Menyelami Buku Klasik di Taman Bacaan Hendra

Posted on

Hal-hal bernuansa klasik tidak pernah kehabisan cerita, bahkan penikmatnya semakin bertambah. Salah satunya adalah buku klasik.

Koleksi ini membawa kesan nostalgia dan cerita yang jarang ditemui di masa modern, khususnya komik atau cerita bergambar (cergam) yang kini sulit ditemukan.

Namun, di Bandung terdapat perpustakaan yang mengoleksi komik, cergam, dan novel yang tidak lekang waktu. Taman Bacaan Hendra menjadi tempat bagi bacaan-bacaan klasik.

Taman Bacaan Hendra merupakan salah satu perpustakaan swasta tertua di Bandung yang sering kali menjadi tujuan para pencinta buku. Berlokasi di Jalan Sabang, Taman Bacaan Hendra dekat dengan area kuliner sehingga perpustakaan ini tampak jelas bagi para pengunjung. Perpustakaan swasta tertua ini berdekatan dengan Pasar Cihapit yang menjadi tujuan para anak muda untuk mencari jajanan kuliner.

Taman Bacaan Hendra telah hadir dari tahun ke tahun dan jadi saksi bisu perubahan zaman. Sebagai saksi perkembangan zaman, perpustakaan ini tentu menyimpan cerita pendiriannya.

Bermula pada 1965, sepasang suami-istri bernama Cornelius Huwae dan Juliana Huwae membeli rumah di Jalan Sabang Nomor 28. Walaupun terlihat minimalis, hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk membangun perpustakaan.

Juliana Huwae menginisiasi Taman Bacaan Hendra di garasi kecil rumahnya. Karena kecintaannya pada sang anak, Juliana tanpa pikir panjang menyematkan nama putranya, Hendra, untuk perpustakaan tersebut. Juliana, sebagai seorang model dan karyawan BUMN, memilih meninggalkan profesinya agar dapat mengurus anak pertamanya sambil tetap produktif dari rumah.

Pada 1967, koleksi pertama di Taman Bacaan Hendra adalah komik Indonesia tahun 1960-an, seperti Cerita Gareng Petruk dan cerita bergambar lama lainnya. Semakin hari, koleksi dan pengunjung Taman Bacaan Hendra semakin berkembang.

Pengunjung tidak hanya tetangga sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Cimahi, Garut, Tasikmalaya, hingga Cirebon. Tahun 1980 mereka memutuskan memindahkannya ke rumah bagian tengah yang sebelumnya merupakan ruang tamu.

Perluasan kedua berlangsung pada 1982 akibat dari meluasnya segmen pembaca mereka. Rak-rak buku diganti dan ditata ulang untuk menampung koleksi yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Hingga saat ini, pengunjung senantiasa berdatangan, salah satunya adalah Tegar. Ia mengatakan tempat ini cocok untuk membaca, tetapi cukup relevan juga untuk nongkrong bersama teman.

“Iya kang di sini enak tempat dan nyaman. Saya bersama teman, di sini tahu dari Instagram. Koleksi bukunya banyak, worth it buat yang suka baca,” ujar Tegar.

Perpustakaan ini menyediakan tidak hanya ruang baca, tetapi juga kafe yang menawarkan makanan dan minuman untuk menemani waktu membaca. Taman Bacaan Hendra ramai dikunjungi oleh para pemuda yang gemar membaca, baik hanya melihat-lihat, membaca buku, atau ngopi. Buka dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB, perpustakaan sekaligus kafe ini memiliki banyak sudut yang nyaman.

Bagi pengunjung yang mencari ketenangan dan area bebas asap rokok, tersedia ruang di sebelah kiri perpustakaan yang memungkinkan fokus membaca lebih tinggi. Area depan perpustakaan, yang terbuka dan cukup menampung rombongan, juga tersedia.

Bagi pecinta buku komik dan cergam klasik, Taman Bacaan Hendra menjadi rekomendasi utama. Pembaca dapat menyelami berbagai koleksi yang penuh nostalgia di Taman Bacaan Hendra.