Sukabumi –
Suara benturan golok dengan batok kelapa terdengar nyaring di ruas jalan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Di balik tumpukan kelapa hijau, nampak sosok pria paruh baya dengan senyum yang terus mengembang.
Ia adalah Suherlan (36), atau yang akrab disapa Bombom oleh warga sekitar. Warga Kampung Cinyocok, Desa Cidadap ini punya cara sendiri menjemput berkah menjelang bulan suci Ramadan.
Rabu (18/2/2026) siang, Bombom tampak sibuk melayani pembeli di lapak sederhananya yang berada di jalur menuju Pajampangan. Jika biasanya ia melaut mencari ikan atau menarik pedal gas ojek, khusus menyambut Ramadan, ia beralih profesi menjadi pedagang kelapa musiman.
Tahun ini, bapak tiga anak tersebut mengaku sengaja ‘curi start’. Jika pedagang lain baru mulai saat puasa tiba, Bombom sudah nangkring di pinggir jalan sejak H-3 Ramadan.
“Tahun ini saya sengaja mulai tiga hari sebelum puasa. Biar warga yang mau persiapan sahur atau stok buat buka hari pertama nggak susah nyarinya,” kata Suherlan saat ditemui di lapaknya.
Dalam sehari ia mampu menyediakan hingga 50 butir kelapa. Stok tersebut ia dapatkan langsung dari kebun-kebun milik warga lokal di wilayah Simpenan. Dalam sehari ia bisa sampai tiga kali menyiapkan stok dengan jumlah yang sama.
Harga Miring Ramah di Kantong
Satu hal yang membuat lapak Bombom selalu ramai adalah harganya yang miring. Di saat harga kebutuhan mulai naik, ia tetap mematok harga yang sangat terjangkau bagi tetangga dan pengendara yang melintas.
Untuk kelapa muda, ia hargai Rp 5.000 per butir, sementara kelapa tua untuk bumbu masak dipatok Rp 7.000. Harga ini diakui warga lebih murah dibanding harga pasar pada umumnya.
“Semoga jualan ramai dan pembeli puas. Yang penting saya bisa terus berusaha buat keluarga,” imbuhnya.
Bagi Suherlan, tak ada kata gengsi dalam kamus hidupnya. Di hari biasa, ia adalah seorang nelayan yang terbiasa bertarung dengan ombak.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Jika laut sedang tak bersahabat, ia beralih profesi menjadi tukang ojek atau pekerjaan serabutan lainnya.
Prinsip Bombom sederhana, pantang menyerah sebelum bertempur. Baginya, setiap tetes keringat adalah investasi untuk masa depan ketiga buah hatinya.
“Namanya usaha pasti ada capeknya, tapi saya nggak mau mengeluh. Rezeki itu harus dijemput dengan ikhtiar, bukan ditunggu,” tegasnya sambil kembali mengayunkan golok ke arah kelapa.







