Nadi Distro Bandung Berdenyut di Trunojoyo Jelang Idul Fitri 2026

Posted on

Bandung

Menjelang Idul Fitri, kawasan Trunojoyo kembali bertransformasi menjadi wadah bagi berbagai jenama fesyen lokal untuk menjajakan kreasi terbaik mereka. Deretan stan semi-permanen kini berjajar menghiasi sepanjang jalan tersebut.

Jalan Trunojoyo telah lama masyhur sebagai titik nadi perkembangan mode independen atau distro di Kota Kembang. Namun, fenomena stan musiman menjelang Lebaran memberikan warna tersendiri. Bagi banyak pelaku usaha, momen ini menjadi waktu kebangkitan ekonomi yang signifikan.

Kiki, salah satu pemilik jenama Paper, mengungkapkan betapa masifnya antusiasme pembeli. “Tahun ini gila banget sih, omzetnya gila banget. Alhamdulillah enggak nyangka, karena tahun ini market luarnya lebih sadis,” ujar Kiki saat ditemui , belum lama ini.

Meski belanja daring kini sangat dominan, pengalaman belanja langsung di Trunojoyo tetap memiliki daya tarik tersendiri. Selain karena atmosfernya, kesempatan melihat dan mencoba barang secara langsung menjadi alasan utama pengunjung memadati kawasan tersebut.

Fauzi (22), seorang pengunjung yang sedang berlibur di Bandung, menjelaskan alasannya lebih memilih mengunjungi Trunojoyo secara langsung daripada berdiam diri di depan layar ponsel.

“Sebenarnya seru kayak gini, karena bisa melihat langsung, kita bisa nyobain barang yang kita mau. Apakah itu gelang, cincin, atau baju, kita bisa nyobain langsung dan melihat, ‘Oh iya ini emang bagus,’ jadi cocok atau enggaknya bisa kelihatan langsung,” tuturnya.

Selain itu, Luthfi (22), warga asli Bandung yang rutin berkunjung setiap tahun, menyatakan bahwa Trunojoyo adalah pusat kaus anak muda yang paling lengkap. Baginya, ada kebanggaan tersendiri saat mengenakan produk lokal asli Bandung untuk merayakan hari Lebaran.

Tren streetwear di Trunojoyo saat ini didominasi oleh pakaian berpotongan longgar. Fauzi mengamati bahwa koleksi yang ditawarkan para pedagang sangat relevan dengan selera generasinya, seperti baju dengan potongan boxy dan celana model baggy.

“Kalau di sini lebih ke tren-tren fashion anak muda saat ini ya, kayak bajunya boxy, cuttingan boxy, terus celana-celana juga pada banyak yang baggy. Jadi memang masuk buat anak-anak muda kayak aku,” tambahnya.

Tak hanya soal potongan, inovasi teknologi tekstil juga menjadi daya tarik utama. Raihan (19), asisten pemilik salah satu stan Vandermay, menunjukkan koleksi jaket yang dapat berubah warna berdasarkan suhu sebagai salah satu produk unggulan.

“Yang paling mahal ini, jaket yang bisa berubah warna. Ini asalnya hitam, kalau dipegang (kena suhu dingin) jadi putih. Kalau dicuci atau kena es, dia berubah warna,” jelas Raihan.

Di balik keriuhan tersebut, persoalan penggunaan trotoar untuk aktivitas dagang tetap menjadi perhatian serius bagi ketertiban kota.

Para pelaku usaha menyadari posisi mereka yang menggunakan ruang publik, namun mereka berharap ada solusi berkelanjutan agar denyut ekonomi kreatif ini tetap terjaga tanpa mengabaikan hak pejalan kaki. Kiki berharap pemerintah daerah bisa memberikan wadah yang lebih representatif bagi para pelaku industri kreatif di masa mendatang.

“Mudah-mudahan pemerintah bisa dengar ini, bisa mengalokasikan ke tempat yang lebih baik, yang bener. Tapi kalau dari kita sendiri, asalkan sifatnya positif, kenapa enggak? Kita ngerasa malah jadi guyub, rame aja,” tutupnya.