Mengulik Fakta Unik Sale Pisang, Camilan yang Laris saat Ramadan

Posted on

Tasikmalaya

Satu dari sekian banyak camilan khas Nusantara adalah sale pisang. Dibalik rasanya yang manis legit dengan aroma khas, makanan berbahan dasar buah pisang ini memiliki banyak keunikan. Mulai dari cara pengolahannya hingga namanya yang tergolong unik. Mengapa namanya sale? mengapa tidak manisan pisang?.

Sale pisang juga menjadi salah satu menu hidangan Lebaran masyarakat di perkampungan wilayah Priangan Timur. Di pertengahan Ramadan, biasanya jemuran sale pisang akan banyak dijumpai di permukiman warga. Aromanya yang khas acap kali menggoda perut kosong yang sedang berpuasa.

Di sisi lain, bagi para perajin atau produsen sale pisang, bulan Ramadan menjadi masa marema alias peak season. Mereka menggenjot produksi demi meraih cuan di bulan penuh berkah ini.

Seperti yang dilakukan oleh pasangan Abah Ahya Sunarya (72) dan Onih (61) warga Kampung Kampung Baros, Dusun Nangoh, Desa Cibanteng, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya. Abah Ahya, boleh jadi ‘pemain lama’ dalam produksi sale pisang. Dia sudah menekuni usaha produksi sale pisang sejak era tahun 70-an. Sale pisang buatannya sudah cukup terkenal di Tasikmalaya, brandnya Sale Pusaka.

“Awal mula membuat sale pisang sekitar tahun 1975 itu mertua yang membuat. Kalau saya mulai ikut, sekitar tahun 90-an,” ujar Onih belum lama ini.

Dengan terbuka, Onih berbagi tips terkait cara membuat sale yang enak. Menurut dia kuncinya terletak pada jenis pisang yang dipilih, yakni harus pisang ambon. Kalau ada pisang ambon lumut, itu jauh lebih bagus.

“Kuncinya ada di pisang, harus pisang ambon. Kemudian ukuran juga berpengaruh ke hasil akhir, yang mudah ukuran sedang,” kata Onih.

Secara umum proses pembuatan sale pisang adalah menghilangkan kadar air pada pisang yang sudah diiris tipis. Proses ini diawali dengan mengupas dan membersihkan pisang dari serabut cangkang. Kemudian diiris tipis lalu dijemur hingga kering. Untuk memberi aroma asap atau sensasi smoky, sekaligus memaksimalkan pengeringan, irisan pisang yang sudah dijemur kemudian ditaruh di atas tungku perapian. Setelah itu barulah irisan pisang didiamkan beberapa hari agar terbentuk tekstur kenyal. Sampai saat ini sale pisang basah sudah jadi, jika ingin membuat sale pisang kering, proses selanjutnya tinggal digoreng dengan dibalut sedikit tepung.

“Resep sale pisang sebenarnya sudah lumrah, gampang. Ibu-ibu banyak yang bisa. Yang penting kering, lalu muncul semacam karamel gula alami dari pisangnya,” kata

Sale Pisang Tasikmalaya Foto: Faizal Amiruddin/

Onih. Satu kilogram sale pisang, oleh Onih dijual dengan harga Rp 50 ribu. Jika sudah di warung atau di toko oleh-oleh, tentu harganya lebih tinggi. Produksi Onih menyebar ke berbagai daerah, bahkan sampai ke luar pulau Jawa.

“Ya Alhamdulillah kalau sale pisang buatan kami cocok di lidah masyarakat. Sudah sampai ke luar Jawa, bahkan ke Malaysia. Alhamdulillah ada saja yang pesan. Mungkin karena kami tinggal di kampung, di perbukitan, jadi kondisi udara masih bersih sehingga pengeringan jadi lebih bagus,” kata Onih.

Fakta Unik dan Asal Kata Sale Pisang

Abah Ahya menambahkan sale pisang itu makanan yang tahan basi. Menurut dia, jika disimpan dengan benar, sale pisang bisa bertahan sampai 1 tahun.

“Padahal nggak pakai bahan pengawet, tapi bisa awet satu tahun. Ya paling hanya ada perubahan warna saja, jadi lebih hitam. Tapi masih bisa dimakan,” kata Abah Ahya.

Dia mengatakan sale pisang merupakan satu dari sekian banyak kreasi kuliner masyarakat, untuk memanfaatkan dengan maksimal bahan pangan atau hasil bumi yang didapat. Misalnya ketika panen pisang, tentu buah itu akan melimpah jika dibiarkan tanpa diolah sebagian besar pasti akan membusuk. Maka muncullah ide kreatif membuat sale pisang, sehingga hasil panen tetap bisa jadi stok pangan. Contoh lain, ketika ada sisa nasi yang tak termakan, orang tua dulu akan berkreasi, jadilah gendar. Begitu juga dengan bahan makanan lain yang diolah dengan tujuan untuk membuatnya lebih awet.

Kolot baheula (orang tua zaman dulu) kan begitu. Semua diulik agar makanan tidak mubazir atau supaya bisa jadi bekal perjalanan,” kata Abah Ahya.

Sementara itu terkait nama sale pisang, Ateng Jaelani (60) warga Kecamatan Sariwangi berpendapat berasal dari kata ‘nyale’. Kata ini merujuk pada aktivitas pengasapan bahan makanan di atas tungku perapian.

“Nyale atau disale itu, istilah yang mirip dengan digarang, makanan ditaruh di ‘paraseuneu’ (rak tempat menaruh kayu bakar di atas perapian). Tidak kena apinya, hanya terkena asapnya saja. Sehingga pisang itu kering, sama seperti kayu bakar, ditaruh di paraseuneu biar kering,” kata Ateng.

Dia mengatakan kosakata bahasa Sunda untuk memasak di perapian itu banyak sekali, sehingga terkadang banyak anak-anak muda yang tidak mengetahui seiring perkembangan zaman.

“Banyak istilahnya ada dibeuleum, dibubuy, diunun, digarang, disale, itu kan beda-beda makna. Digarang dan disale itu bedanya kalau digarang tanpa wadah, kalau disale pakai wadah, biasanya pakai nyiru, tampir atau ayakan,” kata Ateng.