Gunung Sawal di Kabupaten Ciamis dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. Kawasan hutan yang masih relatif terjaga ini menjadi habitat berbagai flora dan fauna endemik. Di antara satwa yang mendiami kawasan Gunung Sawal terdapat macan tutul Jawa yang keberadaannya berperan penting dalam menjaga ekosistem sebagai predator puncak, sebab satwa ini mengontrol populasi mangsa.
Namun, interaksi macan dengan warga yang tinggal di kaki Gunung Sawal kerap menimbulkan ancaman. Konflik antara satwa liar dengan manusia, atau yang kini disebut interaksi negatif, di Ciamis kerap terjadi.
Setiap tahun, laporan mengenai interaksi negatif satwa liar dengan manusia selalu muncul, seperti dugaan macan memangsa ternak warga maupun pertemuan langsung dengan manusia. Meskipun hingga saat ini belum pernah dilaporkan di Ciamis, manusia menjadi korban serangan macan tutul.
Baru-baru ini, puluhan ayam milik warga di Dusun Bangbayang Kaler, Blok Gondang, Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, dilaporkan mati akibat serangan hewan buas.
Sekitar 30 ayam ditemukan mati dan berserakan di sekitar kandang. Kondisi kandang yang jebol semakin menguatkan dugaan adanya serangan hewan liar. Meskipun jenis hewan yang menyerang belum dapat dipastikan, warga setempat menduga pelaku merupakan satwa liar yang turun dari kawasan Gunung Sawal.
“Masih dugaan antara anjing liar, serigala, atau macan. Namun, berdasarkan jejak kaki yang cukup besar, warga lebih cenderung menduga itu macan,” ujar Kepala Desa Bangbayang Asep Riky Darmawan.
Sejumlah faktor mendasari terjadinya interaksi negatif satwa liar, seperti macan tutul, dengan manusia. Ilham Purwa, pegiat Konservasi dari Raksa Giri Sawala, yang juga Ketua Tim Java Wide Leopard Survey (JWLS), menguraikan sejumlah faktor penyebab hal itu bisa terjadi.
“Banyak faktor yang menjadi penyebab adanya interaksi negatif macan tutul dengan manusia, tidak mutlak hanya satu faktor,” jelas Ilham.
Adapun sejumlah faktor yang saling berkaitan tersebut, mulai dari perubahan fungsi lahan, berkurangnya satwa mangsa alami, hingga pergeseran aktivitas manusia yang semakin masuk ke kawasan hutan.
Pada kondisi tertentu, macan yang tengah memburu mangsa seperti kijang atau muncak kerap mengikuti jejak hingga ke area yang lebih rendah. Ketika satwa mangsa itu lolos, macan kemudian mencium keberadaan ternak di kandang warga yang letaknya dekat hutan.
“Dengan kondisi kandang yang kurang aman, minim penerangan, serta posisi yang sengaja dibuat dekat hutan untuk memudahkan pemberian pakan, ternak menjadi sasaran yang dianggap lebih mudah. Dari situ, konflik pun tak terhindarkan,” ucapnya.
“Macan tidak salah, masyarakat juga merasa tidak salah. Di situlah persoalannya, terjadi kesenjangan,” ujar Ilham.
Ilham juga menyoroti perubahan tutupan hutan, di mana hutan produksi yang cenderung homogen, seperti pinus atau kopi kurang mendukung rantai makanan satwa liar. Sebaliknya, hutan rakyat justru lebih heterogen karena pola tumpang sari yang menyediakan banyak sumber pakan, sehingga satwa mangsa dan predator lebih betah berada di sana.
“Kondisi ini membuat kawasan hutan produksi kerap dilewati, sementara interaksi justru terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia. Di hutan rakyat, ketersediaan pakan melimpah, siklus rantai makanan berlaku. Satwa mangsa betah di situ, apalagi predatornya,” ucapnya.
Menurut Ilham, konflik satwa liar tidak bisa dilihat dari satu faktor tunggal, sehingga pemetaan melalui pemasangan kamera jebak yang telah dilakukan menjadi penting untuk memahami pola pergerakan dan penyebab utama terjadinya interaksi negatif tersebut.







