Sukabumi –
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Di sudut altar Vihara Widhi Sakti, sepasang mata hijau menyala menatap tajam. Kepala singa hitam bertanduk tunggal itu tampak gagah di antara bunga dan sesaji. Warga mengenalnya sebagai Barong Gie Say-ikon yang saban Imlek mencuri perhatian umat dan pengunjung.
Barong ini telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk kategori Desain Industri Barongsai Singa Hitam Bertanduk Tunggal (Bercula). Pengakuan ini diterbitkan oleh Kementerian Hukum RI pada Juli 2025 lalu.
Sesepuh Persaudaraan Gie Say, Wan Gus Halim, menyebut barong tersebut bukan sekadar properti pertunjukan. Ia menyimpan jejak sejarah panjang dan akulturasi budaya.
“Kalau zaman dahulu itu dimulai dari perguruan silat. Mereka menggunakan barongsai untuk permainan otot. Gie Say itu akulturasi antara China dan Indonesia,” ujar Wan Gus Halim, Senin (16/2/2026).
Keunikan Gie Say tak hanya pada tanduk besarnya. Jika barongsai pada umumnya dibuat dari kertas singkong dan rangka bambu, Barong Gie Say justru dirancang menggunakan kawat baja dengan campuran kertas pembungkus semen dan kertas singkong. Hasilnya, kepala singa itu jauh lebih kokoh-sekaligus lebih berat.
“Yang lain 3 sampai 5 kilogram, Gie Say ini 12 sampai 15 kilogram. Karena berat jadi tidak bisa selincah yang lain. Pada dasarnya hampir sama, cuma kita polos,” katanya.
Menurutnya, bobot tersebut memang disengaja. Berdasarkan penuturan para tetua, barongsai itu dibuat untuk melatih kekuatan otot para pendekar. Dari situlah karakter Gie Say terbentuk-kokoh, tegas, dan berbeda.
Barong Gie Say dibuat oleh Tan Ho Sen atau yang dikenal sebagai Ncek Hwe Sio. Berdirinya persaudaraan ini disebut sudah ada sebelum 1952. Namun saat itu bentuk barongsai masih asli dari Tiongkok. Setelah model bercula diciptakan, generasi penerus menjadikan tahun 1952 sebagai acuan kelahirannya.
“Karena ini dibuat di Sukabumi dengan bentuk begini, saya cari ke pusatnya tidak ada satu pun yang mirip. Kita ambil lambang dari abu dupa, pinggirnya ada gambar singa, itu dari orang tua kita dulu,” ucap Wan Gus Halim.
Perkembangan barongsai kini kian meluas. Ada yang tetap mempertahankan tradisi, ada pula yang merambah ranah prestasi olahraga di bawah naungan KONI dan dipertandingkan hingga tingkat nasional, termasuk di Aceh.
Barong Gie Say sendiri sempat dibuat kembali pada 1957 mengikuti perkembangan zaman. Namun ciri khasnya tak berubah yaitu singa hitam dengan satu tanduk besar, berat, dan sarat makna akulturasi.
Kini, Barong Gie Say tak hanya menjadi simbol budaya di Sukabumi, tetapi juga karya yang diakui secara hukum, sebuah warisan yang lahir dari perpaduan tradisi, kekuatan, dan identitas lokal.
