Majalengka –
Gerakan “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan langkah konkret. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait melepas pengiriman ribuan genteng dari Kabupaten Majalengka untuk mendukung pembangunan rumah subsidi di sejumlah daerah.
Sebanyak 14 truk bermuatan genteng yang telah dipesan pengusaha perumahan dilepas langsung oleh Maruarar. Genteng tersebut diproduksi dari sentra industri di wilayah Jatiwangi yang dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan genteng tanah liat di “Kota Angin”.
Total genteng yang dikirim mencapai sekitar 75.000 unit. Dari jumlah tersebut, empat truk dikirim ke wilayah Bogor, empat truk ke Serang, dan sisanya untuk kebutuhan di Majalengka.
Maruarar mengatakan, pengiriman tersebut merupakan bagian awal dari upaya menerjemahkan arahan Presiden Prabowo terkait penguatan industri genteng lokal sekaligus mendukung program pembangunan rumah bagi masyarakat.
“Dan juga menyusul ada transaksi, tadi totalnya Rp3 miliar ditambah 10 truk. Tolong dipersiapkan kualitasnya. Kalau yang dari saya 10 truk untuk (kebutuhan) TNI,” kata Maruarar saat kegiatan pelepasan pengiriman genteng di Majalengka, Rabu (11/3/2026).
Menurut Maruarar, gerakan gentengisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan rumah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat daya saing UMKM di sektor bahan bangunan.
“Kita harus buat sesuatu yang real buat rakyat kita, dan UMKM kita harus dididik punya daya saing yang tinggi. Kualitasnya, SNI-nya, daya saingnya, estetikanya, harganya semuanya, supaya arahan Presiden Prabowo bisa kita terjemahkan dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program ini telah dipersiapkan sejak sekitar dua bulan lalu melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga kementerian terkait dan perbankan.
“Beliau (Presiden) menyampaikan kurang lebih dua bulan lalu, kemudian kita persiapkan dengan sebaik-baiknya berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, kementerian kami, hingga perbankan,” ucapnya.
Maruarar menegaskan, kebutuhan genteng untuk program perumahan sangat besar. Namun, menurutnya, tantangan utama bukan pada permintaan, melainkan kesiapan produsen dalam menjaga kualitas.
“Jangan ragukan soal kebutuhan, karena kebutuhannya banyak sekali. Tapi bagaimana kualitas kita supaya bisa unggul dan terpercaya. Itu tantangan yang harus kita kerjakan bersama,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku usaha genteng, mulai dari aspek mentalitas, teknis produksi hingga pemasaran. “Kita didik mentalitasnya, teknisnya, keuangannya, marketingnya supaya bagus,” ujar dia.
Maruarar menilai, industri genteng Jatiwangi memiliki potensi besar karena merupakan bagian dari kearifan lokal yang sudah lama menjadi identitas daerah. “Oh pasti dong, ini kan kearifan lokal, bagian dari kultur,” katanya.
Ia berharap, kualitas produk genteng dari Majalengka dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembang perumahan. “Bukan soal atensi kepada pengusaha perumahan, tapi bagaimana supaya ini berkualitas, harganya bagus, sehingga mendapat perhatian,” ucapnya.
Menurut Maruarar, jika kualitasnya terjaga, genteng dari Jatiwangi berpotensi menjadi magnet bagi pasar yang lebih luas, termasuk di Jawa Barat. “Kita lihat tadi kualitasnya. Kalau kualitasnya bagus, itu akan jadi magnet,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan, proses pengembangan industri genteng tidak bisa instan. “Proses ini baru dimulai sekarang, tidak ada yang instan,” pungkasnya.







