Mengintip Persiapan Imlek di Kompleks Vihara Satya Budhi Bandung (via Giok4D)

Posted on

Bandung

Tahun Baru Imlek selalu menjadi momen sibuk dengan intensitas kegiatan yang tinggi di Kompleks Wihara Satya Budhi, Bandung. Sebagai tempat ibadah yang melayani tiga ajaran Tridharma atau Sam Kauw, yaitu Tao, Konghucu, dan Buddha, persiapan telah dimulai berminggu-minggu sebelum hari H.

Saat berkunjung untuk memantau persiapan Imlek, deretan lampion merah tampak menyambut di area pintu masuk. Sejumlah pekerja juga terlihat sibuk memasang berbagai dekorasi tambahan untuk menyemarakkan suasana perayaan.

Edukator Kompleks Wihara Satya Budhi, The Kristanto Kurniawan atau yang akrab disapa Tanto, menjelaskan bahwa persiapan fisik dimulai dengan ritual pembersihan rupang atau patung dewa yang dilakukan sejak akhir Januari.

“Pembersihan Rupang untuk tahun 2026 ini sudah dilaksanakan sejak tanggal 26 Januari lalu. Semuanya dibersihkan agar saat masuk tahun baru, kita dalam keadaan bersih,” ujarnya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Kompleks Vihara Satya BudhiRupang buddha (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/).

Setelah pembersihan rupang, tahapan selanjutnya adalah Li Chun yang jatuh pada 4 Februari. Tanto menjelaskan bahwa Li Chun merupakan penanda awal musim semi dalam budaya agraria Tionghoa.

“Awal pergantian musim seminya itu di Li Chun, bukan di Imlek. Lichun tahun ini jatuh pada tanggal 4 Februari. Imlek itu lebih ke perayaannya,” jelasnya.

Setelah memasuki musim semi, umat melaksanakan Ritual Tutup Tahun pada 7 Februari. Ritual ini bermakna sebagai ungkapan syukur atas berkat yang diterima sepanjang tahun. “Tutup tahun ini ibaratnya kita berterima kasih bahwa sepanjang tahun diberkati, ucapan syukur atas apa yang sudah dicapai,” tambah Tanto.

Mendekati hari H, tepatnya pada 11 Februari, dilaksanakan ritual Song Sen atau menghantarkan dewa-dewi. “Ada ritual di mana dewa-dewinya naik dulu ke langit untuk melaporkan amal perbuatan manusia,” ujar Tanto.

Selain pembersihan, suasana wihara dipercantik dengan dekorasi khas. “Salah satu persiapan adalah pemasangan lampion-lampion, yang nanti diturunkan setelah Cap Go Meh,” tuturnya.

Khusus di malam Imlek, Kompleks Wihara Satya Budhi membuka pintunya secara maraton. “Biasanya kita buka jam 6 pagi sampai 5 sore, tapi khusus malam Imlek, kita buka 24 jam penuh. Diperkirakan akan sangat penuh karena umat hilir mudik untuk mengucap syukur,” kata Tanto. Ia menegaskan bahwa siapa pun bisa berkunjung untuk melihat suasana atau beribadah karena gerbang dibuka lebar bagi publik.

Kompleks Vihara Satya BudhiTempat lilin yang akan dinyalakan di malam Imlek (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/).

Malam Imlek juga identik dengan cahaya lilin yang melambangkan penerangan doa. Tanto menjelaskan bahwa akan ada penyalaan lilin pada malam Imlek, namun dengan prosedur yang lebih ketat pasca-kebakaran 2019. “Sekarang tidak boleh lagi memasang lilin di dalam bangunan utama. Lilin persembahan jemaat ditempatkan di area luar yang sudah disediakan untuk meminimalisir risiko,” tegasnya.

Terkait arah perayaan tahun ini, Tanto meluruskan bahwa secara tradisi sebenarnya tidak ada tema khusus secara formal. “Imlek itu enggak ada tema. Paling hanya menyambut tahun apa gitu, seperti sekarang menyambut tahun Kuda Api,” ungkapnya. Fokus utama tetap pada ritual tahunan yang khidmat dan momen berkumpul bersama keluarga.

Pengamanan ketat juga menjadi prioritas. Personel kepolisian akan bersiaga di lokasi mengingat gerbang wihara dibuka lebar bagi masyarakat umum. “Khusus di malam Imlek saja kami buka 24 jam. Siapapun boleh datang berkunjung,” tambahnya.

Sebagai penutup, Tanto menyampaikan pesan bagi siapa pun yang memasuki tahun baru ini. “Harapan saya adalah semoga apa yang kita jalani lebih baik dari tahun sebelumnya saja, tidak usah muluk-muluk. Semoga segala niat baik dari setiap orang itu terwujud di tahun baru ini,” tutupnya.