Tersembunyi di sisi Pasar Baru, di sebuah gang yang dipadati gulungan kain setinggi manusia, tersimpan cerita panjang perniagaan tekstil Kota Kembang. Inilah Gang Tamim. Bukan sekadar gang, jalur ini adalah saksi bisu transformasi ekonomi masyarakat Bandung dari masa ke masa. Bagi pemburu kain, khususnya pencinta denim, nama Tamim memiliki daya tarik kuat yang tetap relevan di tengah persaingan pusat perbelanjaan modern.
Mengutip catatan Her Suganda dalam bukunya, Wisata Parijs van Java, sejarah nama jalan ini merujuk pada sosok saudagar kaya bernama Haji Tamim. Ia bukanlah penduduk asli Priangan, melainkan perantau sukses asal Palembang. Nama lengkap tokoh yang menjadi cikal bakal kawasan ini adalah Ki Agus Haji Muhammad Tamim, atau yang sering disebut Her Suganda sebagai Ki Agus Tamin.
Pada awal abad ke-20, kawasan yang terletak di sisi barat Pasar Baru ini merupakan permukiman yang dihuni oleh komunitas pedagang. Haji Tamim dikenal bukan hanya karena kekayaannya, melainkan juga kedermawanannya kepada warga sekitar. Ia memiliki peran signifikan dalam pembangunan infrastruktur lokal dan pengembangan ekonomi komunitas di area tersebut.
Penamaan jalan menggunakan nama tokoh masyarakat merupakan tradisi yang lumrah di Bandung pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, mirip dengan penamaan Jalan Alkateri atau Jalan Gardujati. Keberadaan Haji Tamim menjadi fondasi awal identitas kawasan ini sebagai pusat perniagaan yang dikelola oleh komunitas lokal yang kuat.
Mulanya, kawasan yang dikenal sebagai sentra kain ini bukanlah pasar tekstil. Di masa kolonial, Ki Agus Tamin dikenal sebagai pedagang rempah-rempah yang sukses. Kekayaannya yang melimpah membuatnya mampu menguasai lahan luas di sisi barat Pasar Baru.
Dalam bukunya, Her Suganda menggambarkan betapa kuatnya pengaruh keluarga ini. Kekayaan Ki Agus Tamin kemudian diwariskan kepada putranya, Ki Agus Abdul Sjukur. Keluarga ini hidup makmur pada zamannya dan tercatat rutin berwisata ke luar negeri. Nama besar keluarga inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan sebagai penanda kepemilikan dan pengaruh mereka di kawasan tersebut.
Pada dekade 1960-an, kawasan sekitar Pasar Baru mulai menggeliat sebagai pusat ekonomi utama di Jawa Barat. Gang Tamim yang letaknya strategis-terhubung langsung dengan Jalan Jenderal Sudirman dan kawasan Pasar Baru-mulai dipadati pedagang kaki lima dan toko-toko kecil. Awalnya, komoditas yang dijual masih beragam, mulai dari barang kelontong hingga kebutuhan rumah tangga.
Memasuki medio 1980-an hingga 1990-an, terjadi spesialisasi dagang yang signifikan. Permintaan pakaian jadi dan bahan tekstil di Bandung meningkat pesat seiring tumbuhnya industri kreatif dan clothing lokal. Para pedagang di Tamim pun mulai memfokuskan diri pada penjualan kain.
Perubahan drastis terjadi ketika toko-toko di kawasan ini beralih fungsi menjadi penyedia tekstil. Her Suganda mencatat faktor pendorong utamanya adalah melimpahnya pasokan dari pabrik-pabrik tekstil di wilayah Bandung Raya. Para pedagang di Tamim memanfaatkan peluang tersebut dengan strategi harga yang kompetitif.
Di Gang Tamim, pembeli bisa memilih kain, mengukur badan, dan menjahitkannya langsung di penjahit yang berderet di sepanjang trotoar. Proses ini sering kali selesai dalam waktu singkat.
Meskipun pusat perbelanjaan daring telah menjamur, Gang Tamim tetap mampu mempertahankan relevansinya. Ada aspek yang tidak bisa digantikan oleh belanja daring, yakni menyentuh tekstur kain chino, merasakan ketebalan denim 14oz, atau mencocokkan warna benang secara presisi.
Penelitian mengenai perilaku konsumen tekstil di Bandung menunjukkan bahwa faktor kepercayaan terhadap kualitas fisik menjadi alasan utama pasar fisik seperti Tamim tetap bertahan. Konsumen perlu memastikan langsung tekstur dan jenis kain sebelum memutuskan membeli, terutama untuk bahan yang akan digunakan sebagai produk fesyen jangka panjang.
Bagi wisatawan atau warga lokal yang hendak berkunjung, berikut adalah panduan untuk mendapatkan pengalaman terbaik:
Datang Lebih Pagi: Toko-toko biasanya buka mulai pukul 08.00 WIB. Datang pagi berarti menghindari kemacetan parah dan mendapatkan pelayanan yang lebih fokus dari pedagang.
Bagi infoers yang membawa kendaraan pribadi, harap perhatikan keterbatasan lahan parkir di lokasi. Mengingat potensi kemacetan, disarankan untuk memarkir kendaraan di area yang telah disediakan di luar jalan utama, lalu berjalan kaki menyusuri eksotisme Gang Tamim.







