Menyibak Legenda Pangeran Gencay yang Berakhir Tragis di Waduk Darma

Posted on

Waduk Darma merupakan salah satu bendungan ikonik di Kabupaten Kuningan. Jika dilihat dari tepi jalan Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kuningan hamparan airnya tampak tenang dan dalam. Pemandangan damai ini kian eksotis dengan balutan perbukitan hijau kokoh yang mengelilinginya.

Di balik keindahannya, Waduk Darma menyimpan legenda yang diwariskan turun-temurun. Kepala Desa Jagara, Umar Hidayat, menuturkan salah satu mitos atau cerita rakyat populer adalah kisah tenggelamnya Pangeran Gencay yang diyakini oleh sebagai asal-usul Waduk Darma.

Umar menceritakan, dahulu hidup seorang tokoh masyarakat bernama Mbah Dalem Cagur yang memiliki putra bernama Pangeran Gencay. Sebagai seorang ayah, Mbah Dalem Cagur sangat menyayangi putra tersebut.

Mengetahui Pangeran Gencay gemar memelihara ikan air tawar, Mbah Dalem Cagur berinisiatif membuat bendungan sebagai tempat bermain sang putra. Saat proses pembuatan bendungan, Mbah Dalem Cagur menggelar perjamuan besar.

Saking besarnya perjamuan itu, konon Mbah Dalem Cagur menggunakan panci raksasa untuk menanak nasi di sebuah bukit yang berada di sekitar Waduk Darma. Kini, lokasi tersebut dikenal warga sebagai Bukit Pangliwetan atau tempat menanak nasi.

Setelah bendungan rampung, Mbah Dalem Cagur membuat perahu kayu untuk sarana bermain Pangeran Gencay. Namun petaka datang saat bulan purnama; perahu yang ditumpangi sang pangeran bersama teman-temannya tenggelam di tengah bendungan.

Mendapat kabar duka tersebut, Mbah Dalem Cagur langsung memimpin pencarian. Namun, jasad sang pangeran tak kunjung ditemukan. Dalam keputusasaannya, ia memerintahkan warga membobol bendungan agar airnya surut.

Setelah kering, jasad Pangeran Gencay ditemukan sudah tidak bernyawa di bendungan. Tempat ditemukannya Pangeran Gencay tersebut, diberi nama Labuhan Bulan yang berarti perahu yang tenggelam saat bulan purnama.

Menurut Umar, jasad tersebut kemudian dimakamkan di daerah yang kini dikenal sebagai Munjul Bangke yang berada di Desa Jagara. Lokasi makamnya kini jarang dikunjungi karena medan yang terjal dan sulit ditempuh.

“Pangeran Gencay dimakamkan di sekitar Waduk Darma. Lokasinya sudah jarang dikunjungi karena medannya sangat berat untuk ditempuh,” tutur Umar.

Selain kisah Pangeran Gencay, mitos lain yang menyelimuti Waduk Darma adalah keberadaan belut putih raksasa dan ikan mas berukuran tak lazim. Penduduk setempat meyakini kedua hewan tersebut sebagai siluman penjaga Waduk Darma.

“Ada mitos siluman belut putih yang katanya penunggu Waduk Darma. Kabar itu santer di kalangan warga. Bahkan, ada pemancing yang mengaku pernah melihat ikan mas berukuran sangat besar,” kata Umar.

Terlepas dari mitos tersebut, Waduk Darma adalah urat nadi ekonomi bagi warga Desa Jagara. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup sebagai nelayan, pembudidaya ikan dan bekerja di sektor pariwisata yang ada di sekitar Waduk Darma.

Untuk sektor pariwisata, penduduk bekerja sebagai karyawan di objek wisata, restoran dan sebagai pedagang di sepanjang Waduk Darma. Oleh karena itu, Umar berharap agar masyarakat dapat bersinergi menjaga kelestarian waduk yang telah memberi banyak manfaat tersebut.

“Waduk Darma adalah sumber mata pencaharian utama. Banyak warga memiliki kolam jaring apung. Dalam setahun, produksi ikan nila dan mas dari sini bisa mencapai ribuan ton. Semenjak jadi Desa Wisata banyak penduduk sini yang terserap bekerja. Sehingga untuk pengangguran di Jagara itu minim. Jadi istilahnya tidak ada pemuda yang nganggur,” pungkas Umar.

Gambar ilustrasi