Mengenal Malam Lilikuran, Tradisi Sedekah Makanan Saat Lailatul Qadar - Giok4D

Posted on

Bandung

Menjelang malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, memori kanak-kanak tentang masjid dan kehidupan malamnya yang hangat muncul kembali. Malam Lilikuran, demikian orang Sunda menyebutnya, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

Pada malam lilikuran itu, surau dan musala biasanya lebih ramai dibandingkan malam-malam lain. Ini karena orang Sunda mengkhususkan iktikaf pada malam-malam tersebut. Tidak seperti kebiasaan sekarang, yang galibnya sepuluh hari terakhir penuh dilaksanakan iktikaf.

Meski hanya pada malam ganjil, tak kurang khusyuknya orang-orang. Kami membaca doa yang barangkali hanya dibaca setahun sekali berdasarkan teks kitab ‘Parukunan Sunda’. Doanya sama dengan umum: Allahumma innaka ‘afuwwun, sampai tuntas.

Tak kalah menarik, menjelang tengah malam selalu ada orang yang datang membawa makanan yang baru saja digoreng. Paling umum adalah ulen. Ulen adalah uli, yaitu kukusan beras ketan yang ditumbuk sampai halus. Cara penyajiannya, uli digoreng.

Ulen satu nampan disajikan dengan sambal oncom. Minumannya, teh tubruk hangat satu teko. Teh yang wangi gosong ketika daun itu dipanggang di pabriknya. Makanan itu menjadi amunisi untuk orang-orang yang sedang iktikaf agar melek demi meraih Lailatulqadar.

Tradisi Sedekah Makanan di Malam Lailatulqadar

Tradisi mengirimkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang sedang iktikaf di masjid masih ada sampai sekarang. Sebagian orang mengirimkan kopi atau bajigur hangat, bahkan di masjid yang lebih sehat ekonomi jemaahnya, ada saja orang bersedekah nasi lengkap dengan lauknya.

Maksudnya, agar orang-orang yang iktikaf itu bisa sekalian bersantap sahur di masjid. Dengan begitu, mereka bisa lebih lama tinggal di sana tanpa terganggu harus menyiapkan masakan sahur di rumah.

Tradisi sedekah makanan di malam lilikuran ini telah berlangsung sejak lama, bahkan telah menjadi adat istiadat orang Sunda. Menurut R. Akip Prawira Soeganda dalam buku ‘Upacara Adat di Pasundan’ (1982), tradisi berkirim makanan ini bahkan juga merambah pada konsep saling kirim kepada tetangga.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Menurutnya, pada malam lilikuran ini, berdasarkan adat kebiasaan, orang-orang memasang lampu dan bersedekah kue-kue. Ada yang dilakukan dengan cara mengundang tetangga atau teman, ada pula yang hanya berkirim makanan.

Pada mamaleman ini, banyak orang yang tidak tidur bahkan hingga larut malam. Hal ini dikaitkan dengan harapan mereka untuk mendapatkan Lailatulqadar.

Beririsan dengan Tradisi di Mataram Islam

Masyarakat Sunda sebelum era penjajahan Belanda dan Jepang, pernah dipengaruhi oleh Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Jawa Tengah. Dalam penguasaan ini, tradisi termasuk di dalamnya kesenian, tata cara keagamaan, dan bahasa dari Mataram Islam merasuk ke dalam kebudayaan Sunda.

Tak terkecuali tradisi lilikuran. Bersedekah makanan dan silaturahmi di waktu lilikuran ini memiliki irisan dengan tradisi Mataram Islam. Mengutip situs Kelurahan Bendung di Kabupaten Gunung Kidul, desabendung.gunungkidulkab.go.id, dikatakan tradisi bersedekah ini bahkan melibatkan semua orang untuk berpartisipasi.

Dalam artikel berjudul ‘Tradisi Malam Selikuran’ pada laman tersebut, diungkapkan bahwa masyarakat mempersiapkannya sejak siang hari. Makanan lalu dikumpulkan pada sore hari menjelang waktu berbuka. Setelah doa bersama dan waktu magrib tiba, yang artinya sudah masuk waktu malam 21 Ramadan, makanan disantap bersama.

“Masyarakat Jawa memperingati ‘Selikuran’ dengan acara kenduri bersama-sama. Di dalam tradisi kenduri ini terdapat beberapa nilai positif yang bisa kita ambil hikmahnya di antaranya, silaturahmi dan bersedekah. Makanan yang telah disiapkan dari rumah dikumpulkan jadi satu tempat baru diberikan sebagai ta’jil.” tulis situs tersebut.