Makna Bunga 7 Rupa Ditabur dalam Tradisi Nyadran

Posted on

Bandung

Nyekar, nadran, atau nyadran di tanah Jawa, termasuk di Jawa Barat, identik dengan bunga tabur dengan perpaduan kembang tujuh rupa. Penggunaan tujuh jenis bunga ini bukan estetika belaka, melainkan memiliki makna sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan keharuman doa bagi mereka yang telah mendahului kita.

Tradisi ini memang bagian dari ‘sinkretisme’ dari agama-agama terdahulu di nusantara. Namun, jika diresapi, asas-asas nyadran menemukan dasarnya dari ajaran Islam, termasuk dalam perkara tabur bunga.

Apa saja makna bunga 7 rupa dalam tradisi nyadran? Simak artikel ini yuk!

Nyadran atau Nyekar Menurut Islam

Dikutip dari berbagai sumber, bahwa menaburkan bunga atau meletakkan tanaman basah di atas kuburan menurut pandangan mayoritas ulama hukumnya diperbolehkan. Hal ini dikaitkan dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW pernah meletakkan pelepah kurma basah di atas kuburan untuk meringankan siksa ahli kubur selama tanaman itu belum kering

Bukan sekedar menabur bunga, bahkan menurut situs Majelis Ulama Indonesia (MUI), hadits tentang pelepah kurma itu bisa dimaknai sebagai upaya menanam tanaman yang ukuran tumbuhnya wajar di kuburan.

“Menanam tanaman di atas makam hukumnya adalah sunnah. Keberadaan tanaman tersebut juga dapat meringankan siksa kubur bagi si mayit.” tulis situs tersebut.

Makna Bunga 7 Rupa yang Ditaburkan Saat Nyadran

Dikutip dari unggahan berjudul ‘Untuk Jenis dan Makna dari Bunga Tujuh Rupa’ di situs Scribd, oleh Nabila Fahmia (21 Februari 2021) dan sejumlah sumber lain, dikatakan bunga tujuh rupa melambangkan berbagai makna, mulai dari hubungan yang tidak terputus hingga kondisi sejahtera.

1 Bunga Kantil

Bunga ini memiliki arti memiliki jiwa spiritual yang kuat untuk meraih sukses lahir maupun batin. Nama lain bunga ini adalah Cempaka Putih.

Sedangkan nama ‘kantil’ berasal dari kata ‘kemantil-kantil’, yang artinya selalu teringat atau selalu lengket. Ini melambangkan hubungan kasih sayang antara yang hidup dan yang sudah meninggal agar tidak pernah putus meskipun beda alam.

2. Melati

Melati melambangkan seseorang dalam melakukan tindakan selalu melibatkan hati (kalbu). Bunga putih kecil yang harumnya sangat khas ini wajib ada dalam wadah kembang tujuh rupa.

Bunga melati melambangkan kesucian hati. Menggunakan melati saat Nyadran berarti peziarah datang dengan hati yang bersih dan niat yang tulus untuk mendoakan almarhum/almarhumah.

3. Kenanga

Bunga yang wangina ‘kalem’ ini merupakan simbol dari generasi penerus leluhur. Bunga dengan kelopak kuning kehijauan yang tampak ‘layu’ ini harumnya memberikan nuansa tenang di area pemakaman.

Kocap tercerita, kenanga diambil dari kata ‘keneng-a’, yang berarti ‘capailah’. Harapannya, seluruh warisan kebaikan dan ajaran luhur dari leluhur dapat dicapai atau diteruskan oleh generasi berikutnya.

4. Mawar

Bunga mawar putih melambangkan ketentraman, sejahtera, dan damai. Bunga ini merupakan komponen utama bunga tabur. Mawar merah melambangkan keberanian dan cinta, sedangkan mawar putih melambangkan kesucian dan ketulusan.

5. Bunga Sedap Malam

Meskipun tidak selalu ada di setiap daerah, sedap malam sering menjadi pilihan karena aromanya yang menenangkan. Pilihan bunga ini memang sedikit merogoh kocek. Satu tangkainya bisa mencapai Rp15-25 ribu jika sedang ramai pembeli.

Bunga ini melambangkan ketenangan dan keharmonisan. Penggunaannya diharapkan dapat memberikan suasana damai saat keluarga berkumpul untuk berziarah.

6. Cempaka Kuning

Bukan saja mirip dengan kantil (cempaka putih), namun bunga ini memang jenis cempaka namun berwarna kuning keemasan. Cempaka kuning melambangkan kemuliaan. Mengirimkan doa dengan bunga ini adalah simbol harapan agar mendiang mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

7. Irisan pandan

Daun pandan, selain sering digunakan sebagai bumbu untuk membuat wangi masakan manis, juga digunakan untuk kepentingan mendoakan ahli kubur. Meski secara botani bukan bunga, irisan daun pandan adalah elemen wajib dalam campuran kembang tujuh rupa di Indonesia.

Aroma segar daun pandan berfungsi sebagai penyeimbang bau bunga lainnya. Secara filosofis, hijau daun pandan melambangkan kesegaran dan kehidupan yang kekal di alam sana. Menabur irisan daun pandan ini bermaksud sebagai bukti bahwa sesungguhnya hubungan cinta kasih dan rasa hormat dari keluarga yang masih hidup kepada almarhum.

Halaman 2 dari 2