Bandung –
Niat puasa Ramadan merupakan rukun wajib yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim sebelum menjalankan ibadah di bulan suci. Tanpa niat, puasa yang dilakukan dianggap tidak sah secara syariat, meskipun seseorang telah menahan lapar dan dahaga seharian penuh.
Secara hakiki, niat bertempat di dalam hati. Adapun tindakan mengucapkan bacaan niat secara lisan sering disebut sebagai ‘Talaffudz bin-Niyyah’.
Berniat dan ‘mengucapkan lafadz niat’ adalah dua entitas berbeda namun saling berkaitan. Seseorang dianggap telah berniat saat hatinya bermaksud mengerjakan sesuatu. Sementara itu, melafadzkan berarti mengikrarkan niat tersebut melalui lisan.
Lalu, bagaimana bacaan niat puasa Ramadan yang benar dan kapan waktu terbaik untuk mengucapkannya? Berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Niat
Dalam Islam, niat adalah kehendak di dalam hati untuk melakukan suatu ibadah semata-mata karena Allah SWT. Niat puasa Ramadan merefleksikan kesungguhan hati untuk menjalankan kewajiban puasa sebagai bentuk ketaatan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa niat menjadi penentu sah atau tidaknya sebuah ibadah, termasuk puasa Ramadan.
Laman NU Online dalam artikel berjudul “Macam-Macam Niat dan Fungsinya” menjelaskan bahwa niat adalah bermaksud melakukan sebuah perkara ibadah sambil beranjak melaksanakannya.
“Niat dalam istilah fiqih adalah qoshdus syai’ muqtarinan bi fi’lihi, yaitu tekad kuat melakukan sesuatu yang terbersit bersamaan dengan melakukan sesuatu tadi.” tulis laman tersebut.
Jika seseorang memiliki tekad kuat untuk beribadah namun tidak diikuti dengan perwujudan nyata dari tekad tersebut, maka hal itu belum bisa disebut sebagai niat dalam pengertian fiqih.
“Sedangkan tekad kuat yang ada dalam hati sebelum melakukan dikenal dengan nama ‘azm. Inilah bedanya niat dalam bahasa Indonesia dengan niat dalam istilah fiqih.” tulisnya.
Bacaan Niat Puasa Ramadan
Berikut adalah bacaan niat puasa Ramadan yang umum digunakan oleh masyarakat:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya:
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Waktu Membaca Niat Puasa Ramadan
Berdasarkan pandangan mayoritas ulama, niat puasa Ramadan dilakukan pada malam hari, terhitung sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar atau waktu Subuh.
Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan imam mazhab. Menurut Mazhab Syafi’i, niat wajib dilakukan setiap malam untuk puasa esok hari. Sementara bagi penganut Mazhab Maliki, diperbolehkan membaca satu niat di awal Ramadan untuk satu bulan penuh, selama tidak ada halangan yang memutus rangkaian puasa di tengah bulan.
Di Indonesia, umat Islam umumnya mengikuti pendapat Mazhab Syafi’i, sehingga niat dilakukan secara rutin setiap malam.
Bagaimana Jika Lupa Berniat?
KH Abdul Syukur, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Lampung, memberikan solusi terkait hal ini. Dalam artikel berjudul “Fiqih Moderat: Niat Puasa Ramadhan” di laman NU Online Lampung, ia menyarankan niat satu bulan penuh sebagai langkah antisipasi.
“Dikhawatirkan lupa atau lalai niat puasa yang berakibat pada meninggalkan niat puasa, sehingga untuk kehati-hatian (ikhtiat) orang yang mau berpuasa Ramadhan cukup niat sekali saja di malam Ramadhan dengan tujuan untuk niat puasa satu bulan Ramadhan dan ini dibolehkan oleh Imam Malik dan menurutnya hukumnya sah puasanya.” tulisnya.







