Mimpi yang Menyala di Balik Karung Rongsokan dan Jalanan Indramayu

Posted on

Indramayu

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Uniyati (34) sudah memulai harinya. Tangannya cekatan menyiapkan bekal sederhana, memastikan dua anaknya siap berangkat sekolah. Dari pintu rumah, ia mengantar langkah kecil mereka dengan senyum yang menyimpan banyak harapan.

“Yang penting anak-anak sekolah dulu,” ujarnya pelan saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Lemahmekar, Indramayu, Selasa (24/2/2026).

Suaminya bekerja sebagai pencari ikan di laut. Penghasilannya bergantung pada cuaca dan hasil tangkapan. Ketika ombak tak bersahabat atau tangkapan sepi, pemasukan pun ikut menipis. Karena itu, Uniyati tak bisa hanya menunggu.

Menjelang siang, ia mengayuh sepeda tuanya yang telah dipasangi keranjang di bagian belakang. Ia berkeliling mencari rongsokan dari kawasan perumahan hingga pasar. Rutenya tidak pendek. Panas matahari, debu jalanan, dan rasa lelah menjadi teman akrab yang nyaris tak terpisahkan.

Setelah berkeliling, ia kerap beristirahat di pinggir Jalan Gatot Subroto. Di sana, ia duduk bersama pemulung lain, berbagi cerita tentang hasil hari itu, kadang cukup, tetapi lebih sering pas-pasan.

Hidup sebagai pemulung berarti hidup dalam ketidakpastian. Penghasilannya tak menentu. Hasil penjualan rongsokan kerap hanya cukup untuk menambah uang jajan anak-anak.

“Kalau lagi benar-benar tidak ada uang, saya terpaksa pinjam ke bank harian,” tuturnya.

Uniyati, pemulung di IndramayuUniyati, pemulung di Indramayu Foto: Burhannudin/

Beban terberat baginya bukanlah berjalan seharian di bawah terik matahari, melainkan saat tak mampu memenuhi kebutuhan kecil anak-anaknya. Namun, ia memilih untuk terus menyemangati diri. Bagi Uniyati, menyerah bukanlah pilihan.

Uniyati tinggal di bangunan berukuran sekitar 2 x 2,5 meter di belakang rumah mertuanya. Meski sempit dan terasa sesak, ruangan itu ditata serapi mungkin agar tetap nyaman untuk beristirahat bersama keluarga kecilnya. Untuk keperluan mandi dan mencuci, ia masih menumpang di rumah mertua.

“Alhamdulillah, yang penting masih ada tempat berteduh,” katanya.

Ia memiliki empat anak. Dua di antaranya telah bersekolah, satu duduk di kelas 3 SD dan satu di kelas 1 SD, sementara dua lainnya belum memasuki usia sekolah. Di tengah segala keterbatasan, ia menyimpan mimpi sederhana, memiliki rumah sendiri dan melihat anak-anaknya tumbuh sukses.

Tak jauh dari rumah Uniyati, Khaeriyah (46) menjalani kehidupan yang tak kalah berat. Ia memiliki lima anak. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan jika ada panggilan kerja. Jika tidak, ia membantu sang istri memilah rongsokan di rumah.

Anak pertama mereka baru saja lulus SMA. Anak kedua duduk di kelas 9 SMP. Dua anak lainnya masih bersekolah di SD, sementara si bungsu berusia dua tahun.

Bagi Khaeriyah, pendidikan anak adalah prioritas utama. Meski rongsokan hanya dijual setiap hari Minggu dengan hasil yang tak menentu-kadang Rp100.000, kadang hanya Rp50.000-ia tetap berupaya memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya.

“Dapatnya nggak nentu kadang Rp50 ribu kadang Rp100 ribu. Itu ditimbang seminggu sekali,” ucapnya saat ditemui di kediamannya yang tak jauh dari rumah Uniyati.

Khaeriyah (46), pemulung.Khaeriyah (46), pemulung. Foto: Burhannudin/

Bagi Uniyati dan Khaeriyah, memulung bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjuangan harian untuk menjaga dapur tetap mengepul dan mimpi anak-anak tetap menyala. Mereka mengayuh sepeda menyusuri jalanan kota. Tak jarang, anak-anak ikut dibawa berkeliling memungut barang-barang sisa yang terbuang, lalu mengubahnya menjadi harapan.

“Mau gimana lagi, anak saya nggak ada yang jagain,” kata Uniyati.