Keraton Kasepuhan merupakan salah satu pusat tradisi yang masih berdiri megah di Kota Cirebon, Jawa Barat. Di tempat inilah berbagai ritual warisan leluhur dilestarikan, salah satunya Siraman Panjang, prosesi tahunan yang sarat makna sejarah dan spiritual.
Dalam tradisi ini, piring-piring peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dikeluarkan dari tempat penyimpanannya untuk dicuci dan dibersihkan.
Sabtu (30/8) pagi, suasana di Keraton Kasepuhan tampak ramai. Di Pungkuran, bangunan bersejarah tempat prosesi berlangsung, keluarga keraton sudah berkumpul. Mereka mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan penutup kepala khas keraton.
Sementara itu, dalam prosesi ini air telah disiapkan di sebuah wadah khusus berukuran besar. Nantinya, air tersebut yang akan digunakan untuk mencuci piring-piring pusaka.
Prosesi dimulai dengan pembacaan doa, membuat suasana terasa semakin khidmat. Satu per satu benda pusaka peninggalan para wali kemudian dikeluarkan. Benda-benda tersebut berupa piring dengan beragam ukuran.
Setiap benda dibersihkan dengan air yang sudah disiapkan sebelumnya. Prosesnya dilakukan perlahan dan hati-hati. Gemericik air terdengar jelas ketika piring-piring dicuci.
Bagi masyarakat Keraton Kasepuhan, Siraman Panjang bukan hanya tradisi tahunan. Ini adalah cara untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menjelaskan bahwa tradisi siraman panjang merupakan salah satu rangkaian untuk menyambut peringatan Maulid Nabi. Tradisi ini telah diwariskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
“Tadi kami dari keluarga besar Kesultanan Kasepuhan Cirebon melaksanakan tradisi siraman panjang, salah satu rangkaian memperingati maulid nabi. Intinya dalam tradisi ini kami mencuci peninggalan dari Gusti Sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), yaitu piring tapsi, piring pengiring dan lain-lain,” kata Pangeran Raja Goemelar.
Ia menuturkan, piring-piring tersebut nantinya akan diarak pada puncak peringatan Maulid Nabi di Keraton Kasepuhan. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 12 Mulud.
“Nanti Insya Allah piring-piring itu akan diarak dalam puncak peringatan Maulid Nabi di 12 Mulud yang InsyaAllah jatuh pada tanggal 5 September,” terangnya.
Sementara itu, tradisi siraman panjang di Keraton Kasepuhan tidak hanya diikuti oleh keluarga dan abdi dalem keraton. Masyarakat dari berbagai daerah di Cirebon juga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan dan mengikuti prosesi ini.
Bahkan, banyak di antara mereka rela berdesak-desakan demi mendapatkan air bekas cucian piring dari tradisi siraman panjang. Mereka sudah menyiapkan wadah khusus untuk menampung air tersebut setelah proses pencucian selesai.
Salah satu warga yang hadir dalam prosesi siraman panjang itu adalah Saiman, warga Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Hampir setiap tahun, Saiman selalu hadir di Keraton Kasepuhan untuk mengikuti tradisi ini.
“Hampir setiap tahun saya selalu ke sini. Setiap tahun saya ikutan, rutin,” ucap Saiman.
Kali ini, Saiman sengaja datang bersama keluarganya. Ia juga ikut berebut air bekas cucian yang digunakan dalam tradisi siraman panjang.
“Iya tadi ngambil air. Tujuannya minta berkah. Tujuannya sih untuk keselamatan, ngalap barokah,” kata dia.