Bandung –
Di Jalan Cihapit, berdiri sebuah toko lawas yang bersahaja. Di hadapannya, deretan restoran mewah kini membentang luas.
Jalan Cihapit yang dulunya dipenuhi pedagang barang bekas dan barang klasik, kini telah berubah menjadi area kuliner dengan harga yang tak murah. Di seberang jalan, toko kaset tetap bertahan dan menjadi saksi sejarah transformasi Cihapit dari pusat barang antik era 2000-an hingga menjadi destinasi gaya hidup.
Toko kaset ini menjadi satu-satunya lapak yang masih berdikari. Sukiman sang pemilik toko senantiasa setia dengan koleksi kaset pita yang hanya dapat diputar menggunakan tape recorder. Sehari-hari ia menyusun kaset-kaset yang dipajang di depan tokonya sembari mendengarkan tembang kenangan yang elok di telinga.
Jalan Cihapit dulunya dipenuhi pedagang kaset dan elektronik, namun seiring waktu, lahan-lahan di sekitarnya telah beralih menjadi bangunan megah.
Sukiman mengaku telah berjualan sejak tahun 1999 dan merekam betul setiap perubahan di jalan tersebut. Meskipun tren kaset kini mulai kehilangan pamor dan dimakan zaman, ia tak bergeming. Ia mengungkapkan kesulitannya saat menerima permintaan pelanggan yang mencari kaset tertentu, baik untuk koleksi barang antik atau sekadar bernostalgia. Hal ini membuat Sukiman harus bekerja ekstra mencari ‘harta karun’ yang kian langka.
“Sekarang lumayan susah, kadang-kadang ada orang yang datang ke sini mencari kaset tapi tidak ada di sini. Biasanya orang yang pengin koleksi, tapi ada juga yang hanya ingin dengar lagunya saja. Di sini dulu memang banyak yang jualan seperti barang bekas, tapi tidak kayak saya mendirikan bangunan, biasanya gerobak atau yang dipikul gitu,” ujar Sukiman belum lama ini.
Kaset saat ini menjadi barang langka. Sebelum era internet merajai, kaset dapat ditemukan di mana-mana. Namun kini, benda fisik tersebut begitu sulit didapatkan. Sukiman mengaku, dulu ia hanya perlu menunggu stok, sekarang ia harus melakukan penelusuran serius untuk mendapatkan sebuah kaset. Seiring beralihnya industri musik ke digital, produksi kaset pun berhenti, sehingga Sukiman terkadang harus berburu kaset di pasar daring.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Kalau dulu kita tinggal jemput bola, tetapi sekarang susah. Apalagi kalau musisi-musisi luar negeri, biasanya sudah enggak. Saya kesusahan kalau ada orang yang request kaset yang tidak ada di sini. Ya mau gimana lagi, memang sudah sulit dicari,” ungkap Sukiman.
Acap kali ia menemukan pembeli dari Generasi X dan Baby Boomer yang datang melihat-lihat kaset di lapaknya. Mereka terkadang datang hanya untuk mendengar lagu yang membawa mereka pada ruang nostalgia. Kaset memang mencapai puncak popularitas dari pertengahan tahun 1900-an hingga awal 2000-an. Musisi seperti Red Hot Chili Peppers dan Michael Learns to Rock sering kali menjadi primadona para pembeli karena kepopulerannya.
“Orang-orang mencari benda fisik dari lagu-lagu dulu. Kayak misal musisi dulu yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Berbeda dengan musisi sekarang yang tidak ada kasetnya. Dulu orang-orang mengincar kasetnya,” kata Sukiman.
Walaupun kaset lebih identik dengan generasi tua, tidak jarang anak muda datang ke toko Sukiman untuk mencari benda klasik tersebut. Anak muda yang menggandrungi tren retro kini menjadikan hal tersebut sebagai gaya hidup. Tren klasik seperti fesyen dan musik kembali menjadi budaya populer yang merebak. Anak-anak muda acap kali mengincar rilisan musisi British Pop seperti Oasis dan The Beatles.
“Anak-anak muda biasanya cari lagu british pop atau slow rock kayak gini. Kayak kaset ini, Oasis sering didengar anak muda atau The Verve memang populer di anak-anak muda. Lagunya sampai sekarang diputar di mana-mana,” ungkap Sukiman.
Walaupun zaman senantiasa meredupkan daya tarik produk kaset, Sukiman tetap memilih untuk membuka tokonya. Ia percaya kaset akan selalu memiliki peminat setia, baik dari kalangan anak muda maupun orang tua.
“Kalau kayak gini memang ada peminatnya sendiri, jadi pasti bakal selalu ada. Orang-orang juga kadang nyari lagu Indonesia tahun 2000-an, peminatnya juga banyak, tetapi tidak tiap hari ada yang datang.” tutup Sukiman.







