Menilik Kilas Balik Akiat, Sang Legenda Layang-layang Dunia

Posted on

Bandung

Indonesia pernah memiliki maestro yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia lewat layangan adu. Ia adalah Akiat, pria asal Bandung yang mendedikasikan hidupnya pada layang-layang sejak berusia 10 tahun. Akiat menorehkan banyak prestasi sebagai juara dunia dalam ajang yang diselenggarakan di Prancis.

Sejak kecil, tepatnya pada 1965, pria bernama lengkap Lei Fie Kiat ini sudah mulai berjualan layangan untuk menyambung hidup sepeninggal ayahnya. “Umur 10-an tahun, saya ingin buat jajan. Pas musim layangan, saya bikin sendiri terus dijual,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (30/1/2024).

Kala itu, pilihan permainan anak-anak belum beragam seperti sekarang, layang-layang menjadi primadona hiburan. “Dulu itu kalau sore atau pagi saat libur, dari Jawa, Jakarta, sampai luar pulau, istilahnya satu Indonesia main layangan,” tambah Akiat.

Kedekatan Akiat dengan dunia layangan membuatnya sering terlibat dalam penyelenggaraan pertandingan lokal, seperti perayaan Agustusan, hingga tingkat nasional pada era 1980-an hingga 1990-an. “Dulu di sini belum ada Jalan Pasir Koja. Saya sering mengadakan pertandingan pas Agustusan. Lalu ada tokoh layangan, Pak Kamin, kalau mau mengadakan lomba di Jakarta pasti menghubungi saya,” ungkapnya.

Akhirnya, Akiat terjun langsung mengikuti perlombaan tingkat nasional. Kemenangan di kompetisi nasional menarik perhatian Presiden Klub Layang-Layang Internasional asal Prancis, yang kemudian membawanya ke ajang kompetisi dunia.

“Dia tertarik dengan kemampuan saya, lalu datang ke rumah dan mengajak saya ikut kejuaraan di Prancis,” jelasnya.

Dua pertandingan diikuti Akiat pada 1998. Kompetisi yang diikuti sekitar 50-60 negara tersebut tak membuatnya gentar. Akiat berhasil memboyong Juara I dalam kedua kompetisi tersebut, membuktikan bahwa ia layak menyandang gelar maestro layang-layang.

Akiat kembali berpartisipasi dalam ajang dua tahunan tersebut pada 2000, 2002, dan 2004. Ia hampir selalu meraih Juara I, kecuali pada 2002 saat ia harus puas di posisi ketiga karena kondisi fisik yang menurun.

“Sebetulnya waktu itu posisinya seri, kedua layangan putus hanya beda sepersekian detik. Namun, wasit menyatakan saya kalah. Seharusnya pertandingan diulang, tapi saya sudah sangat kelelahan,” jelas Akiat. Usai pertandingan, lawan Akiat bahkan memberikan alat bantu yang digunakannya kepada Akiat sebagai bentuk penghormatan.

Kekalahan itu sempat memadamkan semangat Akiat selama berbulan-bulan. Namun, ia bangkit pada kompetisi 2004. Akiat berhasil membuktikan taringnya dengan kembali meraih Juara I, sekaligus menutup sepak terjangnya di kancah internasional dengan kemenangan manis.

Kejuaraan dunia memberikan pengalaman dan jaringan pertemanan yang luas bagi Akiat. “Sampai sekarang banyak teman dari luar negeri yang masih ke Bandung setiap tahun sengaja untuk menemui saya dan keluarga,” ujarnya. Salah satunya adalah Ronald, warga negara Belanda yang mengagumi teknik permainan Akiat. “Dia bangga melihat saya main. Sampai sekarang masih sering berkunjung,” tutur Akiat.

Mulanya, Akiat enggan memublikasikan prestasinya karena merasa malu hanya menjadi juara dunia layang-layang. Namun pada 1999, saudara iparnya meyakinkan Akiat untuk membagikan kisahnya karena telah mengharumkan nama Indonesia.

“Awalnya masyarakat tidak ada yang tahu. Tapi saudara ipar saya bilang, saya sudah jadi juara dunia, jadi tidak perlu malu. Saya coba bicara dengan wartawan dan akhirnya berita itu tersebar luas,” ungkap Akiat.

Kini, nama Akiat telah diabadikan sebagai nama toko layangan miliknya. Nama itu terpampang nyata di setiap label kemasan senar yang ia jual.