Mimpi Farhan Bawa Kuliner Bandung Mendunia

Posted on

Kota Bandung memiliki segudang potensi yang bisa menjadi daya tarik wisata. Salah satunya soal wisata kuliner. Segudang sajian kuliner dari mulai bakso tahu goreng (batagor), aci digoreng (cireng), seblak, cuanki hingga beragam jenis kuliner lainya seperti nasi timbel, colenak atau kue cubit bisa memanjakan setiap wisatawan yang datang.

Kuliner Bandung memang sudah tidak diragukan lagi cita rasanya. Bagi warga Indonesia ketika mendengar sebuah masakan dan ujungnya dibubuhi nama Bandung, pasti akan dicoba dan dicicipi.

Namun, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai, nama kuliner Bandung tidak seperti kuliner dari Thailand yang dikenal di mancanegara.

Politisi NasDem yang juga mantan anggota DPR RI ini ingin membawa kuliner dan budaya Kota Bandung lebih dikenal di kancah internasional, seperti Thailand.

Dalam kegiatan Gastrodiplomacy Journey: Immersive Culinary Experiences of Indonesia and Thailand, Farhan mengenalkan tiga jenis kuliner Bandung yang sudah dianggap sebagai warisan budaya takbenda yakni mie kocok, batagor dan Tahu Cibuntu.

Kegiatan tersebut juga merupakan perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Thailand, Universitas Padjadjaran, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dan Kedutaan Besar Kerajaan Thailand, dengan dukungan dari Pemerintah Kota Bandung.

“Kegiatan ini menjadi sebuah contoh bahwa kita perlu belajar banyak dari Thailand, soal kulinernya sampai mendunia. Dengan menu paling terkenal yaitu Tomyum dikenal seluruh dunia sampai mengenal produk lainnya,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, Minggu (27/4/2025).

Orang nomor satu di Kota Bandung ini mengungkapkan, Kota Bandung juga memiliki banyak kuliner khas, untuk di Indonesia namanya sudah popular, namun untuk di mancanegara nama kuliner Bandung haru didorong lagi.

“Saya kira ada hal menarik melihat respon pasar secara gastronomi, bahwa di Kota Bandung ada tiga jenis makanan jadi populer di Indonesia yaitu seblak, cireng dan cilok. Tiga makanan ini merakyat dan terkenal,” ungkapnya.

Farhan akan memanfaatkan gastronomi sebagai alat untuk diplomatik lebih erat dengan negara lain. “Saya kira bersama dengan ini bisa memanfaatkan budaya gastronomi sebagai alat untuk diplomasi,” tambahnya.

Farhan mendorong kepada unsur akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut seberapa besar kekayaan sumber pangan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di Kota Bandung.

“Saya minta unsur akademisi untuk sumber pangan di Kota Bandung. Karena konsumsi tinggi nanti akan bermanfaat bagi kita, Kota Bandung itu salah satu pusat perdagangan produk makanan, sehingga dibutuhkan penelitian,” jelas Farhan.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengatakan, Indonesia Gastrodiplomacy Series yang diluncurkan sejak tahun 2023, merupakan sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan peran gastronomi Indonesia sebagai alat diplomasi yang kuat, yang melampaui batas dan memupuk persatuan.

“Dengan merayakan tradisi kuliner Indonesia dan Thailand, kita tidak hanya menghormati warisan bersama, tetapi juga membuka jalan untuk kolaborasi yang lebih dalam dan kontak antar masyarakat yang lebih dekat,” kata Siti.

Deputi Bidang Usaha Menengah, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Bagus Rachman mengatakan, Thailand terkenal dengan aroma rempah-rempahnya, di Indonesia pun demikian bisa menguatkan hal tersebut.

“Bumbu rempah menjadi hal utama, kita perkuat. Sehingga akan menjadi branding Indonesia bahi negara lain khas dengan bumbu rempahnya,” tutur Bagus.

Hal senada diungkapkan Direktur Bidang Kuliner, Kementerian Ekonomi Kreatif, Andy Ruswar mengatakan Kota Bandung memiliki kekayaan kuliner yang cukup unik. Sehingga hal ini menjadi upaya untuk lebih meningkatkan gastronomi. “Kuliner ini menjadi salah satu 17 sub sektor, kadi kerjasama bisa dibuktikan dengan gastronomi diplomatik ini,” ucapnya.