Bandung –
Program pemerintah Menuju Indonesia Emas 2045 menuntut lompatan besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk keluar dari jebakan pertumbuhan di kisaran 5 persen, Indonesia dipandang perlu mengakselerasi kontribusi sektor teknologi, industri, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai mesin pengungkit utama menuju negara maju.
Stabilitas makroekonomi dan ketahanan fiskal yang saat ini relatif terjaga dinilai belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Tanpa peningkatan produktivitas berbasis inovasi dan teknologi, target pertumbuhan tinggi yang dibutuhkan untuk menyongsong 2045 dikhawatirkan sulit tercapai.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Merespons tantangan tersebut, Ikatan Alumni ITB Angkatan 1980 (ITB80) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Strategi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (31/1/2026). Seminar ini menjadi ruang diskusi strategis untuk merumuskan peran perguruan tinggi, alumni, dan industri dalam mempercepat laju pembangunan nasional.
Seminar tersebut menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto. Dalam pemaparannya, Brian menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi tinggi hanya dapat dicapai jika Indonesia mampu meningkatkan produktivitas melalui penguatan industri berbasis sains dan teknologi.
“Saya diundang oleh alumni ITB 80 untuk seminar Nasional mendorong produktivitas untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen. Tentu ini bagian dari upaya mendukung apa yang diinginkan presiden dan seluruh bangsa bahwa bangsa kita harus melaju cepat dan di sinilah peran yang vital adalah munculnya industri berbasis sains dan teknologi, itu yang akan memiliki efek berlipat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ujar Brian.
Menurutnya, industri berskala besar membutuhkan dukungan kuat dari riset, inovasi, dan SDM dengan keterampilan berisiko tinggi (high risk skill). Di sinilah peran strategis perguruan tinggi menjadi sangat krusial.
“Di situlah peran dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan, saya dalam paparan terlihat bahwa untuk industri besar kebutuhan high risk skill, riset, inovasi itu tinggi. Jadi kita berharap di sinilah perguruan tinggi dan alumni bisa mengakselerasi,” katanya.
Brian menilai alumni perguruan tinggi memiliki posisi unik sebagai penghubung antara dunia akademik dan industri. Dengan pengalaman, jejaring luas, serta keterlibatan langsung di sektor industri, kolaborasi alumni dan kampus diyakini mampu mempercepat transfer riset ke kebutuhan nyata industri.
“Karena alumni memiliki sumber daya manusia, pengalaman luas, jejaring luas dan beberapa dari mereka memiliki industri, dengan adanya kolaborasi ini perguruan tinggi bisa melakukan riset untuk mendukung industri yang ada,” ungkapnya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyiapkan program riset hilirisasi yang secara langsung menjawab kebutuhan industri.
“Kami Kemendiktisaintek punya program yaitu riset hilirisasi, jadi industri kita tanya apa kebutuhannya, apa yang mesti diriset, kebutuhan inovasi apa, nanti kementerian akan mencarikan guru besar dan peneliti yang sesuai bidangnya, bahkan kita akan mendanai melalui program pendanaan riset untuk mendukung kebutuhan industri,” jelas Brian.
Ia berharap, melalui pendekatan ini, industri nasional memiliki fondasi inovasi dan riset yang kuat sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan naik kelas di tingkat global.
“Harapannya industri memiliki kekuatan inovasi, riset dan dengan begitu industri semakin tinggi produktivitas dan menjadi industri berkelas,” ucapnya.
Brian juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan basis data komprehensif mengenai potensi perguruan tinggi dan para akademisi di Indonesia. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk menyelaraskan kebutuhan bangsa dengan kapasitas riset nasional.
“Kita punya database perguruan tinggi, guru besar, bahkan pak presiden meminta dilakukan kajian soal kebutuhan bangsa kita sudah kita klaster yang diisi dosen dan guru besar lintas perguruan tinggi,” tuturnya.
Menurut Brian, fokus utama pengembangan tetap diarahkan pada bidang sains dan teknologi, terutama untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah. “Yang utama bidang sains teknologi, dalam kondisi sekarang kita butuh industri berbasis sains teknologi apalagi kita punya kekayaan mineral banyak,” jelasnya.
Sementara Rizal Affandi Lukman, alumni ITB80, yang juga tim ahli Kemenko Perekonomian, bonus demografi yang dialami Indonesia akan mencapai puncaknya pada periode 2035-2040. Di era bonus demografi ini, usia produktif mendominasi struktur populasi.
“Bonus demografi tidak akan berarti jika tidak dididik menjadi tenaga terampil. Tenaga terampil diperlukan untuk meningkatkan peran AI dan digital teknologi dalam dunia UMKM yang jumlahnya amat banyak,” ujar Rizal.
Menurutnya, dengan peningkatan ketrampilan diharapkan pendapatan masyarakat bertambah sehingga secara nasional bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Pendorong utama pertumbuhan ada tiga yaitu inovasi, produktivitas, dan peningkatan kualitas SDM,” katanya.







