‘Misi Rahasia’ Berujung Eks Sekjen Pordasi DKI Pulang Tinggal Nama baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

Duka mendalam menyelimuti Agi Irvan Majibi (40). Sang ayah, Herlan Matrusdi (68), ditemukan tewas setelah berbulan-bulan meninggalkan rumah demi urusan di Yogyakarta.

Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Provinsi Pordasi DKI Jakarta itu ditemukan tak bernyawa di kawasan Gumuk Pasir, Grogol IX, Parangtritis, Kretek, Bantul, Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 07.30 WIB. Pihak keluarga menaruh curiga lantaran kondisi fisik jenazah yang dinilai janggal.

Saat ditemukan, korban mengenakan celana pendek hitam, kaus dalam putih, dan kaus berkerah biru yang tersingkap. Jasadnya dalam posisi telentang, kedua lutut menekuk, serta kedua tangan tertekuk di dada. Kedua matanya terbuka dengan luka lebam di bagian sekitar.

Sejumlah luka ditemukan pada wajah dan telinga korban, termasuk luka robek di pelipis kanan sepanjang 4 sentimeter, luka di pangkal hidung 1,5 sentimeter, lebam di mulut kiri, serta sobekan di kedua daun telinga. Rahang kirinya pun tampak bengkak. Meski demikian, polisi belum memastikan apakah ini merupakan kasus pembunuhan.

Pihak keluarga mengungkap sejumlah kejanggalan. Menurut Agi, ayahnya sudah sekitar enam hingga tujuh bulan tidak pulang ke rumah mereka di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, Herlan justru pulang tanpa nyawa. Setelah mendatangi RS Bhayangkara Yogyakarta, keluarga memastikan identitas korban melalui pengamatan langsung serta kecocokan ciri fisik.

“Foto, pakaian, dan ciri jasad yang ditemukan di Bantul itu ayah saya,” ujar Agi saat berbincang, Kamis (29/1/2026).

Selama berbulan-bulan, keluarga kehilangan jejak Herlan. Hingga pada Jumat (23/1/2026), sebuah unggahan di grup media sosial Pordasi DKI Jakarta mengabarkan Herlan telah wafat. Unggahan itu menyertakan foto Herlan dengan hidung tertutup kapas, mata lebam, dan tubuh terselimuti kain hingga leher.

Kabar itu mengejutkan keluarga. Sebab sebelumnya, keluarga sempat menghubungi ponsel Herlan dan menerima pesan suara yang menyatakan dirinya dalam keadaan baik. “Saat ibu minta share location, Bapak menolak. Katanya bahaya,” kata Agi.

Rentetan keanehan itu menjadi firasat buruk bagi keluarga. Hingga pada Rabu (28/1/2026), mereka menerima informasi penemuan jasad tanpa identitas di Bantul dengan ciri-ciri luka memar yang identik dengan foto yang beredar. Sebuah video amatir yang menampilkan wajah korban semakin menguatkan dugaan keluarga.

“Kami makin yakin itu Bapak. Keluarga langsung ke Yogya untuk memastikan, dan ternyata benar,” ucap Agi.

Tak hanya itu, kejanggalan lain muncul karena Herlan pergi tanpa pamit yang jelas. Saat terakhir kali meninggalkan rumah, ia mengaku hendak menjalankan sebuah “misi rahasia”. “Katanya urusan genting yang tidak bisa dibicarakan karena menyangkut nyawa,” tutur Agi menirukan ucapan ayahnya.

Selain Agi, duka mendalam dirasakan Wiwin Puji Astuti (37), putri ketiga Herlan. Ia diselimuti kebingungan atas misteri kematian ayahnya. Bersama dua saudaranya, Wiwin kini berada di Yogyakarta untuk mengawal proses autopsi di RS Bhayangkara.

Bagi Wiwin, rangkaian peristiwa sejak pekan lalu terasa sangat janggal. Ia terakhir kali bertatap muka dengan Herlan pada Agustus 2025. Saat itu, Herlan pulang ke rumahnya di Cakung hanya untuk mengambil pakaian dan sejumlah dokumen penting.

“Posisinya sudah mau berangkat lagi. Papa minta ongkos, pesan Grab, lalu ke Terminal Pulo Gebang. Entah mau ke mana dan sama siapa, saya tidak tahu. Itu terakhir saya bertemu,” ujar Wiwin.

Sejak saat itu, komunikasi dengan Herlan kian sulit. Nomor ponselnya kerap berganti. Wiwin menyebut ayahnya sempat kehilangan ponsel, lalu berkomunikasi menggunakan nomor baru milik seseorang bernama Feri. Terbatasnya akses komunikasi membuat keluarga hanya bisa mengandalkan pesan singkat yang jarang direspons.

Kejanggalan memuncak pada Jumat (23/1/2026). Wiwin membaca kabar di grup lingkungan rumah yang menyebut Herlan meninggal dunia akibat sakit ginjal dan jatuh di kamar mandi. Wiwin terkejut karena ayahnya tak memiliki riwayat penyakit tersebut. Ia pun segera menghubungi nomor yang biasa digunakan ayahnya.

“Alhamdulillah diangkat. Saya yakin itu suara Papa. Kondisinya memang agak lemah, tapi beliau bilang sehat, cuma sariawan. Papa bilang hari Senin pulang dan akan menceritakan semuanya,” kata Wiwin.

Namun esoknya, Wiwin menerima kabar yang bertolak belakang. Foto yang beredar memperlihatkan kondisi fisik Herlan yang mengenaskan. Anehnya, narasi yang beredar di lingkungan tertentu tetap menyebut penyebab kematian adalah gagal ginjal, bahkan disertai informasi penggalangan donasi.

Wiwin sempat mencoba menghubungi nomor yang diklaim sebagai kontak Pordasi dan kembali mengontak Feri. Jawaban yang ia terima selalu seragam: kondisi Herlan baik-baik saja dan akan pulang pada hari Senin.

Keanehan berlanjut pada Minggu. Pemilik nomor yang biasa digunakan Herlan mengirim pesan tertulis kepada Wiwin. Ia mengaku terganggu karena ponselnya terus-menerus dipinjam oleh Herlan, yang ia sapa dengan sebutan ‘Pak Haji’. Pemilik ponsel itu meminta Wiwin menasihati ayahnya dan mengaku hendak berangkat ke Sulawesi.

Selama berbulan-bulan, Herlan diketahui kerap berpindah lokasi, mulai dari Kediri hingga Malang. Setiap kali Wiwin meminta berbagi lokasi, Herlan selalu menolak dengan alasan keamanan.

“Beliau pernah bilang sedang ikut seseorang untuk memecahkan sebuah kasus. Cukup berbahaya. Katanya Bapak dilindungi seseorang jadi aman,” tutur Wiwin.

Dalam percakapan terakhir, Herlan hanya bicara singkat dan meminta Wiwin menunggu kepulangannya. Namun, kepulangan itu tak pernah terjadi. Tanda tanya besar kini menghantui keluarga, terutama setelah melihat detail luka pada jenazah.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

“Ada lebam di mata, pelipis kanan sobek, telinga mengeluarkan darah, rahang bengkak, lebam di punggung, dan ada luka lama di lutut,” ucapnya lirih.

Saksikan Live DetikSore :

Halaman 2 dari 3