Indramayu –
Salah satu desa yang lokasinya berada tepat di lereng Gunung Ciremai adalah Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus melewati tanjakan yang dikelilingi perumahan penduduk hingga perkebunan sayuran.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Karena lokasi dekat dengan mata air Cilengkrang Gunung Ciremai, Desa Sukamukti dikenal sebagai desa yang tidak pernah kekurangan air. Di sini, air dikelola lewat program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaannya.
Kepala Desa Sukamukti, Nana Mulyana memaparkan bahwa sebelum adanya program tersebut, masyarakat menggunakan air dengan sistem penampungan. Yakni, air yang berasal dari Gunung Ciremai dialirkan ke dalam bak penampungan air berukuran besar yang lokasinya ada di setiap dusun.
Satu bak air tersebut digunakan beberapa keluarga. Karena belum ada sistem otomatis, sehingga untuk pengambilan airnya sendiri masih manual dengan menggunakan selang yang dipasang dari bak menuju rumah warga. Menurutnya, karena masih manual, sistem tersebut sering mengalami kendala seperti selang yang tersumbat serta menghabiskan banyak waktu.
“Sebelum ada Pamsimas itu pakai sistem penampungan yang dialirkan pakai selang. Di mana air itu ditampung di bak masing-masing dusun. Jadi satu penampungan air itu dipakai buat beberapa keluarga. Kalau pagi itu, warga harus mengalirkan air dulu dengan menggunakan selang. Karena pake selang jadi sering tersumbat atau mampet, ribet,” tutur Nana.
Namun, setelah sistem Pamsimas digunakan di tahun 2012, sistem pengelolaan air di Desa Sukamukti menjadi semakin mudah, karena air dari lembah Cilengkrang bisa disalurkan langsung ke rumah penduduk melalui jaringan pipa yang dibangun mengikuti gaya gravitasi. Menurut Nana, hal ini memungkinkan air untuk terus mengalir dari dataran tinggi sampai ke bawah.
“Sekarang mah gampang, karena satu jalur dari atas ke bawah lewat pipa ukuran dua inci setengah, penduduk tinggal buka keran saja, langsung mengalir. Jadi merata juga, karena nggak pakai pompa dan mengandalkan gravitasi,” tutur Nana.
Suasana pertanian dan penampungan air Pamsimas di Desa Sukamukti Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/ |
Nana memaparkan, untuk satu kubik air yang keluar, warga hanya dikenakan tarif sekitar Rp 500. Menurut Nana, rata-rata dalam satu bulan warga hanya membayar iuran air sekitar Rp 7.000. Uang dari hasil iuran tersebut nantinya digunakan untuk pengelolaan Pamsimas. Nana memastikan dengan pengelolaan air tersebut, masyarakat desanya tidak pernah mengalami kesulitan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Warga desa bayar Rp 500 perak per kubik. Paling dalam sebulan rata-rata penduduk hanya bayar Rp 7.000. Itu untuk pemeliharaan saja. Hampir 1.200 rumah warga yang diairi. Ada pengurusnya khusus yang diambil dari masyarakat. Yang tugasnya memelihara dan melakukan penagihan. Nggak pernah kekeringan, paling debit airnya berkurang kalau Lebaran, karena banyak yang pakai, habis itu normal lagi,” tutur Nana.
Di bidang pertanian, Desa Sukamukti juga memiliki pengelolaan airnya tersendiri. Nana memaparkan, karena lokasinya paling dekat dengan sumber mata air Lembah Cilengkrang, Desa Sukamukti menggunakan sistem pembagian air di musim kemarau untuk mencegah kekeringan di desa sekitarnya. Yakni, dalam satu minggu, air akan digilir untuk tiga desa.
Menurutnya, pembagian air untuk pertanian saat musim kemarau tersebut sudah dilakukan masyarakat desa secara turun temurun sebagai bentuk kebersamaan antar masyarakat desa. Ketika musim kemarau sudah berhenti, sistem pembagian air juga ikut terhenti.
“Ketika musim kemarau itu dibagi. Jadi tiga hari air mengalir di Sukamukti, dua hari Pejambon dan dua hari Gandasoli. Jadi tertib. Itu sejak zaman nenek moyang sudah gitu. Konsep berbagi itu sudah ada, rutinitas dan agenda tahunan. Biasanya dilakukan di bulan Agustus, September, Oktober. Ketika musim hujan lagi, sudah pembagiannya berhenti,” tutur Nana.
Mata air Cilengkrang yang mengalir ke Desa Sukamukti, Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/ |
Karena pengelolaan air yang baik tersebut, pada tahun 2014, Desa Sukamukti mendapatkan penghargaan sebagai desa yang berhasil mengelola air dengan baik dan mendapatkan Hadiah Insentif Kabupaten (HIK) berupa gratis pemasangan meteran air untuk 100 rumah warga.
“Tahun 2014 dapat Kategori desa berhasil dengan pengelolaan air dan dapat Hadiah Insentif Kabupaten (HIK) untuk warga, gratis pemasangan meteran untuk 100 warga. Harapannya sih masyarakat menjadi semakin makmur, sejahtera, aman dan terkendali situasinya,” tutur Nana.
Sementara itu, salah satu petani sekaligus warga Desa Sukamukti Dadi (42) memaparkan bahwa dengan adanya sistem pengairan tersebut membuat lahan sayuran miliknya tetap bisa dipanen meski di musim kemarau. Sehingga untuk pertanian sendiri tidak pernah mengalami kekeringan.
“Saya petani sayuran campuran kayak seledri, sawi, pakcoy, bawang daun, buncis dan kacang panjang. Dalam setahun kayak sawi produksi bisa sampai lima kali, empat kali panen. Debit airnya langsung ke Cilengkrang. Di sini ada bendungan untuk tiga desa Pejambon, Gandasoli, Sukamukti, nggak pakai pipa tapi langsung pakai saluran irigasi. Jadi pas kemarau aman,” ujar Dadi









