Bandung –
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina segera tiba. Di tengah kesibukan persiapannya, ada satu kudapan khas yang tak pernah absen menghiasi meja tamu, yaitu kue keranjang.
Kue keranjang yang berasa manis dan bertekstur kenyal ini menyimpan sejarah panjang serta filosofi mendalam sejak masa lampau.
Apa Itu Kue Keranjang?
Masyarakat Indonesia sering menyebutnya dodol Cina karena tekstur dan proses pembuatannya mirip dodol lokal. Keduanya berbahan dasar tepung ketan dan gula merah, serta membutuhkan waktu berjam-jam untuk dimasak hingga mengental.
Namun, dalam tradisi Tionghoa, kue ini dikenal dengan nama Nian Gao. Secara harfiah, Nian berarti tahun dan Gao berarti kue. Bentuknya yang bulat tanpa sudut melambangkan keutuhan serta kesatuan keluarga yang tak terputus.
Sejarah Kue Keranjang
Jejak sejarah kue keranjang dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Zhou sekitar 1046-256 SM. Awalnya, kue ini bukan sekadar kudapan, melainkan persembahan sakral bagi para dewa dan leluhur.
Namun, popularitasnya sebagai makanan khas Imlek tidak lepas dari cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Terdapat dua versi cerita yang melatarbelakangi eksistensi kue ini.
Cerita pertama berkaitan dengan Dewa Dapur. Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, Dewa Dapur bertugas mengawasi perilaku setiap anggota keluarga. Menjelang tahun baru, ia akan naik ke kahyangan untuk memberikan laporan tahunan kepada Kaisar Langit.
Agar Dewa Dapur hanya melaporkan hal-hal baik, masyarakat menyuguhkan kue ketan yang sangat lengket dan manis. Harapannya, saat memakan kue tersebut, mulut Dewa Dapur terasa manis sehingga ia hanya melaporkan hal baik, serta menjadi lengket agar sulit melaporkan keburukan keluarga.
Versi lain menyebutkan bahwa kue keranjang lahir dari ketakutan terhadap makhluk buas bernama Nian. Konon, pada zaman dahulu, Nian akan turun dari gunung untuk memangsa manusia setiap akhir musim dingin.
Seorang warga desa bernama Gao mencetuskan ide untuk membuat kue dari adonan tepung ketan dan gula, lalu meletakkannya di depan pintu rumah. Ketika Nian datang, makhluk buas itu memakannya hingga kenyang dan kembali ke gunung tanpa menyakiti manusia. Sejak saat itu, penduduk desa selamat dan tradisi membuat kue ini diteruskan untuk memperingati keberhasilan tersebut.
Makna Kue Keranjang pada Perayaan Imlek
Setiap elemen kue keranjang menyimpan makna mendalam. Teksturnya yang lengket dan liat melambangkan persaudaraan yang erat. Layaknya sifat ketan yang menyatu saat dimasak, keluarga diharapkan tetap rukun, solid, dan sulit dipisahkan meskipun diterpa masalah.
Rasa manisnya merupakan simbol sukacita dan harapan. Gula merepresentasikan doa agar kehidupan di tahun baru dipenuhi dengan pengalaman manis dan kebahagiaan.
Selanjutnya, kue keranjang memiliki daya tahan yang lama. Hal ini mengajarkan tentang ketekunan, kesabaran, dan kemampuan bertahan dalam menghadapi masa-masa sulit. Terakhir, bentuknya yang bulat melambangkan siklus kehidupan yang tidak berujung serta kekompakan keluarga yang utuh tanpa sekat.
Ragam Varian Kue Keranjang
Meski di Indonesia identik dengan warna cokelat dan gula merah, sejatinya kuliner ini memiliki ragam varian berdasarkan daerah asalnya. Berikut adalah empat jenis kue keranjang:
1. Kue Keranjang Jujube
Varian ini sangat populer di wilayah utara Tiongkok, khususnya Beijing. Berbeda dengan versi selatan yang polos, kue ini menyertakan buah jujube atau kurma merah ke dalam adonan tepung ketan atau dijadikan isian.
2. Kue Keranjang Gula Merah
Ini merupakan jenis klasik yang paling akrab di lidah masyarakat Indonesia. Terbuat dari campuran tepung ketan dan gula merah, proses pengukusannya bisa memakan waktu 10 hingga 12 jam sampai warnanya berubah menjadi cokelat tua mengkilap.
3. Kue Keranjang Kincir Air
Varian ini populer di Provinsi Zhejiang. Disebut kue kincir air karena proses pembuatannya melibatkan beras yang direndam berhari-hari lalu digiling basah menggunakan kincir air tradisional. Varian ini biasanya tawar, berwarna putih, dan sering diiris tipis untuk ditumis dengan daging atau dimasak dalam sup kacang merah.
4. Kue Keranjang Kura-kura Merah
Meski secara teknis berbeda dengan Nian Gao, kue ini sering dikategorikan dalam kelompok yang sama karena fungsi ritualnya saat Imlek. Dikenal dengan nama Ang Ku Kueh, kue ini memiliki kulit kenyal berwarna merah terang dengan isian kacang hijau yang manis.
Demikian ulasan mengenai sejarah hingga macam-macam kue keranjang yang selalu hadir memeriahkan perayaan Imlek.
