Antara Setoran dan Sepi Penumpang, Cerita Elf Kerap Ngebut di Jalan

Posted on

Bandung

Deru mesin Elf sering terdengar melaju cepat di sejumlah ruas jalan. Bagi sebagian pengguna jalan, laju kendaraan angkutan ini kerap memicu rasa was-was. Tidak jarang, elf terlihat menyalip kendaraan lain dengan kecepatan tinggi, seolah berpacu dengan waktu di tengah lalu lintas yang padat.

Fenomena ini bukan cerita baru. Angkutan elf sudah lama dikenal memiliki gaya berkendara yang agresif. Di Terminal St Hall, para sopir elf masih setia menunggu penumpang sambil berbincang santai di sela waktu keberangkatan.

Salah satunya adalah Dadang (56), sopir elf yang sudah bertahun-tahun melayani rute Bandung-Ciamis via Panjalu. Ia tak menampik bahwa citra sopir elf yang sering ngebut memang ada di lapangan.

“Iya memang ada saja yang begitu, saya sendiri jujur pernah ya kalau nyalip khususnya dibawa kebut. Tapi kalau jalan ramai pastinya gak akan ngebut,” ujar Dadang saat berbincang dengan belum lama ini.

Menurut Dadang, gaya berkendara setiap sopir sebenarnya berbeda. Ada yang memilih santai, ada pula yang lebih agresif ketika melihat peluang di jalan.

“Jadi intinya gimana sopirnya aja,” katanya.

Dulu Pernah Ngebut demi Muatan

Dadang mengaku pernah beberapa kali memacu kendaraannya lebih cepat dari biasanya. Bukan tanpa alasan, persaingan di jalan sering membuat sopir harus berpikir cepat agar tidak kehilangan penumpang.

“Jujur dulu pernah, ngebut ya gak sampai ugal-ugalan gitu, tapi pernah ngebut,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab sopir memacu kendaraan adalah keinginan untuk mengejar kendaraan lain yang sudah lebih dulu membawa penumpang.

“Ya ngejar muatan di depan, takut keduluan orang lain,” ujarnya.

Mobil Elf di Bandung Foto: Bima Bagaskara/

Meski begitu, perasaan khawatir tetap muncul ketika membawa penumpang dalam kondisi kendaraan melaju cepat.

“Sejujurnya mah ada, makanya kalau saya pribadi cuma ngebut aja, gak sampai ugal-ugalan. Beda kan ngebut sama ugal-ugalan,” katanya.

Kini, seiring pengalaman yang semakin panjang, Dadang mengaku lebih memilih berkendara secara normal dan menyesuaikan kondisi jalan. Namun sesekali, ia tetap harus sedikit menekan pedal gas demi mengejar penumpang.

“Sekarang ya normal aja, kalau memang jalannya kosong yang agak ngebut, kalau ramai ya pelan, gak bisa juga ngebut kan,” ucapnya.

Edukasi Pengemudi Terus Dilakukan

Pengelola terminal sendiri tidak menutup mata terhadap fenomena tersebut. Kepala Terminal Tipe B St Hall, Roni Hermanto mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada para sopir agar mengemudi dengan aman.

“Kami setiap saat mensosialisasikan kepada pengemudi supaya di jalan mengemudi dengan tertib dan aman,” ujar Roni.

Ia menegaskan bahwa pengemudi angkutan umum harus mematuhi batas kecepatan yang telah ditentukan demi keselamatan penumpang maupun pengguna jalan lain.

“Kita tidak bosan memberi sosialisasi ke pengemudi agar mengemudi sesuai aturan dan tidak boleh melebihi kecepatan yang ditentukan yaitu maksimal 80 kilometer,” katanya.

Persaingan Penumpang di Jalan

Menurut Roni, salah satu penyebab sopir elf kerap memacu kendaraan adalah persaingan memperebutkan penumpang. Kondisi ini terjadi karena jumlah penumpang yang datang langsung ke terminal tidak sebanyak dulu.

“Alasannya berebut penumpang karena penumpang statis di terminalnya kurang, jadi mereka narik penumpang secara dinamis di jalan, kejar setoran juga,” ujarnya.

Di sisi lain, perubahan pola transportasi masyarakat juga ikut memengaruhi. Banyak warga kini memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.

“Penumpang turun sekali karena pengguna roda dua banyak sekali sehingga penumpang angkutan umum dan elf khususnya menurun sekali,” kata Roni.