Manis Kecap Junti Khas Indramayu yang Tembus Pasar Mancanegara

Posted on

Di balik manis gurih masakan khas Indramayu, terselip peran penting kecap tradisional yang sudah puluhan tahun menemani dapur-dapur rumah makan.

Salah satunya adalah Kecap Kijang Emas, atau yang lebih akrab disebut Kecap Junti, produk unggulan UMKM milik Ade Sutadi (40) dan keluarganya di Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.

Usaha keluarga ini sudah cukup lama. Kecap Junti telah diproduksi secara turun-temurun sejak 1962, diwariskan dari generasi ke generasi dengan resep yang nyaris tak tersentuh perubahan.

Generasi pertama di keluarga Ade Sutadi adalah nenek dari istri, kemudian dilanjutkan orang tua dari istri, dan sampai di tangan Ade sebagai generasi ketiga.

Baru pada awal 2021, produk ini resmi mengantongi legalitas, membuka jalan untuk bersaing lebih luas di pasar modern, tanpa meninggalkan identitas tradisionalnya.

Desa Juntinyuat sendiri memang lekat dengan aroma kecap. Menurut Ade, terdapat puluhan pembuat kecap yang menjadikan desa tersebut sebagai salah satu sentra kecap tradisional di Indramayu.

“Selain kami, ada banyak pembuat kecap di sini. Ini sudah jadi ciri khas desa kami. Harapan saya, ke depan Junti tidak hanya dikenal karena pantainya, tapi juga karena kecapnya,” ujar Ade kepada infoJabar, saat ditemui di rumahnya pada Rabu (21/1/2026).

Sebagai produk warisan leluhur, Kecap Kijang Emas tetap setia pada proses tradisional. Seluruh tahapan produksi dilakukan secara manual demi menjaga cita rasa autentik yang sulit ditandingi metode modern.

“Proses pembuatan kecap memakan waktu hingga 12 jam, itulah sebabnya produksi hanya dilakukan satu hari dalam sepekan,” katanya.

Bahan baku pun tidak sembarangan. Kedelai hitam dan gula diperoleh dari Toko Kelapa Sari di Cirebon, tempat yang telah menjadi langganan keluarga sejak dulu.

“Sekarang tokonya sudah dikelola cucu pemilik lama. Pernah saya coba bahan dari daerah lain, tapi rasanya tidak bisa menyamai bahan yang biasa kami pakai,” ungkap Ade.

Selain bahan baku, proses fermentasi menjadi kunci kualitas. Ade menjelaskan, fermentasi yang tidak sempurna bisa berdampak fatal.

“Kalau prosesnya salah, kecap yang sudah dikemas bisa meledak setelah dua tahun,” katanya.

Namun, kata Ade, setelah melalui uji laboratorium di Bandung, Kecap Kijang Emas dinyatakan tidak memiliki masa kedaluwarsa, hanya mencantumkan keterangan “best before” sebagai panduan kualitas terbaik.

Dalam satu siklus produksi, Kecap Junti mengolah lebih dari satu kuintal kacang kedelai hitam.

Produk ini kemudian didistribusikan ke berbagai rumah makan di Indramayu, salah satunya Rumah Makan Ikan Bakar Perdut, yang secara rutin menerima pasokan 40 liter kecap setiap pengiriman, juga di tempat-tempat lainnya di Indramayu dan luar daerah.

Dari sisi harga, Kecap Kijang Emas tergolong ramah di kantong. Botol kecil dijual seharga Rp15 ribu, sementara ukuran 300 ml dibanderol Rp25 ribu.

Diceritakan Ade, semua ini bermula ketika Presiden RI ke-2, Soeharto, yang memiliki program pemberdayaan sekitar tahun 1962, menekankan setiap desa memiliki produk unggulan.

Hal tersebut guna kemandirian ekonomi rumah tangga, juga menciptakan lapangan kerja bagi penduduk setempat.

Tanah di Juntinyuat yang mendukung untuk ditanami kacang kedelai hitam, membuat masyarakat ingin menjadikan kecap sebagai produk unggulan di desa tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai berhenti menanam kacang kedelai hitam karena tidak memiliki target pasar, hingga akhirnya beralih ke tanaman padi.

Meski demikian, masyarakat tetap memproduksi kecap dengan kacang kedelai hitam dipasok dari daerah lain.

Ade menceritakan bahwa dirinya pernah merugi sebab pasokan kacang kedelai hitam tidak kunjung datang.

“Beli kacang kedelai duitnya diambil, barangnya nggak datang,” katanya.

Sedangkan penjualan pada generasi pertama hanya mengandalkan sepeda berkeliling ke rumah-rumah warga, hingga warung makan.

Ketekunan membuat kecap akhirnya berbuah manis. Sekitar 1970-an Kecap Junti mulai dikenal luas, setidaknya di Kabupaten Indramayu.

“Pernah sampai memasok ke Patrol, terus di pasar Patrol berkeliling desa hingga ke Sukra bahkan nyebrang ke Subang,” ucap Ade, menceritakan penjualan kecap di generasi pertama.

Penghasilan dari kecap ternyata mampu menghidupi keluarga dari hari ke hari. Sampai berpindah tangan ke generasi ketiga sekitar tahun 2000-an.

Di tangan ketiga, Ade mulai berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Ia berupaya agar kecapnya masuk pasar nasional hingga ke mancanegara.

Uji laboratorium, label halal, hingga BPOM sudah ia tempuh. Kecap Junti kini sudah masuk ke hotel dan kantor DPRD Indramayu sebagai salah satu hampers.

Kemudian juga dititipkan di pusat oleh-oleh yang ada di Kuningan, Kabupaten/Kota Cirebon, Majalengka, Subang, Brebes, Tegal, dan sekitarnya. Kemudian merambah daerah ibukota hingga ke mancanegara negara lewat pahlawan devisa.

“Paling kalau ke luar negeri itu Singapura dan negara-negara lain, lewat TKI dan TKW yang pernah pulang dan berangkat lagi bawa barang dari kita, bawa 1 dus isi 20 botol (sekali bawa) ” ujar Ade.

Di tangan Ade, dengan kemasan yang higienis dan rasa khas yang konsisten, kecap ini tetap diminati pelanggan lama maupun konsumen baru.

Lebih dari sekadar bumbu dapur, Kecap Junti menjadi simbol keteguhan menjaga tradisi di tengah arus modernisasi.

“Ada kebanggaan tersendiri bisa mempertahankan kecap tradisional, mohon doanya agar saya bisa terus bertahan dan menjadi pengusaha yang sukses. Bayangan saya ke depan, Junti benar-benar menjadi sentra produksi kecap,” pungkas Ade.

Kecap Kijang Emas yang kini sudah mendapat legalitas dari berbagai pihak pun tak hanya menjadi kebanggaan Desa Juntinyuat, tetapi juga bukti bahwa kearifan lokal -jika dijaga dengan sepenuh hati- mampu bertahan dan berkembang melintasi zaman.

UPAYA MEMPERTAHANKAN KECAP JUNTI

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi