MBG di SMP Sukabumi Dibagikan ala Prasmanan, Begini Faktanya

Posted on

Sukabumi

Momen tak biasa terjadi saat pembagian Makan Bergizi Gratis di SMP Negeri 04 Kota Sukabumi. Ratusan siswa tak lagi menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam ompreng seperti biasanya.

Mereka mengantre membawa piring dan sendok masing-masing, berdiri rapi di depan meja-meja prasmanan yang disiapkan khusus di beberapa ruang kelas. Suasana itu menjadi bagian dari rangkaian Expo dalam perayaan milad ke-47 SMPN 04. Di balik konsep yang sempat viral tersebut, ada sejumlah fakta menarik.

Wakasek Humas SMPN 4 Kota Sukabumi, R. Niske Dewintania menjelaskan, ide prasmanan bukan murni dari sekolah. Konsep itu justru ditawarkan pihak dapur penyedia MBG.

“Sebetulnya ini inisiasi pihak dapur karena dapur sudah pernah memberlakukan hal ini di SMA 2. Kebetulan kita ada event Expo dalam rangka milad ke-47, pihak dapur menawarkan, ‘Bu, bagaimana kalau biar anak nggak bosan, kita bikin seperti di SMA 2, model prasmanan.’ Akhirnya kita coba,” ujarnya saat ditemui , Senin (23/2/2026).

Sekolah kemudian mengajukan surat permohonan ke SPPG Karamat, mencantumkan jumlah siswa, skema lokasi, hingga teknis pelaksanaan. Setelah disetujui, dilakukan rapat bersama pihak dapur sebelum uji coba digelar.

“Awalnya coba-coba saja, nggak ekspektasi bakal heboh seperti ini,” katanya.

Sudah Hampir Setahun Terima MBG

Niske menyebut, SMPN 04 sudah hampir satu tahun menerima program MBG, sejak Februari tahun lalu hingga sekarang. Biasanya, pembagian dilakukan menggunakan ompreng agar lebih praktis dalam waktu istirahat yang terbatas.

ScreenshotWakasek Humas SMPN 4 Kota Sukabumi, R. Niske DewintaniaScreenshotWakasek Humas SMPN 4 Kota Sukabumi, R. Niske Dewintania Foto: Siti Fatimah/

Namun konsep prasmanan memberi pengalaman berbeda bagi siswa. Responsnya pun di luar dugaan.

“Alhamdulillah responsnya positif. Mungkin karena baru juga buat mereka, jadi ketika dibuat seperti ini mereka antusias,” ucapnya.

930 Siswa, 4 Meja Prasmanan

Jumlah siswa yang mencapai 930 orang menjadi tantangan tersendiri. Sekolah menyiapkan empat ruang kelas khusus untuk jalur prasmanan: masing-masing untuk kelas 7, kelas 8, kelas 9, dan guru.

Setiap titik dibuat jalur masuk dan keluar agar antrean tidak bertabrakan. Dalam satu meja prasmanan, terdapat sekitar empat petugas dari SPPG yang langsung membagikan makanan ke piring siswa.

“Satu meja itu ada sekitar empat orang petugas SPPG. Kalau anak ambil sendiri takutnya ada yang ambil banyak, nanti porsinya tidak seimbang. Jadi pendistribusiannya dikelola pihak dapur,” jelasnya.

Sekolah sendiri hanya menyiapkan ruangan dan mengondisikan siswa. Soal higienitas sepenuhnya menjadi tanggung jawab dapur, mulai dari penggunaan masker, sarung tangan, hingga test food sebelum makanan dibagikan.

“Test food itu sudah berjalan sejak November tahun kemarin, bahkan untuk MBG harian pun selalu ada,” tambahnya.

Antrean Lebih dari Satu Jam

Meski berjalan lancar, pelaksanaan prasmanan bukan tanpa kendala. Waktu menjadi tantangan utama. Dari siswa pertama mengantre hingga selesai, durasinya bisa lebih dari satu jam.

“Kita buat tiga jalur saja waktu itu tetap cukup terkendala. Ada kondisi anak-anak kelamaan menunggu sampai pukul-pukul piring,” katanya.

Selain itu, siswa diwajibkan membawa piring dan sendok sendiri karena tidak menggunakan ompreng. Sosialisasi sudah dilakukan sejak empat hari sebelumnya agar tidak ada yang lupa.

Kendala lain muncul saat antrean memanjang hingga ke lapangan. Jika hujan turun, pengondisian harus ekstra ketat. Semua wali kelas turun tangan mengatur barisan.

“Namanya juga anak-anak, ada yang pengin cepat-cepat. Jadi harus benar-benar dikondisikan satu baris satu baris,” ujarnya.

Efektif untuk Event, Belum Tentu Harian

Melihat durasi antrean yang panjang, Niske mengakui konsep prasmanan sulit diterapkan setiap hari. Waktu istirahat siswa hanya sekitar 30 menit, sehingga sistem ompreng dinilai jauh lebih efektif untuk kegiatan belajar mengajar reguler.

“Kalau pembelajaran biasa sehari-hari kemungkinan besar tidak memungkinkan. Kita terkendala waktu,” katanya.

Namun untuk momen khusus seperti buka bersama atau event sekolah, konsep ini masih terbuka kemungkinan diterapkan kembali.

“Kalau nanti disepakati ada kegiatan buka bersama, mungkin kita akan bekerja sama lagi dengan pihak dapur buat proses prasmanan lagi. Tapi ini masih rencana,” ujarnya.

Saat Ramadan, pihak sekolah juga berencana meminta menu yang lebih kering agar tidak mudah basi, seperti yang dilakukan tahun sebelumnya.

Di balik antrean panjang dan riuh siswa yang tak sabar, MBG prasmanan di SMPN 4 Sukabumi menjadi pengalaman baru yang membekas. Bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga tentang belajar tertib, sabar, dan berbagi porsi secara adil.