Menembus Lorong Waktu Sejarah Purba Ciletuh di GIC Sukabumi

Posted on

Angin laut dari Teluk Palabuhanratu menyapa wajah begitu pengunjung tiba di kawasan Citepus. Di sinilah berdiri gedung Geopark Information Centre (GIC), sebuah bangunan yang bukan sekadar kantor administratif, melainkan gerbang waktu untuk memahami sejarah bumi yang telah berusia puluhan juta tahun.

General Manager sekaligus Ketua Harian Badan Pengelola (BP) Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp), Aat Suwarno, menyambut ramah. Baginya, gedung ini adalah jantung edukasi.

“Selain sebagai Pusat Informasi terkait kegeoparkan, di gedung GIC terdapat semacam mini museum,” ujar Aat membuka percakapan, saat ditemui infoJabar, Rabu (31/12/2025)

Melangkah masuk ke lantai dasar tepat setelah pintu utama, suasana berubah menjadi hening dan penuh ilmu. Di sinilah harta karun Sukabumi tersimpan.

Mata pengunjung akan langsung tertuju pada deretan etalase kaca memanjang di tengah ruangan. Di dalamnya, tersusun rapi batuan-batuan purba yang menjadi saksi bisu proses subduksi atau tumbukan lempeng bumi yang membentuk Pulau Jawa.

Dinding-dinding museum dihiasi panel informasi raksasa yang menjelaskan evolusi tektonik, lengkap dengan ilustrasi bagaimana ‘Formasi Ciletuh’ terbentuk dari dasar samudera yang terangkat ke permukaan.

“Beragam kekayaan dari mulai kekayaan batuan tersaji di sana,” kata Aat.

Pengunjung dapat melihat langsung tekstur batuan metamorf, sedimen, hingga batuan beku yang biasanya hanya bisa dilihat para geolog di lapangan.

Bergeser sedikit ke sudut lain, nuansa alam liar mulai terasa. Sebuah diorama menarik perhatian, menampilkan replika fauna langka kebanggaan Jawa Barat.

Tampak seekor Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) dalam posisi waspada berdiri di samping replika bunga bangkai Rafflesia patma yang merekah merah. Di atasnya, model Elang Jawa seolah sedang mengawasi dari ketinggian.

Tidak jauh dari sana, museum ini juga menceritakan sisi harmonis manusia dengan alam melalui panel “Kawasan Budidaya”. Botol-botol kaca kecil berisi benih tanaman tertata rapi di rak kayu, memamerkan kekayaan agraris lokal seperti Hanjeli yang kini sedang digencarkan sebagai pangan alternatif khas Ciletuh, bersanding dengan rempah-rempah lainnya.

Bagian yang paling menggugah rasa ingin tahu mungkin adalah sudut Warisan Budaya Tak Benda dan Peninggalan Sejarah.

Di sini, atmosfer terasa lebih sakral. Sebuah topeng kayu dengan rambut hitam panjang terurai tergantung di dinding, memancarkan aura magis seni tradisi lokal.

Di bawahnya, sebuah guci tanah liat kuno bersanding dengan replika situs megalitik batu-batu berdiri (menhir) yang mengingatkan kita pada tradisi pemujaan leluhur di masa lampau.

“Ada pula informasi terkait kekayaan biota dan budaya,” tambah Aat. Hal ini terbukti dengan adanya etalase khusus yang memamerkan alat musik tradisional.

Tampak instrumen gesek seperti Tarawangsa atau Rebab yang terbuat dari kayu dengan ukiran detail, serta angklung buhun yang menjadi ciri khas masyarakat adat.

Panel dinding besar menceritakan kehidupan Kasepuhan Adat Banten Kidul, seperti Kasepuhan Sinar Resmi dan Ciptagelar, yang teguh memegang tradisi di tengah gempuran modernitas.

Puas berkeliling melihat koleksi fisik, Aat menyarankan pengunjung untuk tidak buru-buru pulang. “Apabila ingin mendapatkan penjelasan audio visual, pengunjung bisa meminta petugas untuk memutarkan film,” jelasnya.

Sebuah mini theater tersedia bagi mereka yang ingin melihat keindahan Ciletuh mulai dari air terjun hingga bentang alam amfiteater raksasa melalui layar lebar. Petugas pemelihara sekaligus pemandu lokal siap melayani permintaan ini.

Namun, Aat mengakui dengan jujur bahwa GIC masih dalam proses penyempurnaan. “Tentunya koleksi yang ada di sana tidak bisa dikatakan lengkap,” akunya. Keterbatasan ruang dan fakta bahwa banyak kekayaan geopark masih dalam tahap eksplorasi menjadi tantangan tersendiri.

“Ada juga indikasi sebagian kekayaan masih berserak dimiliki oleh pribadi-pribadi,” ungkap Aat dengan nada prihatin.

Ke depannya, BP CPUGGp memiliki harapan besar. Aat menekankan perlunya perluasan fisik ruangan agar benar-benar memenuhi standar museum internasional. Tak hanya itu, peningkatan kapasitas SDM para pemandu dan tenaga pendamping menjadi prioritas agar mampu menceritakan kisah epik Ciletuh dengan lebih hidup kepada dunia.

Lorong Budaya dan Mistis Leluhur

Gambar ilustrasi