Jakarta –
Iran dan Israel saling melancarkan serangan. Ratusan rudal dan drone disebut telah ditembakkan kedua pihak, menyebabkan sejumlah bangunan rusak di berbagai wilayah.
Serangan yang terus berlanjut membuat situasi di kedua negara semakin tegang. Di Iran, sebagian warga dilaporkan mulai meninggalkan ibu kota Teheran karena khawatir akan eskalasi konflik. Sementara di Israel, banyak warga memilih berlindung di bunker atau ruang bawah tanah.
Tidak hanya warga sipil, pemerintah Israel juga memiliki bunker khusus yang digunakan sebagai tempat perlindungan bagi para pemimpin negara, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dilansir dari detikProperti yang mengutip situs Modern AZ, surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Netanyahu bersama sejumlah pejabat keamanan menggelar rapat darurat untuk membahas serangan terhadap Iran.
Pertemuan tersebut dilakukan di lokasi bawah tanah guna mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Iran yang dapat mengancam keselamatan para pejabat tinggi Israel.
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para pejabat keamanan senior sedang mengadakan diskusi dan rapat di lokasi bawah tanah,” tulis laporan media tersebut.
Israel diketahui memiliki bunker yang disebut National Management Centre (NMC) atau Pusat Manajemen Nasional. Fasilitas ini berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi para menteri dan pejabat tinggi negara ketika terjadi krisis besar.
Selain sebagai tempat berlindung, bunker tersebut juga berfungsi sebagai pusat komando dan kendali pemerintah agar aktivitas pemerintahan tetap berjalan. Konsep ini dikenal sebagai continuity of government (COG), yakni mekanisme untuk memastikan pemerintahan tetap beroperasi dalam kondisi darurat.
Berbeda dengan bunker militer yang biasanya tersembunyi di lokasi terpencil, bunker pemerintah Israel ini justru berada di kawasan pusat pemerintahan di Yerusalem. Lokasinya dekat dengan sejumlah institusi penting, seperti gedung parlemen Israel Knesset, Kementerian Luar Negeri, kantor perdana menteri, serta Mahkamah Agung.
Dibangun Setelah Perang Lebanon 2006
Bunker tersebut dibangun setelah Perang Lebanon 2006, konflik selama 34 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Pembangunan fasilitas ini bertujuan melindungi para pejabat tinggi dari ancaman serangan rudal di masa depan.
Secara tampilan luar, bangunan bunker tidak terlihat seperti fasilitas militer. Bentuknya justru menyerupai museum modern yang berada di tengah kota, bahkan terletak di seberang salah satu teater terkenal di Israel.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
Struktur bunker tidak memiliki jendela dan dikelilingi dinding beton tebal. Akses masuknya terdiri dari beberapa jalur kendaraan dengan desain melingkar.
Fasilitas Lengkap di Bawah Tanah
Meski tampak kecil dari luar, sebagian besar fasilitas bunker berada di bawah tanah. Laporan media Israel menyebut sekitar 95 persen bangunan terletak di bawah permukaan tanah dan hanya dapat diakses melalui lift.
Di dalamnya terdapat ruang pertemuan besar, ruang kerja bagi perdana menteri dan para menteri, kamar tidur, hingga area kafe. Fasilitas tersebut dirancang untuk menampung ratusan orang dalam waktu lama.
Bunker itu juga diklaim mampu melindungi para pejabat dari serangan rudal hingga ancaman senjata nuklir. Menurut laporan CTech, desain fasilitas ini terinspirasi dari konsep kota bawah tanah tertutup yang dikembangkan di Amerika Serikat untuk menghadapi skenario krisis besar.
Selain untuk situasi perang, bunker ini juga pernah dimanfaatkan sebagai pusat koordinasi darurat ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Saat itu, fasilitas tersebut digunakan untuk mengelola dan memantau penanganan pandemi di Israel.
Sebagian analis menilai bunker pemerintah Israel tidak hanya dirancang menghadapi serangan militer, tetapi juga berbagai skenario krisis besar yang berpotensi mengancam keberlangsungan pemerintahan.
Artikel ini sudah tayang di detikProperti
