Momen Ngabuburit yang Tak Terlupakan di Alun-alun Palabuhanratu

Posted on

Sukabumi

Cahaya matahari perlahan meredup di ufuk barat Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (20/2/2026). Namun, di kawasan Alun-alun Masjid Agung yang bersisian dengan kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi, keriuhan justru baru dimulai.

Kawasan ini telah menjelma menjadi ruang publik paling hidup, tempat warga melepas penat sembari berburu penganan berbuka puasa.

Sore itu, aroma minyak goreng dari lapak penjual gorengan beradu dengan wangi segar buah-buahan dari deretan gerobak jus. Di sepanjang bahu jalan, para pedagang kaki lima menata dagangannya dengan rapi.

Ada jeruk peras segar, aneka jus buah dengan label “gula murni”, hingga kudapan tradisional seperti lumpia basah dan telur gulung yang asapnya mengepul tipis ke udara.

Bagi warga Palabuhanratu, kawasan ini bukan sekadar pasar kaget musiman. Ia adalah titik temu lintas generasi.

Febrianti (24), salah seorang warga, tampak antusias memilah takjil di antara kerumunan.

“Hampir setiap sore saya menyempatkan ke sini. Pilihannya lengkap, mulai dari yang segar sampai yang mengenyangkan. Harganya pun masih sangat terjangkau,” tuturnya.

Baginya, kemudahan akses dan variasi menu menjadi alasan utama mengapa kawasan ini menjadi primadona dibanding titik lainnya.

Ruang Bermain Anak

Pemandangan kontras terlihat di pelataran semen yang luas di depan Masjid Agung. Jika di sisi jalan dipenuhi warga yang berburu makanan, di tengah Alun-alun, suasana lebih menyerupai taman bermain.

Puluhan anak tampak lincah mengendarai mobil dan motor listrik (ATV mini) yang disewakan.

Tawa riang bocah-bocah juga terdengar dari area mandi bola yang dipagari plastik warna-warni. Di sudut lain, beberapa anak tampak tekun memegang alat pancing plastik di sebuah kolam mainan, sebuah aktivitas sederhana yang efektif untuk mengalihkan rasa lapar dan haus menjelang berbuka.

Hermawan (38), warga asal Cisolok, sengaja memboyong keluarganya ke sini. Sambil mengawasi putranya yang asyik bermain mobil-mobilan, ia menikmati suasana sore yang mulai sejuk di bawah naungan pohon-pohon besar.

“Di rumah, anak-anak sering merengek karena menunggu waktu buka. Kalau diajak ke sini, mereka senang dan tidak terasa waktu sudah mau magrib. Kami bisa berbagi peran; saya menjaga anak bermain, istri saya mencari takjil di depan,” ujar Hermawan.

Kemegahan arsitektur Masjid Agung Palabuhanratu dengan menara putihnya yang menjulang menjadi latar belakang yang ikonik bagi warga yang berswafoto.

Suasana hangat ini memberikan kesan mendalam, terutama bagi mereka yang sedang menempuh studi di luar kota.

Syeril (19), seorang mahasiswi yang tengah pulang kampung, merasakan ada ikatan emosional saat berada di Alun-alun.

“Vibenya sangat khas. Melihat orang-orang memakai busana muslim, keramaian yang tertib, dan pemandangan Masjid Agung itu membuat momen Ramadan terasa lebih kental. Ini benar-benar spot paling ikonik di sini,” katanya.

Suasana khas akan terasa ketika kumandang azan magrib menggema dari menara masjid, keriuhan di Alun-alun perlahan mereda.

Warga yang tadi berpencar, berkumpul di teras-teras bangunan atau masuk ke ruang utama masjid untuk berbuka puasa secara komunal.

Di Palabuhanratu, Alun-alun bukan hanya soal transaksi ekonomi, melainkan ruang sosial yang mempererat kebersamaan warga di bulan suci.