya tambahan mending tutup saja,” kata Ahmad.
Dia mengatakan mayoritas pedagang yang gulung tikar merupakan pedagang pakaian di Blok blok B dan sekitarnya.
“Ada yang tutup sudah bertahun-tahun ada yang baru beberapa bulan. Kalau jumlahnya saya belum mendata, kebanyakan di Blok B, pedagang fashion,” kata Ahmad.
Menurut dia membuat pasar kembali ramai adalah solusi terbaik atas kondisi itu. Dia mengaku sudah konsultasi dengan pemerintah, tapi sejauh ini belum ada penanganan. Alih-alih memberi solusi, pemerintah justru malah menaikkan tarif sewa kios.
“Kita kan sudah pernah audiensi dengan Disperindag, Pemkot dan Ketua DPRD, kita menjelaskan kondisi eksisting seperti itu dan mereka paham. Kami harap Pemkot bisa memberikan solusi, bukan sekarang menambah beban kenaikan tarif sewa. Seharusnya berikan solusi dulu, bulan memberikan beban dulu,” kata Ahmad.
Kepala UPTD Pasar Cikurubuk, Deri Herlisana menjelaskan di Pasar Cikurubuk terdapat 2.772 kios dan los pedagang yang berdiri di lahan seluas 4,4 hektar. Dia mengatakan masih melakukan verifikasi terkait jumlah kios yang tutup, karena verifikasi terbaru akan dilakukan di tahun 2026 ini.
Tapi dia memperkirakan setidaknya 30 persen kios pedagang dalam kondisi tutup, sehingga jumlahnya bisa saja mencapai 1.000 kios.
“Jadi melihat sisi administrasi bahwasanya dari jumlah 2.772 ini diasumsikan 30 persen kios dan loss ini tutup. Jadi di kisaran 1.000 kios yang tutup,” kata Deri.
Menurut Deri setidaknya ada beberapa faktor penyebab, mulai dari penurunan daya beli hingga kalah bersaing.
“Ini memang akibat beberapa faktor yakni penurunan daya beli konsumen, perdagangan online, lalu di samping kita juga ada kompetitor dengan pasar tradisional. Yang paling dominan usaha pakaian dan sendal paling banyak tutup,” kata Deri.
Terkait keberadaan toko grosir yang melayani eceran, sebagaimana dikeluhkan pedagang, Deri mengaku kesulitan mengambil langkah. Dia bahkan belum bisa menentukan apakah kehadiran toko besar di dekat pasar tradisional dibolehkan atau tidak.
“Kalau secara regulasi saya kurang paham, karena regulasi sesuai aturan pemerintah pusat melalui NIB (nomor induk berusaha). ketentuannya tidak tahu apakah boleh atau tidak,” kata Deri.
“Kita juga kebingungan cara mengantisipasinya, supaya pedagang pasar bisa berjualan normal kembali. Memang perlu pengawasan supaya tidak mati di pasar tradisional,” kata Deri.
Banyak Pedagang Gulung Tikar

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hippatas) Ahmad Jahid membenarkan banyaknya pedagang yang gulung tikar.
“Iya banyak yang tutup karena jualannya sepi, dari pada dagang sepi, dan ada biaya tambahan mending tutup saja,” kata Ahmad.
Dia mengatakan mayoritas pedagang yang gulung tikar merupakan pedagang pakaian di Blok blok B dan sekitarnya.
“Ada yang tutup sudah bertahun-tahun ada yang baru beberapa bulan. Kalau jumlahnya saya belum mendata, kebanyakan di Blok B, pedagang fashion,” kata Ahmad.
Menurut dia membuat pasar kembali ramai adalah solusi terbaik atas kondisi itu. Dia mengaku sudah konsultasi dengan pemerintah, tapi sejauh ini belum ada penanganan. Alih-alih memberi solusi, pemerintah justru malah menaikkan tarif sewa kios.
“Kita kan sudah pernah audiensi dengan Disperindag, Pemkot dan Ketua DPRD, kita menjelaskan kondisi eksisting seperti itu dan mereka paham. Kami harap Pemkot bisa memberikan solusi, bukan sekarang menambah beban kenaikan tarif sewa. Seharusnya berikan solusi dulu, bulan memberikan beban dulu,” kata Ahmad.
Kepala UPTD Pasar Cikurubuk, Deri Herlisana menjelaskan di Pasar Cikurubuk terdapat 2.772 kios dan los pedagang yang berdiri di lahan seluas 4,4 hektar. Dia mengatakan masih melakukan verifikasi terkait jumlah kios yang tutup, karena verifikasi terbaru akan dilakukan di tahun 2026 ini.
Tapi dia memperkirakan setidaknya 30 persen kios pedagang dalam kondisi tutup, sehingga jumlahnya bisa saja mencapai 1.000 kios.
“Jadi melihat sisi administrasi bahwasanya dari jumlah 2.772 ini diasumsikan 30 persen kios dan loss ini tutup. Jadi di kisaran 1.000 kios yang tutup,” kata Deri.
Menurut Deri setidaknya ada beberapa faktor penyebab, mulai dari penurunan daya beli hingga kalah bersaing.
“Ini memang akibat beberapa faktor yakni penurunan daya beli konsumen, perdagangan online, lalu di samping kita juga ada kompetitor dengan pasar tradisional. Yang paling dominan usaha pakaian dan sendal paling banyak tutup,” kata Deri.
Terkait keberadaan toko grosir yang melayani eceran, sebagaimana dikeluhkan pedagang, Deri mengaku kesulitan mengambil langkah. Dia bahkan belum bisa menentukan apakah kehadiran toko besar di dekat pasar tradisional dibolehkan atau tidak.
“Kalau secara regulasi saya kurang paham, karena regulasi sesuai aturan pemerintah pusat melalui NIB (nomor induk berusaha). ketentuannya tidak tahu apakah boleh atau tidak,” kata Deri.
“Kita juga kebingungan cara mengantisipasinya, supaya pedagang pasar bisa berjualan normal kembali. Memang perlu pengawasan supaya tidak mati di pasar tradisional,” kata Deri.
Banyak Pedagang Gulung Tikar








