Ciamis –
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq melakukan inspeksi mendadak (sidak) kebersihan dan pengelolaan sampah di sejumlah sudut Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (1/2/2026) sore. Dalam sidak tersebut, Hanif menyusuri kawasan permukiman hingga pasar tanpa didampingi unsur Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Ia mengawali sidak di permukiman Lingkungan Bolenglang, Kelurahan Kertasari. Di sana, Hanif berdialog dengan warga yang sudah memilah sampah dari rumah, meski ia masih menemukan warga yang membuang sampah ke sungai. Hanif kemudian bergeser ke Desa Bojongmengger dan menemukan warga yang masih membakar sampah di galian tanah.
Sidak kemudian berlanjut ke Pasar Desa Bojongmengger, Bank Sampah Induk, hingga Pasar Manis Ciamis. Di sejumlah pasar, Hanif melihat praktik pemilahan sampah sudah mulai diterapkan oleh sebagian pedagang. Meski demikian, ia mencatat masih ada pedagang yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Usai sidak, Hanif mengungkapkan berdasarkan penilaian tata kelola sampah nasional, Kabupaten Ciamis menempati posisi tertinggi dari 514 kabupaten/kota di Indonesia.
“Secara prinsipil, berdasarkan kerangka penilaian tata kelola sampah nasional, Ciamis saat ini menjadi kabupaten dengan nilai tertinggi dari 514 kabupaten/kota yang dipantau selama satu tahun,” ujar Hanif.
Ia menjelaskan, penilaian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem penganggaran, sumber daya manusia, hingga ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah. Termasuk di dalamnya keberadaan Bank Sampah Induk, Bank Sampah Unit, TPS 3R, TPST, serta pengelolaan TPA.
“TPA Ciamis sudah controlled landfill sehingga nilainya relatif tinggi. Semua parameter kita hitung secara nasional,” jelasnya.
Dengan capaian tersebut, Ciamis dinilai memiliki potensi besar untuk meraih penghargaan Adipura. Namun, Hanif menegaskan sidak lapangan tetap dilakukan untuk memastikan kondisi nyata di masyarakat.
“Karena itu kami turun langsung ke sudut-sudut kota. Masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan oleh Pak Bupati dan jajarannya, tapi secara teknis harus diakui hampir di seluruh komponen desa dan masyarakat, pemilahan sampah sudah berjalan,” katanya.
Hanif mengaku terkesan karena pemilahan sampah bahkan dilakukan oleh warga di rumah-rumah sederhana. Menurutnya, kesadaran tersebut tumbuh karena sampah memiliki nilai ekonomi.
“Warga memilah sampah karena bisa dijual. Tapi masih ada yang dibakar. Ini yang menjadi pekerjaan rumah untuk disempurnakan,” ujarnya.
Hanif berharap Ciamis bisa menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah. Ia menilai krisis sampah saat ini merupakan persoalan serius yang harus ditangani secara tegas dan menyeluruh.
“Indonesia hari ini darurat sampah dan kita tidak boleh main-main. Kalau memang perlu penegakan hukum, harus ditegakkan. Ciamis saya harapkan bisa menjadi trigger dan martil, contoh bagi daerah lain,” tegasnya.
Ia pun mengaku tidak menyangka Ciamis menempati posisi tertinggi dalam penilaian nasional.
“Terus terang ini di luar ekspektasi saya. Tapi setelah turun langsung ke lapangan, saya bisa melihat kenapa nilainya tinggi. Insya Allah, kalau PR-nya bisa diselesaikan dalam waktu dekat, Ciamis berpeluang besar menerima Adipura,” pungkas Hanif.
Menanggapi kunjungan Menteri LH, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengakui masih ada kekurangan dan kelemahan dalam mengelola sampah. Pemkab Ciamis baru punya mimpi, niat, keinginan supaya Kabupaten Ciamis menjadi kota bersih.
“Sementara dengan keterbatasan, kami sangat hampir tidak bisa bergerak. Kami hanya mengajak, mengimbau peran serta partisipasi masyarakat,” kata Herdiat.
Menurutnya, jika mengelola sampah secara digital atau menggunakan mesin sampah, Herdiat mengakui pihaknya tidak mampu. Pemda tidak punya uang untuk membeli mesin pengolahan sampah.
“Makanya kami mengimbau masyarakat untuk memilah sampah dibiasakan dari rumah,” kata Herdiat.






