Di balik gemerlap Pasar Pananjung Pangandaran, seorang pedagang sibuk membolak-balik dagangannya. Subandi (55), penjual sayur, telah berjualan di pasar tersebut sejak era 2000-an.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Tak ada lampu yang menerangi dagangan Subandi. Akses jalan di depannya becek dan masih beralaskan tanah. Meski begitu, beberapa pelanggan setia tetap datang membeli.
Pemandangan ruko yang tutup, bangunan roboh, jalan becek, dan tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari yang memprihatinkan. Padahal, Pasar Pananjung merupakan pusat ekonomi bagi pelaku UMKM di Pangandaran.
Akses masuk pasar pun semrawut. Pembeli dapat mengendarai sepeda motor hingga ke dalam area lapak, meski tidak menjangkau seluruh pedagang. Jarak antara pedagang dan kendaraan sangat sempit, hanya berkisar satu meter. Hilir mudik kendaraan ini pun menambah polusi udara di dalam pasar.
Kondisi ini membuat pembeli yang berjalan kaki harus ekstra waspada. Sementara itu, banyak ruko yang lokasinya jauh dari jalur utama terpaksa gulung tikar. Bukan hanya sepi, sebagian bangunannya pun sudah roboh dan lapuk.
Nasib pedagang Pasar Pananjung seolah hanya digantung oleh janji revitalisasi. Subandi bercerita bahwa dirinya merasa malu karena tempatnya mencari nafkah selama puluhan tahun tak kunjung diperbaiki.
“Sejak tahun 2000-an saya pertama kali jualan di sini, belum ada perbaikan lagi,” ucap Subandi kepada infoJabar, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, pedagang hanya ingin berjualan dengan nyaman agar bisa memberikan pelayanan terbaik. “Ramainya wisatawan ke Pantai Pangandaran seharusnya berdampak pada peningkatan penjualan di pasar. Di sana ramai, ke sini pengunjung pastinya terdampak (sepi),” katanya.
Pasar Pananjung hanya berjarak kurang dari 1 km dari Pantai Pangandaran. Lokasinya bahkan berada di jalan nasional Cijulang-Pangandaran, sangat dekat dengan Bundaran Marlin. Kondisi pasar yang kumuh ini sangat kontras dengan statusnya yang berada di jantung kota.
“Pangandaran itu kota wisata paling indah di Jawa Barat, dan kedua setelah Bali di Indonesia. Tapi kok saya malu lihat pasarnya seperti ini, jelek,” ungkap Subandi.
Pedagang lainnya, Sopiah, menyebutkan sejak dulu ia hanya “menelan ludah” mendengar janji revitalisasi yang berulang kali diucapkan namun tanpa realisasi.
“Penginnya cepat dibangun. Maunya gratis, pembangunannya bukan kita yang bayar,” ucap Sopiah.
Dirinya mengaku sudah berjualan di Pasar Pananjung sejak tahun 1993, mulai dari lapak kecil hingga memiliki ruko. “Tapi sekarang tempat jualan saya sudah mulai rusak, bahkan kalau hujan bocor,” katanya.
Ia berharap jika revitalisasi terwujud, pemerintah memprioritaskan pedagang lama untuk mendapatkan ruko. Selain itu, ia menginginkan pengaturan jalur masuk dan keluar yang jelas agar arus pengunjung lebih teratur.
Hingga saat ini, janji revitalisasi tersebut belum juga terealisasi. Sejak kepemimpinan bupati sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Pangandaran mengaku masih menunggu bantuan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Pangandaran (HP2P), Suryaman, mengatakan saat ini banyak pedagang yang sudah gulung tikar. “Perkiraan kami, dari 700 ruko yang ada, hanya 60 persen yang bertahan. Sisanya 40 persen sudah tutup,” ujarnya.
Suryaman menyebutkan, selain kondisi pasar yang rusak, maraknya penjualan daring (online) juga menjadi faktor penyebab. “Paling banyak yang gulung tikar itu pedagang pakaian atau fesyen. Imbasnya besar ke mereka,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan revitalisasi pasar belum memungkinkan untuk dilaksanakan tahun ini. Hal tersebut dikarenakan kondisi keuangan daerah yang sedang dalam tahap efisiensi.
Menurut Citra, revitalisasi Pasar Pananjung membutuhkan biaya yang sangat besar. “Saya melihat dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), setidaknya butuh Rp80 miliar. Kalau semua diambil dari APBD, tentu tidak akan cukup,” pungkas Citra.


Pasar Pananjung hanya berjarak kurang dari 1 km dari Pantai Pangandaran. Lokasinya bahkan berada di jalan nasional Cijulang-Pangandaran, sangat dekat dengan Bundaran Marlin. Kondisi pasar yang kumuh ini sangat kontras dengan statusnya yang berada di jantung kota.
“Pangandaran itu kota wisata paling indah di Jawa Barat, dan kedua setelah Bali di Indonesia. Tapi kok saya malu lihat pasarnya seperti ini, jelek,” ungkap Subandi.
Pedagang lainnya, Sopiah, menyebutkan sejak dulu ia hanya “menelan ludah” mendengar janji revitalisasi yang berulang kali diucapkan namun tanpa realisasi.
“Penginnya cepat dibangun. Maunya gratis, pembangunannya bukan kita yang bayar,” ucap Sopiah.
Dirinya mengaku sudah berjualan di Pasar Pananjung sejak tahun 1993, mulai dari lapak kecil hingga memiliki ruko. “Tapi sekarang tempat jualan saya sudah mulai rusak, bahkan kalau hujan bocor,” katanya.
Ia berharap jika revitalisasi terwujud, pemerintah memprioritaskan pedagang lama untuk mendapatkan ruko. Selain itu, ia menginginkan pengaturan jalur masuk dan keluar yang jelas agar arus pengunjung lebih teratur.
Hingga saat ini, janji revitalisasi tersebut belum juga terealisasi. Sejak kepemimpinan bupati sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Pangandaran mengaku masih menunggu bantuan anggaran dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Pangandaran (HP2P), Suryaman, mengatakan saat ini banyak pedagang yang sudah gulung tikar. “Perkiraan kami, dari 700 ruko yang ada, hanya 60 persen yang bertahan. Sisanya 40 persen sudah tutup,” ujarnya.
Suryaman menyebutkan, selain kondisi pasar yang rusak, maraknya penjualan daring (online) juga menjadi faktor penyebab. “Paling banyak yang gulung tikar itu pedagang pakaian atau fesyen. Imbasnya besar ke mereka,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan revitalisasi pasar belum memungkinkan untuk dilaksanakan tahun ini. Hal tersebut dikarenakan kondisi keuangan daerah yang sedang dalam tahap efisiensi.
Menurut Citra, revitalisasi Pasar Pananjung membutuhkan biaya yang sangat besar. “Saya melihat dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA), setidaknya butuh Rp80 miliar. Kalau semua diambil dari APBD, tentu tidak akan cukup,” pungkas Citra.








